
*Sang Buah Hati
Di daerah jawa timur bagian pelosok, terdapat sebuah desa transmigrasi, di desa tersebut hidup dua golongan masyarakat yang memiliki keyakinan yang berbeda, mayoritas masyarakat didaerah tersebut memiliki keyakinan sebagai agama Hindu dan minoritas masyarakat lainnya memiliki keyakinan sebagai agama Kristen, meski hidup berdampingan mereka terlihat sangat rukun dan saling sapa satu dengan yang lainnya, seakan tiada batas diantara keduanya, baik tentang kasta maupun tentang suku.
Pak Louis merupakan satu-satunya pebisnis beras yang cukup terbilang sukses didaerah tersebut, yah karena penghasilan utama di desa tersebut ialah padi, selain itu ia juga satu-satunya pemilik rumah mewah yang ada di desa trans, kaya dan sukses sudah menjadi kebiasaan para warga untuk menjuluki pak Luis, namun di Usianya yang sudah menginjak 48 tahun itu ia belum juga dikaruniai seorang anak.
Di depan rumah yang cukup rindang dan ditemani hembusan angin sepoi-sepoi pak Louis dan isterinya sedang duduk santai di Gazebo depan rumahnya sembari bercengkrama lirih dari keduanya
"Mas, ini kehamilanku yang ke tujuh, usianyapun bentar lagi akan memasuki tujuh minggu, mas aku takut kalau janinku ini gak akan bertahan lama" ujar bu Intem sedikit cemas.
"Kamu ngomong apa sih, sekarang harap-harap cemas pun gak ada guna, sebaiknya kita banyak-banyak berdo'a sama tuhan" jawab santai pak Louis.
"Mas, gimana aku gak harap-harap cemas, ini kesempatan terakhir kita utuk punya anak, usia akupun sudah memasuki 41 tahun sudah tergolong usia yang rawan untuk hamil lagi mas!" balas bu Intem.
"Hum entahlah Intem, tapi beberapa malam ini aku bermimpi tentang hal yang aneh dan menyangkut tentang kehamilan kamu!" ungkap Louis.
"Hmm? memangnya mas mimpi apa?" tanya Intem sangat penasaran dan mulai memfokuskan pandangannya pada Louis.
"Aku bermimpi bertemu seseorang yang mengenakan baju putih, tapi aku gak bisa liat wajahnya, dia terlalu bercahaya" Louis terlihat sangat serius menceritakan mimpi yang dialaminya itu.
"Ow yah? terus, terus?" lagi-lagi Intem makin penasaran dengan mimpi suaminya itu
"Dia mengatakan kehamilanmu akan bertahan dan terus bertumbuh bahkan sampai didunia jika anak kita diberi nama awalan dengan nama Husnul" sontak Louis menggenggam kedua tangan Intem.
"Apah? hiiiis kedengarannya gak masuk akal mas, mungkin mimpi mas itu hanya kebetulan aja" pungkasnya sedikit mengalihkan.
"Awalnya aku juga berpikir gitu Intem, tapi masa iya selama tujuh malam berturut-turut ini mimpi aku selalu mimpi yang sama, kalau mau dikata kebetulan gak mungkin kan?" tukas Louis meyakinkan.
__ADS_1
"Pokoknya aku gak mau mas kalo anak kita diberi nama Husnul" Intem kemudian terperanjat dari tempat duduknya sembari membelakangi suaminya.
"Apa salahnya kita coba aja Intem" tak putus asa, Louispun segera menghampiri isterinya yang berdiri tidak jauh dengannya itu.
"Mas, mas tau kan? nama Husnul itu tuh lebih cocok untuk orang-orang yang beragama Islam!"
"Iya aku tau, tapi entah kenapa aku sangat yakin dengan mimpi itu!" Louis terus saja menggerutu.
"Mas..kalau mas mau ngasih nama ke anak kita, masih banyak lagi lah nama-nama anak yang ada di agama Hindu dan Kristen"
"Atau gini aja, gimana untuk sementara namanya Husnul dulu, sambil kita cari-cari nama yang cocok untuk digabungkan dengan nama khusnul ini, entah nama itu kita ambil dari agama kamu ataupun agama aku, gimana?" cetuhnya bersemangat.
"Huftt...tapi mas" dengan wajah lesuhnya ia memandangi Louis.
"Intem kita coba aja dulu, ya?"
Seketika itu Intempun dengan terpaksa membalas pertanyaan suaminya dengan anggukan, tampak wajah Intem sedikit cemberut seakan ia belum puas dengan keputusan suaminya.
7 Bulan Kemudian
Suasana pagi itu cukup ramai, terlihat beberapa pekerja tengah sibuk mengangkut se ton beras yang ada di gudang untuk segera dikirim ke kota, tampak beberapa buah mobil Truck terpakir di depan rumah mewah seorang bisnisman beras tersebut, pak Louis memantau para pekerja nya sembari memberikan beberapa arahan terkait pemindahan beras-beras tersebut, sesaat setelahnya iapun tersenyum lebar saat menyaksikan isterinya yang tengah hamil besar itu turut menghampirinya.
"Kamu kenapa ikutan keluar? udah istirahat aja didalem" cetuhnya sembari mengelus-elus perut isterinya.
"Bosanlah mas, hanya duduk didalam terus! umm nih si dede bayinya juga pengen liat dunia luar"
"Hum puji tuhan akhirnya usianya sudah mencapai tujuh bulan yah Intem?"
__ADS_1
"Iya mas Astungkare!" tak lupa Intem pun memanjatkan rasa syukurnya.
"Husnul yang tenang yah didalem, gak boleh nakal, kalo udah lahir nanti Husnul harus jaga mama yah nak?" dengan semangat ia mengungkapkan nasehat pendek nya itu sembari mengelus-elus perut isterinya.
"Mas, Maria!" cetuhnya sedikit ngambek.
"Iya sama aja, kan namanya Husnul Maria!"
"Tetap aja beda mas kalo dipanggil Maria!" dengan wajah cemberutnya Intem bersikap manja pada Louis.
"Iya...iya, yaudah kamu istirahat yah, mas mau berangkat dulu" cetuhnya berpamitan sembari mengecup kening bu Intem.
"Loh, jadi mas ikut pengantaran juga?" tanya Intem sedikit kesal.
"Iya, soalnya pembeli baru kita ingin bertemu langsung sama mas!" dengan tatapan meneduhkan ia menyoroti keduama bola mata Intem.
Saat Louis hendak memasuki truck tiba-tiba Intem melemparinya dengan beberapa pertanyaan yang jika di analisa saat ini, pertanyaan tersebut tidak seharusnya ia tanyakan sekarang.
"Mas?" teriaknya dari belakang sambil berlari kecil menghampiri Louis.
"Mmm...ada apa?" sesegera mungkin Louis menoleh kearah Intem.
"Aam setelah lahiran, anak kita nanti mau ikut agama siapa?" cetuhnya sangat kaku.
"Loh, kok Intem nanyanya gitu, hal inikan kita bisa bicarakan nanti" kelihatannya Louis sedikit tergesa-gesa untuk memulai pengantaran.
"Gak mas, aku pengen tau sekarang" Intem bersuara lirih.
__ADS_1
"Hum ya sudah, nanti setelah lahir, agamanya pake agama kamu aja dulu, tapi setelah dia berumur tujuh tahun, berikan pilihan pada dia, dia bebas memilih mau ikut agama kamu atau agama aku" balas Louis sembari memasuki mobil trucknya itu.
*To be Continue....