Homogen

Homogen
Ekskul penelitian


__ADS_3

Kenapa sih dari sekian banyak anak kelas Bima harus pilih gue buat ngajak dia jalan jalan di sekolah ini?!


"Ini ruangan ekskul seni Bim, kalo lo mau ikut ekskul seni lo bisa ke Tita," jelas gue ke Bima gak tau dia dengerin atau engga yang penting gue udah jelasin.


Gue berjalan lurus menuju ke ruangan ekskul penelitian. "Ini ruangan buat ekskul penelitian, kalo lo mau masuk ke ekskul ini bisa bilang ke Keyla." Gue memperhatikan Bima, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. "Kalo bisa lo gak usah masuk ke sini," sambung gue.


"Emang kenapa?" Tanya Bima.


"Gue gak mau terima lo."


"Udah fikirin mau ikut ekskul apa?" Tanya gue.


"Boleh ikut dua ekskul kan?gue mau ikut futsal sama Ekskul penelitian aja kayanya seru."


Bambang!


"Lo gak ada hak buat nolak gue," sambungnya dan dia gitu aja ninggalin gue yang masih berdiam diri di depan ruangan ekskul ini.

__ADS_1


Ini Bima sengaja atau engga sih, kayanya dia nyari masalah terus sama gue. Gue gak tau kapan Nakula ada di samping gue. Ya, tiba tiba dia nanya. "Itu siapa kak?"


"Anak baru di kelas saya," jawab gue.


"Ayo pulang." Gue menarik tangan Nakula menuju ke kelas gue. Gak tau kenapa sekarang Nakula jadi sering nebeng sama gue. Dia sengaja gak bawa motornya atau gimana ya?


Tapi ya gak apa apa lah,itung itung punya temen ngobrol pas di motor. Lagian, rumah gue sama rumah Nakula gak jauh kok. Pas gue sampe kelas, gue liat Bima belum pulang. Dia sempet lihat gue, tapi dia gak negor gue sama sekali.


Pas lagi beres beres gue sempet tegor dia, "Lo gak bawa motor Bim?" Cukup aneh sih kalo Bima gak bawa motor.


"Bawa."


"Lagi nunggu adek kelas," jawabnya yang dari tadi gue liatin masih sibuk mainin ponselnya.


"Gue duluan ya Bim, semoga berhasil." Terdengar aneh sih, tapi gue tau adek kelas yang dia maksud itu siapa. "Apaan sih?!" Ucapnya Datar.


"Yehh, gue kasih semangat juga."

__ADS_1


"Lo, gak pernah jelas!"


Gak tau kenapa Bima seperti ada dimana mana, bingung gue. Pas gue sama Nakula berjalan kearah parkiran, Gue ketemu lagi sama Bima.


Dia jalan di belakang gue sama Nakula barengan sama Yuli. Gerak cepat juga ya dia. Aku jadi kasih, padahal Yuli adek kelas yang asik. Eh, malah jadi target Bima.


"Kak Larissa saya duluan ya," ucap Yuli saat tangannya di tarik paksa oleh Bima. Dan mereka berdua berjalan mendahului kami.


"Iya hati hati, awas Bima kalo lagi badmood sering gigit." Emang, gue doang. Yang kalo sehari gak memaki atau ngatain Bima itu kayanya ada yang kurang. Apalagi sekarang, kita udah jadi temen sekelas bawaanya ingin menghujat terus.


"Awas, si Lit kalo laper bisa telen orang sampe gak bersisa." Bima membalas perkataanku tadi sambil terus melangkah maju tanpa berbalik sedikitpun.


"Eh setan," ucapku saat melihat Bima sedang mengeluarkan motornya. Motor gue sedang di keluarkan oleh Nakula jadi gue dan Yuli menunggu di ujung parkiran yang kebetulan motornya Bima tidak terlalu jauh dari kami.


"Apa sih Iblis?"


Yuli yang melihat kami berdua saling kata kataan hanya bisa diam. "Mulutnya gak kenal huruf hijaiyah nih," balas gue.

__ADS_1


"Ayo Yul naik, males gue ngeladenin orang aneh kaya dia."


Dan Yulipun naik keatas motor Bima dan gue naik keatas motor gue. "Orang aneh kok bilang aneh." Dan setelah mengucapkan itu gue langsung menyuruh Nakula untuk segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2