
Hujan deras di hari pernikahan ku, sepertinya hujan itu turun mewakili perasaan ku saat ini.
Aku yang duduk di pelaminan tidak seperti yang lain,
Mereka menikah dan duduk di pelaminan di temani oleh orang tua atau kerabat dari keluarga perempuan tapi, tidak dengan ku orang tua ku datang hanya sebentar setelah itu kembali lagi untuk pulang. Rasanya sakit sekali pernikahan yang ku harapkan di datangi keluarga ke tapi kenyataannya tidak.
"Yallah kuat kan hamba dalam menjalankan pernikahan," monolog ku dalam hati.
"Ada ya orang begitu datang ke pernikahan anaknya sendiri cuma pakai baju kaya begitu,"kata ibu mertuaku.
"Udah gitu kesini ngga bawa apa-apa,cuma kue-kue an aja, haduh ngga ada pantes-pantesnya bangat" kata kakak dari ibu mertuaku...
"Mereka semua menghina keluarga ku dan memandang rendah orang tua ku, aku cuma bisa menahan air mata selama pernikahan ini berjalan,"
Dalam hati ku bicara...
Setelah pernikahan selesai dan para tamu undangan mulai berkurang naura segera membersihkan diri.
Banyak orang" yang membicarakan tentang keluarga Naura
"Itu ko sama anak kaya begitu sih anaknya nikah masa ngga bawa hantaran apa-apa"
"Dengar-dengar dulu sih Naura itu kabur dari bapaknya terus datang ke kampung sama ibunya"
Ya begitulah kira-kira orang-orang terus merendahkan keluarga Naura tanpa tau kehidupan sebelumnya,
"Ra Ayo istirahat dulu udah malam pasti kamu Capek jangan ngelamun terus," kata mas Rama membuat ku kaget dan membuyarkan lamunanku.
"O-oh i-iya mas," kata ku tersenyum kikuk.
Di atas ranjang aku menatap langit-langit kamar mengingat kejadian siang hari betapa sakit hati ini melihat orang tua ku di rendahkan, sekuat tenaga agar menahan air mata ini agar tak menangis tapi kenyataannya air mata itu lolos dengan derasnya. Aku menangis memunggungi pintu aku sembunyikan tangisanku, saat sudah mulai merasa tenang aku mendengar suara pintu terbuka, aku langsung menghapus air mata ku, ternyata mas Rama.
__ADS_1
"Ra udah tidur belum ?," Tanya mas Rama.
"Belum mas, ada apa ?," Jawab ku sambil menyunggingkan sedikit senyum.
"Kamu nangis Ra?," Tanya mas Rama.
"Kamu kenapa Ra ko nangis ?," Tanya mas Rama, terlihat raut wajah yang khawatir ketika melihat ku menangis.
"Gapapa ko mas cuma kangen aja sama orang rumah belum terbiasa jauh dari mereka, dan aku juga lama untuk adaptasi sama lingkungan baru" jawab ku dengan sedikit senyum, ya senyum keterpaksaan lah yang aku tunjukkan.
"Aneh sekali padahal orang tuanya saudara-saudaranya sudah merendahkan orang tuaku di depan mas Rama tapi, mas Rama terlihat biasa aja tanpa ada raut wajah orang yang bersalah, ya memang yang salah bukan mas Rama tapi setidaknya dia meminta maaf atas perkataan orang tua nya." Dalam hati ku bicara
"Oh.. kirain kamu kenapa," kata mas Rama.
"Mas boleh aku bertanya?, " Tanya ku
" Mau nanya apa Ra?" Jawab mas Rama
"Ya tinggal disini lah Ra, mau tinggal dimana lagi emangnya?," Jawab mas Rama.
"Apa tidak sebaiknya kita pisah rumah mas?," Tanya ku hati-hati sekali takut menyinggung perasaannya.
"Maksud kamu gimana? Kita ngontrak gitu? Atau mau tinggal di rumah orang tua kamu yang masih ngontrak itu?" Jawab mas Rama.
