Hukuman Dewa

Hukuman Dewa
bab 1 Awal pertemuan


__ADS_3

Dalam 23 tahun hidupku, aku tidak pernah menginjakkan kakiku di gunung, maklumi saja sebagai seorang anak yang terlahir dengan kekayaan turun-temurun dari keluarga, hidupku tergolong mewah bahkan hampir tidak pernah menyentuh tanah, hingga suatu hari diriku benar-benar tenggelam ke dalam tanah.


Dua hari sebelum hari nahas....


Namaku Lisa umurku 23 tahun, seorang mahasiswi jurusan multimedia disalah satu kampus bergengsi di kotaku, terlahir dari orang tua yang kaya raya, aku menjadi jajaran orang Top di kampus, bahkan karena kecantikan alami yang diturunkan dari pihak ibu, aku menjadi salah satu primadona di kampusku, meskipun diriku tergolong dalam kelas status sosial tinggi, aku tetap bergaul dan menjalin hubungan baik dengan semua kalangan sosial, meski hidupku dikatakan nyaris sempurna tapi satu kekurangan fatal membuat hidupku menjadi hambar yaitu cinta.


Sejak beranjak remaja, sudah sewajarnya para gadis remaja merasakan getaran-getaran cinta, dan tidak sedikit dari mereka yang mulai mempunyai pacar tapi berbeda denganku, dari mulai remaja hingga sekarang aku tidak pernah bisa merasakan getaran tersebut, bukan tidak ada yang mengajakku berkencan dengan status kehidupanku yang nyaris sempurna tidak sedikit dari pria yang ku kenal menyatakan perasaanya tapi dengan jujur dan tulus aku menolak perasaan mereka, bahkan diantara mereka ada yang menjadi teman baikku sampai sekarang.


Satu hari sebelum hari nahas...


Dalam rangka pembuatan skripsi akhir semester, satu jurusan kami sepakat untuk camping di gunung demi mendapatkan audio visual yang indah tentang alam selama 1 pekan.


Karena kebanyakan dari kami adalah anak orang-orang kaya, maka cara kam camping pun berbeda dengan kebanyakan orang, saat keberangkatan dari kampus ke gunung selayaknya parade mobil-mobil mewah dan area camping yang luas seketika menjadi penuh dengan kedatangan rombongan kami, bukan itu saja bahkan tenda-tenda yang didirikan layaknya rumah dengan fasilitas lengkap, tenda tidur, tenda dokter, tenda koki, tenda tim SAR, tenda polisi, dan juga tenda salon pun ada, maklumi saja imbas dari kasih sayang para orang tua yang tidak ingin anak-anak mereka terlantar di gunung.


Pada akhirnya perjalanan yang melelahkan menjadi pengantar tidur pertama kami di gunung, udara dingin dan selimut hangat menemani kami sepanjang malam.


Hari ini hari H ???


Dalam suasana yang masih gelap, kami dibangunkan oleh suara dari sirine tim SAR, dengan cepat kami bergegas berkumpul di area berkumpul dengan pengarahan dari para dosen kami mulai bersiap untuk menelusuri gunung mencari spot yang bagus, untuk tugas pertama kami adalah mengabadikan momen matahari terbit.


Masing-masing dari kami ditemani oleh satu pemandu gunung, begitu juga dengan diriku. Aku bergegas mengambil kamera dan mengikuti seorang pemandu gunung paruh baya sembari berjalan menaiki gunung beliau berkata bahwa dia akan membawaku ke spot yang bagus tanpa harus naik kepuncak, dia bercerita meskipun gunung tersebut adalah gunung wisata tapi ada beberapa area terlarang di puncak gunung yang harus dipatuhi bahkan warga sekitar pun tidak berani melanggar larangan.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan dia terus bercerita tentang pengalaman hidupnya jadi pemandu gunung, hingga saat hampir tiba di area spot tiba-tiba kabut menjadi semakin tebal karena penerangan yang terbatas dan jarak pandang yang menurun si pemandu memperingatkanku untuk tetap dibelakangnya agar tidak tersesat.


Namun kabut semakin tebal dan semakin susah untuk melihat, tapi aku tetap bergerak mengikuti bayangan dan lampu senter si pemandu.


