
Karena Bel istirahat sudah berbunyi Gue pun pergi ke kantin sama Tita. Sebenernya gue mager banget jalan, tapi gak ada yang mau gua titipin jajanan. Jadi, untuk mengisi tenaga yang terkuras saat pelajaran berjalan akhirnya gue terpaksa melawan rasa kemageran gue demi beli makanan di kantin.
"Bu, ini nasi goreng satu sama air minumnya satu, terus gorengannya Gue jadi berapa?" kata Gue.
"Bu, Bu kenal Waeti gak?" tanya Megan kepada ibu ibu kantin.
Megan pramudita namanya, gue bakal bahas di part selanjutnya.
"Ya tuhan, Meg plis deh urat malunya disambung dulu ya tolong. Banyak kakel sama dekel disini," ucap Gue.
"Bisa gak si lu gak teriak Ris?" celetuk Berliana pelan.
"Ini gua ngomong biasa betewe," jawab Gue datar.
"Udah cepet ilah, lu mau jajan apa?" ucap Tita dengan sebal, karena dari tadi gue ngomong sama Nanda.
Setelah mendapatkan apa yang Gue inginkan Guepun segera kembali kekelas. bersama temen temen kampret gua. Berliana, Megan dan Tita.
"Terra kemana?" tanya Thalasa.
"Lah, gak ikut gue dia."
"Boker kali," jawab Tita.
Ntah dari mana Terra datang. Ia tiba tiba terlihat ingin memasuki kelas sambil bernyanyi.
"Tak mengerti... apa yang telah terjadi asek asek jos." Terra bernyanyi tanpa nada dan sumbang. Namun apa perdulinya, yang jelas ia senang dan semuanyapun ikut terhibur dengan aksinya.
"Diem, diem. Telinga gua sakit nih," ucap Tita yang telinganya habis ditarik oleh Larissa.
"Bodo amet," balas Terra tak perduli. Ia pun melanjutkan bernyanyi. Bukannya memberhentikan aksinya Terra karena guru sebentar lagi masuk tapi mereka semua malah ikut ikutan Terra bernyanyi. Bahkan Erly ikut ikutan sambil bergoyang. Tanpa Terra sadari, semua temannya sudah diam bahkan sudah duduk manis di bangkunya masing masing.
__ADS_1
"Eh, kok pada diem?" Tanya Terra sambil melirik teman-temannya.
Teman-temannyapun langsung memberi Terra kode untuk melihat kearah pintu. Terrapun langsung berlari kearah bangkunya.
"Jadi dalang keributan ini Terra?" Tanya seorang Wanita yang sedang terlihat sedang memasuki kelas sambil menahan tawa.
"Maaf ibu," ucap Terra.
"Kalian tuh ya, ada ada aja. Sekarang kerjakan ini."
-Homogen-
"Abis dari mana kamu?!" Ucap pengawas lab farmakognosi.
"Kelas bu," jawab Berliana santai.
"Udah tau kan tadi udah bel, kenapa gak langsung ke lab? Sekarang kamu ambil helm terus lari keliling lapangan 5 puteran."
Ya, inilah nasib yang harus diterima Berliana. Memang sudah peraturannya jika ada yang terlambat memasuki lab farmakognosi pasti akan dihukum lari menggunakan helm atau dikuncikan dan tidak boleh masuk jam pelajaran berakhir.
"Itu sudah peraturannya, lagian siapa suruh kamu telat?! Cuma gara gara kamu kelasnya jadi tertunda."
"2 puteran aja ya bu," tawar Berliana.
"Kamu tuh nawar aja, cepat atau saya tambah jadi 10?!"
"IYA BU, LIMA PUTERAN AJA!" Terial Berliana sambil berlari menuruni tangga menuju lapangan.
Pelajaranpun terhenti sementara karena pengawas lab sedang mengawasi Berliana yang sedang berlari karena mendapat hukuman itu. Satu kelaspun merasa lega karena seharusnya ada ulangan sekarang.
"Berterima kasihlah kalian sama Lian, karena dia kita bisa belajar dulu," ucap Heby.
__ADS_1
"Kasian ya itu tulangnya nanti nambah rapuh," sambung Herlin.
"Oh iya Tit, mana si Risa?" Tanya Rabella yang mulai menyadari tidak ada Larissa diantara mereka.
"Oh iya si Risa, mana tuh anak?" Tanya Heby.
"Tadi lagi dipanggil sama pak Ilham," jawab Tita.
"Wah, ngapa tuh si orang?"
Terlihat Intan sedang memasuki lab bersama pengawas lab. Sepertinya ia sudah selesai menjalani hukumannya. Berliana pun langsung duduk ditengah-tengah Rabella dan Tita.
"Ketemu gak tadi bukunya?" Tanya Rabella.
"Udah, dibawah bangkunya si Risa."
"Mana si Risa kampret?" Sambung Berliana.
'Ceklek'
"Assalamualaikum,"ucap Gue sambil berjalan memasuki lab. Dan memakai jas labnya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Semuanya.
Larissa pun langsung duduk disamping Tita. "Tadi gua liat Lian ngambil helm di motor gua, abis ngapain lu tang?" Tanya Larissa sambil menaruh buku-bukunya diatas meja.
"Abis dihukum dia, lari 5 keliling lapangan pake helm," jawab Tita singkat.
"Lah gak mati?yahh, penonton kecewa." Larissapun membuka buku Farmakognosinya.
"Teman emang gitu ya, bangke."
__ADS_1
"Bau dong?" sahut Larissa tanpa dosa.
"Bacot bego," ucap Sandy. Cowok yang ada didepannya Rabella