Hukuman Dewa

Hukuman Dewa
bab 2 Siapa Dia?


__ADS_3

Pada hari kedua camping.


Aku masih menata semua pikiranku tentang kejadian hari kemarin, semua kejadian aneh yang ku alami serta sosok pria yang menyelamatkanku membuat penuh isi kepalaku.


Hari berlalu dengan cepat menjelang sore hari dosen memberi tugas untuk mengabadikan momen air mengalir di sungai kecil dekat perkemahan.


kami semua murid mendatangi sungai di dekat perkemahan. Tak ingin membuang waktu, aku mulai memotret semua hal-hal yang menarik di sekitar sungai, hingga pandanganku teralihkan ketika melihat sosok pria berpakaian hitam berdiri di atas bukit seakan mengawasi kami.


Melihatnya membuatku teringat bahwa dia adalah pria yang kemarin menolongku dari lumpur hisap,


dengan senang aku bergegas untuk naik ke atas bukit, tapi langkahku terhenti ketika salah satu teman bertanya padaku.


"Lisa, kau mau pergi kemana?" ucap Sasa salah satu teman dekat Lisa.


" Aku akan menemui pria yang menyelamatkanku kemarin!" sambil menunjuk ke atas bukit.


" Tidak ada siapapun di sana?!" jawab Sasa heran


Dari kata-kata temanku sedikit menjawab keraguanku selama ini, mungkinkah pria tersebut adalah sosok penjaga gunung ini, sosok yang hanya bisa terlihat olehku seperti yang diceritakan para pemandu gunung itu. Karena rasa penasaranku yang tinggi aku bergegas naik ke atas bukit untuk menemuinya.


Ketika aku berhasil sampai di atas bukit, dia hendak beranjak pergi meninggalkanku. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk memuaskan rasa penasaranku, aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.


" Apa kamu pria yang menyelamatkanku kemarin?"


Dia hanya diam dan hendak berjalan pergi.


" Apa kau akan pergi tanpa memberitahu namamu? paling tidak aku harus tau siapa nama penyelamatku! Agar mudah bagiku untuk membalas budimu?!"


Pria itu mulai berbalik badan sembari tersenyum manis kepadaku.


Melihat senyumannya yang begitu mempesona dari jarak yang sangat dekat hampir saja membuat jantungku keluar dan lutut ku menjadi lemas tak berdaya. Bukan tidak pernah melihat pria yang tampan sebelumnya, tapi untuk menggambarkan sosoknya bisa dikatakan ketampanan sempurna yang langka seperti dewa.


" Kakak dewa, boleh aku tau siapa namamu?"


" Aku Yasa, aku hanya seorang penjaga gunung tidak pantas untuk di panggil dengan sebutan dewa!"


" Bagiku kau sudah seperti dewa yang menyelamatkanku! Aku Lisa salam kenal!"

__ADS_1


Aku mengajaknya berjabat tangan perlahan dia mengulurkan tangannya dengan ragu dan mulai menjabat tanganku, senyuman riang terpancar di wajahnya dan lagi-lagi membuat jantungku berdebar kencang.


Kami mulai mengobrol dengan santai, dia pun mulai menceritakan tentang hidupnya, dia bercerita bahwa dirinya adalah roh penunggu gunung dan sudah menempati gunung itu kurang lebih 1000 tahun lamanya. Mendengar ceritanya tak terbayangkan olehku betapa tua usianya sekarang tapi melihat kembali sosoknya yang muda dan tampan perbedaan usia itu seakan tak ada artinya.


Berbincang dan mendengarkan ia bercerita membuatku semakin akrab dan nyaman bersamanya meski itu baru pertemuan ke dua kami.


Tampa disadari matahari sudah hampir tenggelam, kami pun mengakhiri obrolan kami hari ini.


Karena merasa kita sudah akrab, aku pun mengajaknya berteman dan mengajaknya untuk sering bertemu, dia pun menyetujuinya.


" Yasa, bagaimana caraku menemui mu lagi? dan kau tinggal dimana?"


" Aku tinggal di balik pohon besar di puncak gunung itu!" tunjuk Yasa.


" Bolehkah aku mengunjungimu?"


" Tentu " tersenyum.


Kamipun saling melambaikan tangan untuk mengakhiri perjumpaan kami.


Karena sudah gelap jalan hampir tidak terlihat, aku gunakan cahaya ponselku untuk menerangi jalan secara tidak sengaja aku terpeleset di antara bebatuan saat menyebrangi sungai ketika aku hampir jatuh dan membentur bebatuan, sepasang tangan mencoba meraihku, spontan aku menarik diriku kedalam pelukannya dengan cepat dia membawaku ke tepi sungai.


Dengan sihirnya, dia memanggil ribuan kunang-kunang untuk menerangi jalan kami, suasana malam itu menjadi sangat romantis dan hening karena kami hanya diam di sepanjang jalan. Setelah sampai di perkemahan dia pun menghilang bersamaan dengan ribuan kunang-kunang.


