Hujan DiHari PernikahanKu

Hujan DiHari PernikahanKu
Hujan DiHari PernikahanKu Bab 004


__ADS_3

Aku harus bilang yang sejujurnya kepada orangtua ku. Setelah merasa sudah mendingan aku berjalan ke dapur untuk mengambil minum dan bicara yang sejujurnya.


"Mah ada yang teteh mau omongin, bisa ngga,?"


"Mau ngomong apa teh" tanya mamah. "Disini aja ya sekalian biar ayah tau, gimana,?"


"Jadi gini mah, teteh udah di talak sama mas Rama " jawab ku dengan menundukkan kepala dan membuang nafas.


" Yallah teteh kamu nikah belum juga ada seminggu terus Rama udah nalak kamu sekarang?


Alasannya apa? Dia menalak kamu?," kata mamah ku.


Lalu aku menceritakan yang sesungguhnya karena tidak ingin ada yang di tutupi setelah kehancuran rumah tangga ku.


"Udah teh kamu tenang aja, gak usah pusing tenangin pikiran kamu. Gapapa tugas saya jagain kamu lagi kaya dulu biar ngga kecolongan lagi" kata ayah dengan tawanya.


Aku bersyukur karena bisa di pertemukan dengan orang sambung sebaik ayah ku yang sekarang ini.


Ya orang tua ku dulu berpisah saat aku umur lima belas tahun, karena ke salah pahaman dan ada yang tidak suka dengan keluargaku mulai dari situ pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi sampai akhirnya pertengkaran besar terjadi.


Dan itu yang membuatku menjadi jati diri yang sangat amat tertutup baik pada orang tua mau teman-teman ku.


Tapi sekarang aku bersyukur karena memiliki ayah yang seperti sekarang, sangat amat peduli dengan ku dan adik ku.


****


"Teh kamu udah berhubungan sama Rama,?" Tanya mamah ku. Aku hanya menganggukan kepala nya.


"Terus bagaimana kalau kamu hamil teh?,"


"Mamah tidak masalah kalau kamu hamil, tapi menjalani hidup sebagai ibu anak satu itu berat teh" kata mamah ku.


Aku melihat ada raut wajah ke khawatiran lalu aku bangun dari tempat tidur dan mengambil sesuatu di dalam tas ku.


"Teteh pakai ini mah,insyaallah aman jadi mamah tidak perlu khawatir," jawab ku dengan menyerahkan pil kontrasepsi.


"Sejak kapan kamu pakai ini pil ini teh?,"


"Mas Rama yang ngasih mah karena dia bilang tidak ingin punya anak dulu dan mau menikmati masa berdua dulu, waktu itu teteh gak mau tapi ya udah setelah teteh lihat-lihat keluarga seperti itu lebih baik teteh pakai saja"


Terdengar suara nafas mamah seperti nya buang nafas secara kasar, ku lihat sedikit berkurang raut ke khawatiran nya .

__ADS_1


"Maafin teteh ya mah, dulu teteh gak dengarin kata mamah. Teteh tau sekarang beban beban mamah sama ayah jauh lebih besar karena status teteh, tapi teteh janji tidak akan memberatkan mamah lagi,"


"Gapapa teh, yang penting sekarang kamu ngerti bagaimana rasanya, jangan di ulangi lagi karena mamah sama ayah Disini menanggung beban sama bapak kamu, kalau bapak kamu tau pasti marah bangat teh,"


" Udah mah tidak usah pikirin bapak dulu,"


"Habis ini kamu ada rencana gimana?," Tanya mamah ku, aku mengerti maksud mamah menanyakan itu.


"Teteh mau ngekos sendiri boleh ngga mah,yah" tanya ku pada mereka.


"Mau ngekos dimana mamah tanya teh? Mamah cuma gak mau nantinya ada yang menilai kamu semakin jelek," jawabnya


"Mamah teteh Alhamdulillah sudah ada sedikit kerjaan,sebenarnya ini udah dari sebelum menikah, tapi karena teteh harus nikah waktu itu jadi teteh tunda dan Alhamdulillah mungkin ini jalannya, teteh udah jadi penulis sebenarnya tapi teteh tidak ingin mengatakan karena teteh belum dapat kontrak tapi Alhamdulillah sekarang teteh udah dapat kontrak terus Alhamdulillah penghasilan teteh lumayan mah, jadi teteh minta izin untuk ngekos sendiri sambil mengerjakan tugas teteh sebagai penulis, itupun kalau mamah sama ngasih izin." Kata ku


"Kamu jadi penulis teh?," Tanya ayah. Aku hanya menganggukan sebagai jawabannya.


