Hujan DiHari PernikahanKu

Hujan DiHari PernikahanKu
Hujan DiHari PernikahanKu Bab 005


__ADS_3

Tiga bulan sudah aku bercerai dengan mas Rama dan bulan ketiga ini mas Rama resmi menggugat ku ke pengadilan agama dan saat ini panggilan pertama dari pengadilan agama tapi aku berniat tidak mendatangi panggilan itu karena menurut ku akan bertambah lama jalannya proses sidang.


"Teh kamu sekarang ada panggilan dari pengadilan bukan?," Tanya mamah.


"Iya, memangnya kenapa mah,"


"Kamu ngga datang kasana?,"tanya mamah


"Kayanya gak usah datang deh mah,bukannya malahan bikin tambah lama prosesnya ya mah,"


Jawab ku.


"Ya siapa tau mau datang teh, ketemu calon mantan suami kamu heheh," kata mamah dengan candanya.


Aku hanya menggeleng kepala menanggapi perkataan nya,


*****


"Assalamualaikum.."


"Wa'allaikum sallam sebentar" jawab ku. "Siapa sih yang bertamu," gerutuku sambil jalan membukakan pintu.


"Iya wa'allaikum sallam cari siapa?," Tanya ku tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.


"Hmm ini mau ketemu dengan mas haryono, saya temannya Yadi yang kemarin ikut kerumah Mimi," jawabnya. Aku sadar lalu melihat sekilas wajahnya hanya untuk memastikan dan benar memang dia orangnya.


"Oh ayahnya lagi ke pasar udah dari tadi sih mungkin sebentar lagi pulang,"


"Duduk dulu aja maaf saya gak suruh masuk, saya bisa terima tamu laki-laki yang bukan mahramnya takut menjadi fitnah karena status saya," ucapku dengan mempersilahkan duduk di depan teras rumah, kebetulan ayah menyiapkan tempat duduk di depan teras rumah.


"Mau minum apa? Biar saya bikinkan minum dulu" tanya ku.


"Tidak usah repot-repot saya hanya ingin bertemu dengan ayah kamu," jawabnya


"Gapapa ko sekalian nunggu ayah sama mamah datang dari pasar, sebentar ya maaf di tinggal dulu," ucap ku dan membuatkan teh hangat dan membawakan cemilan untungnya aku menyimpan cemilan di kamarku, karena kebiasaan ku suka ngemil di kamar sambil menyelesaikan tulisakan.


Tak lama aku mendengar suara motor ayah sampai lalu aku keluar dengan membawa nampan berisi teh hangat dan cemilan.


"Assalamualaikum lho ini temannya Yadi ya?,"


Tanya ayah


"Wa'allaikum sallam iya benar saya Faris,"jawabnya lalu menyalimi orangtua ku.


"Eh ayah udah datang? Ini tadi ada yang nyariin yah," ucap ku menyimpan teh dan cemilan di meja lalu mengambil alih barang bawaan yang ada di tangan ayah.

__ADS_1


"Mau di buatin minum sekalian ngga yah?," Tanya ku.


"Gak usah teh, kopi saya masih ada tadi,tolong bawain aja di lemari dapur," jawabnya aku hanya menganggukan kepala lalu berjalan ngambilnya.


"Nih yah kopinya tapi udah dingin memangnya masih enak?," Tanya ku


"Mubazir kalau gak di habiskan," jawab ayah "owh oke deh,teteh mau ke dalam dulu," berlalu dengan membungkukan badan.


"Mamah beli apa aja?," Tanya ku sambil membereskan belanjanya dan berlanjut membantuk mamah untuk memasak.


"Ya gitu aja teh, gak beli yang aneh-aneh," jawabnya.


Lima belas menit sudah aku membantu mamah memasak dan akhirnya makanan pun siap.


"Teh ayah udah beres belum ngobrolnya," tanya mamah ku.


"Gak tahu teteh juga mah,mau teteh panggilan sekalian sama temannya A'yadi,"


"Yaudah sekalian aja ajak makan disini,"


Aku berjalan kedepan tempat ayah mengobrol dengan temannya A'yadi,ya yang aku tidak tau namanya sih tapi ya sudahlah.


