Hillbilly Girl

Hillbilly Girl
Ayah


__ADS_3

Sepulang sekolah aku menemui uma, dan menyalami tangannya, aku tinggal dirumah kecil dengan kedua adik kembar ku Alvan dan Alvin, mereka masih duduk di kelas 5 SD. uma menatapku lama, mungkin dia sadar mataku sedikit bengkak akibat menangis, tapi uma hanya diam.


uma memang biasa melihatku seperti itu, tak perlu di pertanyakan lagi. baru hari pertama sekolah sudah sesedih ini bagaimana nanti kedepannya? hatiku mulai resah apakah aku sanggup untuk lanjut sekolah disana atau aku akan gagal. aku berniat untuk tetap kuat bagaimanapun caranya, karna pak Hamzah lah yang menyekolahkan ku disana, karna pak Hamzah tau ayahku tak sanggup membiayai sekolahku belum lagi kedua adik kembarku.


"Hanna kemari sebentar nak!"


panggil ayah dari halaman rumah, ayah tampak lelah keringatnya bercucuran dan wajahnya mengerut. ayah kemudian duduk sambil menikmati secangkir kopi dan singkong rebus setelah meersihkan mobil pak Hamzah.


"gimana nak sekolahnya? kalau kamu gak betah sekolah disana ayah akan berusaha memindahkan kamu ke sekolah yang biasa saja"

__ADS_1


kata ayah dengan lemah lembut dan tersenyum aku menatap kedua bola mata ayah ada rasa sedih dalam benakku, kapan aku bisa membahagiakannya? aku tau dibalik senyumnya yang ikhlas ada rasa lelah dan ayah mencoba menutupinya dan berusaha membuatku bahagia.


"ngak kok ayah, Hanna senang sekolah disana ada banyak teman teman yang baik juga, Hanna gak sendiri yah"


jawabku meyakinkan ayah. akupun mulai memijat tangannya yang lelah sambil mengobrol aku memperhatikan mata ayah yang memerah, bagaimana tidak semalaman ayah tidak tidur karna bekerja sebagai supir pak Hamzah yang kebetulan tugas diluar kota.


"pijatan kamu enak nak, nanti kalau ayah gajian ayah janji akan belikan kamu mesin jahit"


"gak usah ayah, mesin jahitkan mahal, nanti kalau ayah gajian hutang sama pak Hamzah aja dulu di lunasi "

__ADS_1


jawabku, dan tiba tiba ayahpun tertidur. aku menatap kembali ayah kakinya agak membengkak, kulitnya kering dan kasar, hatiku begitu sakit melihat keadaannya yang berjuang untuk kehidupan kami. syukurlah pak Hamzah orangnya baik dan sangat dermawan dan selalu menolong kami yang kesusahan.


***


malam ini pak Hamzah mengundang kami sekeluarga makan dirumahnya, pak Hamzah sangat menyukai keluarga kecil kami, sejak ayah bekerja lebih dari lima tahun yang lalu dengan pak Hamzah, baru kali ini kami sekeluarga di undang ke rumahnya. dan baru dua bulan ini uma juga bekerja sebagai ART di rumah pak Hamzah, malam ini sangat berkesan bagi pak Hamzah karna mengingat putra bungsunya yang bernama Raka berulangtahun.


Raka adalah kakak kelasku di SMA baruku, dia orangnya introvent dan sangat berprestasi, tak heran banyak cewek cewek yang naksir padanya selain wajahnya yang tampan dan kepintarannya di sekolah, dan tentunya dia tak mengenaliku sama sekali. pak Hamzah memiliki dua orang putra pertama Bagas yang sekarang kuliah di Jerman dan yang kedua Raka. istri pak Hamzah telah lama meninggal ketika Raka masih duduk di Sekolah Dasar. istrinya meninggal karna kecelakaan pesawat saat hendak menuju Bangkok untuk urusan bisnis.


aku agak ragu dengan ajakan makan malam ini, tapi melihat semangat pak Hamzah membuatku luluh, ada rasa segan untuk menolaknya, karna bagaimana pun pak Hamzah yang membantu biaya sekolahku dan akhirnya akupun menyanggupi undangan itu

__ADS_1


 


__ADS_2