"Kenapa gak tinggal di sini aja?" Tanya ayah lagi.


" Teteh cuma tidak ingin merepotkan yah, sama pengen fokus aja buat nulisnya" jawab ku.


"Udah ngga usah ngekost segala disini aja lagian saya ngga ngerasa direpotin ko sama kamu teh, orang kamu anak saya," jawabnya, lagi-lagi hati ku terenyuh dengan jawabnya terharu dengan perkataan nya aku membuang wajah ku ke sembarang arah agar tidak terlihat menangis dan menetralkan rasa.


Aku hanya menganggukan kepala sebagai Jawabannya.


*****


Hari-hari berlalu sekarang aku lebih menikmati masa-masa ini.


"Teteh mau ikut ngga"tanya mamah.


"Mau kemana mah?,"


"Kerumah Mimi, ada A Yadi terus mau kerumah Emma,"


"Teteh nyusul aja nanti, mamah mau sekalian kepasar kan?" Tanya ku


"Iya, abis dari pasar baru kerumah Mimi terus ke Emma,"


"Yaudah mamah duluan aja teteh lagi nanggung nulisnya mau setor dulu".


"Oke. Jangan lupa kunci rumahnya di bawa nanti,"

__ADS_1


Aku hanya menganggukan lalu fokus menulis, Alhamdulillah hasil dari menulis bisa membeli motor walau bekas tapi masih bagus dan bisa di gunakan kemana-mana.


****


Aku melihat di teras depan rumah Mimi ada tiga motor ya yang dua bisa di tebak punya ayah dan A'yadi tapi yang satunya aku tidak tau.


Aku kesana setelah selesai menulis, aku mengenakan gamis warna coklat muda dengan kerudung segitiga empat senada.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakatu,


Kepada semua yang ada di rumah ini teteh datang" dengan sedikit kencang aku bicara. Memecahkan keheningan lalu pada tertawa terbahak-bahak.


Itu yang membuatku senang menjadikan diriku ini sebagai bahan tawaan mereka.


"Berisik kamu teh udah kaya di hutan," kata mamah sambil tertawa.


Lalu aku menyalimi satu persatu orang yang dirumah Mimi itu.


"Udah kaya lagi lebaran aja ya, salam-salaman dan bermaaf-maafan," celetuk ku membuat orang-orang yang dengar tertawa.


"Wih ini-ini kakak gua yang kaga nikah sampe gua udah terus pisah Luh tetep aja kaga nikah," tanya ku kepada A'yadi.


"Bodo amat yang penting gua kerja" sambil menjulurkan lidahnya dengan gaya meledek.


Kalau sudah ketemu dengan kakak-kakak ada aja tingkahku yang selalu membuat mereka tertawa dan yang pasti aku selalu bahagia melihat itu.


"AA kenapa pulang A," tanya ku pada A'yadi. "Kan biasanya pulang setahun sekali atau ngga pernah pulang," dengan diiringi tawa ku.


Lalu aku melihat seseorang yang dari tadi diam saja.


Di balas dengan tatapan mata yang tajam aku hanya tertawa lalu berjalan ke dapur untuk bergabung dengan mamah dan ayah ku yang sedang duduk.


"Gosipin apa sih sampai serius bangat kayanya," tanya ku dengan tawa.


"Tadi orang yang sama A'yadi siapa mah?," Tanya ku.


"Temannya A'yadi yang tinggal deket sama rumah Emma" aku hanya menganggukan sambil memakan cemilan yang ada di depan ku.


"Dia itu orang tua nya udah meninggal teh, tinggal sendiri rumah terus dia juga punya usaha di kota"


"Owh.." jawab ku ber- oh ria tapi tidak terlalu menanggapi ceritanya...

__ADS_1


__ADS_2