Ketika beranjak tidur, aku masih memikirkan kejadian ditepi sungai, perasaan sederhana yang membuat bahagia, ini kah yang dirasakan para gadis yang sedang jatuh cinta, dan aku justru sedang jatuh cinta dengan orang yang bahkan bukan manusia?


Di pagi hari


Karena cuaca yang cerah kami ditugaskan untuk mengabadikan bentuk dan pergerakan awan yang ada di sekitar gunung, untuk itu kami diwajibkan naik kepuncak gunung.


Dengan ditemani masing-masing pemandu, kami bergegas naik kepuncak gunung, sepanjang perjalanan aku memikirkan cara untuk mengunjungi tempat tinggal Yasa.


Hari menjelang siang


Selesai dengan tugas, aku menyuruh pemandu untuk istirahat sebentar, sementara aku berdalih ingin mengambil beberapa gambar lagi aku berusaha menuju tempat dimana pohon besar tempat Yasa tinggal.


Sampainya di pohon besar, tidak ada keanehan apapun yang terjadi hanya terlihat pemandangan perbukitan yang indah, sampai ketika tanganku menyentuh pohon besar itu, tiba-tiba Yasa muncul tepat dihadapan ku dengan senyuman yang cerah.

__ADS_1


Kemudian dia memegang tanganku dan seketika kami telah berada di padang bunga yang cantik dan wangi. Terlihat sebuah rumah dengan arsitek klasik gaya kerajaan diujung jalan berbunga, bentuk rumah yang sederhana serta dikelilingi pohon-pohon yang rindang menampilkan kesan indah seperti lukisan.


Kamipun berjalan melewati padang bunga yang indah dan harum yang semerbak untuk menuju rumahnya.


" Selamat datang di kediamanku" ucap Yasa sambil membukakan pintu rumahnya.


Betapa terkejutnya saat aku melihat seisi perabotan rumah yang tak jauh berbeda dengan rumah manusia pada umumnya, hanya terdapat banyak lukisan-lukisan dinding yang berkesan kuno.


" Dari mana kamu mendapatkan semua barang-barang ini?" tanya Lisa penasaran.


" Aku mendapatkannya saat berkunjung ke dunia manusia!" jawab Yasa singkat.


Dari jawabannya aku semakin penasaran dari mana dia mendapatkan uang, padahal dia hanya roh gunung.


Diapun mulai menjelaskan bahwa dalam dunianya ada semacam pasar gaib yang bisa menukar sedikit kekuatannya dengan apapun termasuk uang manusia, karena semakin besar kekuatan spiritual yang dimiliki mahluk gaib sepertinya, maka dia akan semakin kaya dan berkuasa di alamnya karena itulah dia dijuluki raja gunung karena hanya dia yang memiliki kekuatan alam terkuat setara dewa.


" Aku penasaran karena kekuatanmu yang besar kenapa kamu tidak menjadi dewa tetapi hanya menjadi seorang raja gunung?"


" Aku sendiri juga tidak tahu, karena yang aku ingat aku sudah terlahir untuk menjadi penunggu di gunung ini" jawab Yasa


Dari saat pertama kali kami bertemu dia sangat penasaran terhadapku, kenapa aku bisa melihatnya dan bahkan menyentuhnya di saat manusia lainpun tidak ada yang bisa. Aku sendiri juga penasaran akan hal itu, Karena sejak kecil hingga sekarang aku tidak pernah memiliki kemampuan seperti seorang indigo.


Yasa membawaku keruang bawah tanah miliknya dan menunjukan sebuah guci kuno, ia memintaku memberikan sehelai rambutku untuk dimasukan ke dalamnya, aku hanya bisa menuruti perkataannya tak disangka-sangka guci itu memancarkan cahaya biru yang terang setelah aku memasukan sehelai rambutku.


"Apa yang terjadi? kenapa guci nya memancarkan cahaya aneh?" tanya Lisa penasaran.


" Ini adalah guci sakti yang bisa mengetahui asal usul seseorang dan cahaya biru berasal dari langit, jadi kemungkinan besar kau adalah titisan Dewi ataupun rengkarnasi Dewi itu sendiri" jawab Yasa dengan senang.


" Apa itu anugerah atau bencana?" tanya Lisa bingung.


" Itu bisa jadi anugerah ataupun bencana! Karena cahaya biru telah aktif, mulai saat ini kamu bisa melihat semua makhluk gaib yang kuat yang ada di bumi ini" jawab Yasa menjelaskan.


" Jadi ini adalah bencana!" ucap Lisa tak senang.


" Tentu saja ini adalah anugerah yang indah! Karena cahaya ini kita bisa bertemu dan bersama seperti sekarang! Dan aku akan pastikan bencana apapun itu aku akan membuatnya menjauh darimu!" ucap Yasa sembari memegang tangan Lisa.


Mendengar kata-katanya, membuatku pipiku menjadi merah karena malu. Karena waktu semakin larut dia mengantarku pulang langsung ke perkemahan dengan kekuatan teleportasi.

__ADS_1


Setelah tiba di kemah aku baru tersadar meninggalkan pemandu gunung dipuncak gunung, apa yang terjadi dengan si pemandu?


Lanjut bab 3 ya....


__ADS_2