Anehnya si pemandu yang tadinya banyak bicara mendadak jadi pendiam, karena tidak ingin melewatkan momen sunrise aku tetap mengikuti pemandu dengan tenang hingga sesuatu mengalihkan pandanganku.


Puluhan kunang-kunang menari di udara membuat naluri seni ku ingin memotret dan memotret hingga tak sadar telah berpisah dengan si pemandu, karena tidak tahu jalan dan suasana yang masih agak gelap pada akhirnya tanpa sadar aku menginjak lumpur hisap dan terjebak di dalamnya.


Dengan keadaan gunung yang sunyi, aku dengan putus asa berteriak minta tolong berkali-kali, berharap ada seseorang yang mendengar teriakan ku dan bergegas menolongku, tapi semua sia-sia tubuhku semakin lama semakin terserap ke dalam tanah.


Antara hidup dan mati aku teringat ke dua orang tuaku yang menunggu di rumah, air mata tak terbendung lagi sambil menangis aku tetap berteriak minta tolong.


Ditengah keadaan pasrah "Apakah aku akan mati disini? tanpa seseorang tau akan jasadku? padahal aku masih perawan dan belum pernah merasakan manisnya cinta akankah ini menjadi akhir dari hidupku??" .


"Tolong aku! apakah kau hanya akan melihat seseorang mati tepat di hadapanmu?!" suara pelan.


Tidak ada respon, pria itu tetap berjalan dengan santainya.


"Pria brengsek apa kau akan terus pura-pura tidak mendengar ku?!" nada kasar dan marah.


Mendengar umpatan yang kasar seketika dia langsung menoleh, dengan muka terkejut dan kata yang terbata-bata dia mulai membuka suaranya.

__ADS_1


"Aa.. Apa kau bisa melihatku???"


"Tentu saja aku bisa melihatmu! Mataku belum rabun! Apa kau tidak akan menolongku dan hanya berdiam diri disitu????".


Perlahan dia berjalan mendekatiku sembari mengulurkan tangannya untuk menarikku dengan perlahan, dari raut wajahnya seperti keheranan melihatku yang terjebak oleh lumpur hisap. Karena tubuhku yang masih lemas dia menggendongku dengan kedua tangannya dan menyandarkan ku di bawah pohon besar.


Dengan keadaan yang masih lemas tak berdaya aku mencoba untuk melihat dengan seksama sosok pria yang telah menolongku itu. Sembari berterimakasih aku memperhatikan pria tersebut, karena keadaan mataku yang penuh air mata bekas menangis membuat pandangan ku menjadi tidak jelas untuk melihat wajahnya, hingga saat fajar terbit bias cahaya matahari masuk melewati celah-celah ranting pohon dan menyinari dirinya yang berdiri tepat di hadapan ku.


Pandanganku menjadi jelas karena cahaya matahari tanpa sadar aku mulai terpaku dengan penampilan pria itu, kulitnya yang putih bersih, wajah yang tampan, hidung yang mancung , alis yang tebal, dan bibir yang merah membuat hatiku berdegup kencang. Melihat rambutnya yang terurai lembut tertiup angin serta pakaian hitam klasik yang menambah kesan wibawa pada dirinya.


Entah apa yang terjadi perasaanku seperti berlarian di taman bunga, tanpa aku sadari energi dalam diriku meningkat dan tidak merasa lemas lagi.


Setelah tersadar dari kekagumanku terhadap pria tersebut. Aku baru menyadari bahwa penampilannya berbeda dengan kebanyakan pria yang aku temui.


Banyak pertanyaan mulai muncul di kepalaku. Siapa dia sebenarnya?


Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya untuk mengamatiku sembari bibirnya tersenyum manis ke arahku, "karena kau sudah pulih! Aku akan meninggalkanmu disini!" selesai berkata dia langsung berbalik dan berjalan pergi meninggalkanku.


Aku hanya bisa menatap punggung kekarnya yang semakin menjauh tanpa bisa berkata apapun. Tak berselang lama puluhan tim SAR berhasil menemukanku dan membawaku kembali ke area camping, beberapa dokter mulai melakukan perawatan.


Aku hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang, pikiranku masih melayang memikirkan pria tampan yang telah menolongku, dalam hatiku masih begitu penasaran "SIAPA SEBENARNYA DIA????".

__ADS_1


terimakasih telah membaca......


yuk lanjut episode ke 2......


__ADS_2