
aku semakin resah menunggu kabar dari Raka, aku tak sengaja melempar bolanya dan bagaimana aku bisa mengatakan yang sejujurnya pada pak Hamzah, Raka masih merasakan sakit dan baru sadarkan diri anak anak menunggu giliran untuk menjenguknya dan tiba tiba pak Hamzah dan ayahku datang kesekolah atas panggilan dari kesiswaan.
"gimana keadaan Raka?"
tanya ayah tiba tiba sedangkan pak Hamzah langsung menemuinya ke uks, ayah langsung menarik tangan ku dengan kasar, ayah mungkin mengiraku sengaja melempar Raka,
"apa yang kamu lakukan nak? ayah gak pernah ngajari hal buruk padamu, kenapa kamu tiba tiba begini?"
ucap ayah sedih, terlihat kekecewaan di wajah ayah, tanpa sadar aku meneteskan airmata.
"ayah percayakan sama Hanna? mereka kejam ayah, mereka terus terusan membully ku,"
lisan ku dalam hati tanpa mengatakan yang sebenarnya, ayah yang teramat kecewa tidak bisa tenang karna khawatir dengan keadaan Raka.
"ayah, maafkan Hanna, Hanna gak sengaja melempar Raka, Hanna cuma mau balas kejahatan Bima"
ucapku membela diri, ayah memang mempercayaiku sepenuhnya, tapi ayah kecewa dengan sikapku kali ini
"ayah cuma mau kamu jadi anak baik nak, jangan balas mereka yang memakimu biarkan saja sampai mereka lelah, ayah gak mau Hanna jadi pendendam"
nasehat ayah padaku, dia hanya tau kalau aku dimaki tanpa tau kalau mereka juga melukai fisikku, aku hanya diam dan mencoba tenang.
setelah keluar dari ruang uks pak Hamzah menemuiku, aku hanya bisa meminta maaf. untungnya pak Hamzah memakluminya dan memaafkan ku
__ADS_1
"maafkan Hanna pak, tolong jangan keluarkan Hanna dari sekolah ini. Hanna janji akan menerima hukuman apa saja dari bapak"
ucapku sambil memohon, pak Hamzah hanya tersenyum fan mengusap kepalaku dengan lembut.
"tidak apa apa nak, bapak tau kamu tidak sengaja, lagian Hamzah udah baikan tidak ada luka serius"
kata pak Hamdan, aku sedikit tenang mendengar ucapan pak Hamdan, aku menangis dan berterimakasih padanya.
***
aku merasa pasrah dan ingin mengakhiri hidupku saja, tak ada gunanya aku hidup fikirku, semua orang tidak adil, mereka menentang kebenaran hanya karna status dan jabatan, padahal ini bukan sepenuhnya salahku aku mencoba menaiki rooftop dan berdiri melewati batas pagar
"ayo lompat"
"Hanna?"
panggilnya, aku heran kenapa dia mengenaliku, padahal aku sama sekali tak mengenalinya, dia tersenyum padaku dan mencoba menghiburku
"kamu tak mengenaliku? aku adalah anak dari masa depanmu"
ucapnya dengan candaan dan membuatku tertawa kecil.
"kamu becanda"
__ADS_1
jawabku singkat. dia membawakanku sebuah kursi dan mempersilahkanku duduk, tak lupa dia memberikan sebotol air mineral padaku.
"tenangin dirimu, aku tau kamu lelah, tapi apakah menurutmu mati solusi yang tepat?"
tanyanya untuk menyadarkanku, aku memang tak mengenali lelaki ini, tapi jujur ini adalah pertama kalinya dalam hidupku ada lelaki satu sekolahku yang mau menyapaku bahkan mencoba menghiburku dengan candaannya.
"kenapa kamu bisa mengenaliku?"
tanyaku penasaran, dia lagi lagi tersenyum kecil dan membuat wajahnya begitu manis dengan lesung pipinya. aku sedikit kagum melihatnya saat dia melemparkan senyuman manisnya.
"biar aku jawab, Hanna aku sudah lama mengenalmu, aku ingat waktu kamu SMP di halte bus ada segeng cewek datang membully mu?"
tanyanya mengingatkan ku, aku berfikir sejenak, dan benar aku selalu dibully, dimanapun dan kapanpun itu.
"saat itu hujan sangat deras mereka mendorongmu ke tengah hujan yang deras dan membuatmu basah kuyup, kamu tidak tau siapa yang memberimu payung?"
ucapnya lagi, aku berfikir keras dan ingat bahwa kejadian yang dikatakannya itu pernah aku alami ketika Dira dan gengnya mencoba membuatku basah hingga sakit, memang saat itu ada seseorang yang memberikan payung, tapi aku tak mengetahui siapa yang memberikannya, karna dia langsung pergi.
"aku Dana, lelaki yang memberikan payung padamu waktu itu, aku sering memperhatikanmu. bahkan sampai saat ini"
sambungnya lagi, seketika aku terdiam merasakan hal yang aneh, apakah ini mimpi? ternyata masih ada yang memperhatikanku selama ini fikirku. Dana langsung menyadarkan lamunanku,
"aku rasa kamu ingat, oh ya aku cabut duluan ya sampai ketemu"
__ADS_1
Dana pun berpamitan dan meninggalkanku, aku yang tadinya sedih merasakan getaran yang tiba tiba datang ke tubuhku seperti kesetrum, tapi tak mungkin dia bisa sebaik itu padaku gadis hillbilly yang banyak di benci orang.