" Bukan seperti itu mas, maksud nya ketika seseorang sudah menikah itu harus bisa hidup mandiri." Sergah ku.
" Terus kita mau tinggal dimana? Kamu tuh aneh-aneh aja ya jadi orang udah enak kita tinggal di rumah ini ngga harus bayar, aku ngga mau ngontrak Ra takut ngga kebayaran, kan kamu tau penghasilan aku segitu"nya mending uangnya di kumpulin buat bikin rumah sendiri jadi ngga usah ngontrak-ngontrak segala." Jawab mas Rama dengan dana sedikit di naikan, membuat ku semakin sakit atas perkataan nya.
"Hmm gi-gitu ya mas, baiklah gimana kamu aja mas" jawab ku sambil menahan air mata agar tidak lolos dari mata ini.
" Iya, lagian aku itu anak laki-laki satu-satunya jadi harus bertanggung jawab atas orang tua ku termasuk ibu ku," kata mas Rama.
__ADS_1
"Memang seorang anak laki-laki itu tanggung jawabnya lebih besar terhadap orang tuanya, tapi bukan berarti kamu tidak menghargai perasaan istri mu ini mas" dalam hati aku menjawab, karena tidak berani membuat keributan apa lagi acara pernikahan baru saja selesai, dan itu membuat ku takut akan mengutarakan pendapat ku kepada mas Rama.
"Baiklah mas, kalau memang seperti itu," jawab ku dengan memaksakan senyum.
"Kalau gitu saya mau istirahat dulu mas," dengan dinginnya aku berbicara tanpa menoleh ke arah nya.
Sepertinya mas Rama terlihat bingung dengan perubahan sikap ku yang mendadak dingin seperti ini,
Mas Rama terlihat mendekat lalu memegang pundak ku, tapi aku biarkan.
"Ra kita ngga ibadah dulu?" Tanyanya yang membuat ku semakin gemas dengan tingkahnya yang menyebalkan.
"Ibadah apa mas? Solat isya saya udah duluan tadi kalau mas solat isya yasudah ambil wudhu sana" jawab ku dengan dana dingin.
"Ra, aku ini suami mu lho Ra, kenapa kamu jadi memakai kata 'SAYA' memangnya aku ini rekan bisnis mu, ibadah yang ku maksud itu ibadah suami istri Ra. Apa kamu lupa kita ini pengantin baru Ra," kata mas Rama, tanpa di filter dan di perjelas kata-kata itu membuat pipi ku menjadi merona mungkin kalau mas Rama melihat pipi ku sudah di ledek.
"Apa sih mas, kamu itu kalau ngomong ngga di filter dulu ya," jawab ku dengan memanyunkan bibir..
" Habis kamu Ra masa iya ngga paham, boleh ya Ra aku minta hak ku malam ini," tanya mas Rama sambil membuat wajah sendu dan memelas membuat ku ingin menabok mukanya,
" Tapi mas, saya Capek dari pagi kita berdiri terus berdiri dan duduknya hanya sebentar dan belum lagi hujannya yang membuat ku ingin tidur" jawab ku jujur kepada mas Rama.
"Ayo lah sayang, please ya janji ngga akan Cape, kalau memang Cape kamu bilang nanti aku berhenti please ya sayang," kata mas Rama memohon kepada ku.
"Huft.. yasudah lah kalau memang sudah mohon seperti itu saya tidak bisa menahan mu." Jawab ku dengan wajah pasrah.
"Beneran Ra? Alhamdulillah baca doa dulu Ra," kata mas Rama sambil memanjatkan tangan.
Setelah itu terjadi lah hubungan di antara mereka yang sedang melaksanakan ibadah suami istri.
" Terima kasih sayang, kamu membuat ku candu," kata mas Rama sambil mengecup kening ku.
__ADS_1
Aku hanya menganggukan kepala karena terasa lelah aku pun tertidur dalam pelukannya .