"Yah makan dulu yu, makanan udah siap sekalian ajakin itu temenya A'yadi ikut makan juga kata mamah," ucapku. Setelah itu aku kembali kedapur lalu menyiapkan makanan dan air.


Setelah semuanya siap, kamu makan bersama tak ada obrolan saat kami makan hanya ada suara denting sendok saja.


"Mungkin yah teteh juga gak tahu kan teteh gak kesana buat sidangnya," jawabku.


Ayah hanya menganggukan kepala tanda mengerti.


Setelah semuanya selesai aku membereskan tempat makan lalu mencucinya.


Setelah selesai aku mau ke kamar untuk menulis.


"Teh sini dulu,mau ke kamar?," Tanyanya.


"Iya yah mau nulis, teteh belum up hari ini," jawabku.


"Sini dulu ayah mau ngomong,"


Entah apa yang ingin di sampaikan membuat perasaan tidak enak.


"Ada apa yah," ucap ku.


"Gini kamu mau gak join usaha?," Tanyanya dengan nada serius.

__ADS_1


Aku mengernyitkan kening "join usaha? Usaha apa dan sama siapa?,"


"Jadi gini tadi Faris yang kesini itu,bilang sama ayah kalau dia kekurangan modal untuk usahanya, dia mau buka usaha toko baju yang di jual secara online dan offline sebelumnya dia sudah punya cabang di kota, tapi dia mau membuatnya juga disini. Ayah tadi di tawarkan oleh Faris untuk ikut join dalam usaha itu tapi kondisi keuangan ayah tidak memungkinkan lalu ayah kepikiran sama kamu teh lumayan untuk investasi jangka panjang, itu pun kalau kamu mau,"


Aku mengangguk menanggapi ucapan ayah dengan memikirkannya. Setelah sekian lima menit aku memahami aku pun setuju.


"Boleh deh yah tawaran yang menarik kebetulan teteh ada tabungan juga,"


"Alhamdulillah ya sudah ayah kabari Faris dulu ya," jawabnya lalu berjalan keluar untuk menelpon Faris.


Aku pergi ke kamar untuk menulis.


TOK TOK TOK


"Assalamualaikum teh,"


"Wa'allaikum sallam kenapa mah,"setelah membuka pintu.


"Itu ada Faris terus ayah minta panggilkan kamu,"


"Oh.. yasudah nanti kesana teteh mau pakai kerudung dulu,"


****


"Nah itu dia, sini teh duduk," kata ayah. " Jadi begini kemungkinan yang akan ikut join itu anak saya saja, kalau saya kebetulan finansial saya belum cukup jadi saya mohon maaf Nak Faris,"


Ucapnya lagi


"Baik jadi seperti itu, tidak masalah yah karena saya juga mengerti dan maaf kalau saya kesini dengan tiba-tiba waktu itu,"


"Jadi kamu siap untuk bergabung dengan bisnis saya? E--,"tanya Faris.


Aku mengangguk dengan menundukkan kepala saja karena aku tidak ingin menatap wajah atau matanya.


"Kalau saya boleh tahu namanya siapa? Maaf kalau saya lancang," ucapnya Faris seraya mengangguk kelapa tanda maaf dan minta izin kepada orang tua ku.


"Syakila Naura Adzkia namanya," ayah yang menjawab pertanyaan Faris itu.


"Baik kia mungkin disini aja menjelaskan terlebih dahulu ya,karena toko awal saya merintis disini. Saya boleh minta tolong sama kamu kia untuk terjun langsung dalam memantau toko tersebut," tanya Faris.


"Maaf bukan saya tidak ingin terjun langsung tapi adakah alasannya," jawabku


"Ya alasan saya meminta kamu untuk terjun langsung itu karena kemungkinan saya tidak akan membayar karyawan dulu sampai masa yang di tentukan, karena ini bisnis pertama saya kemungkinan akan tidak terlalu ramai seperti itu,"


Aku mengangguk dengan bertanya pada diri sendiri "huft harus kerja itu namanya, adaptasi lagi ," batin ku menggerutu.

__ADS_1


"Baik saya akan ikut terjun langsung dalam memantau perkembangan toko tersebut dan saya akan ikut mengelola," jawabku setelah memikirkan nya terlebih dahulu.


__ADS_2