
*Peyerahan Bisnis Beras
Masih pagi-pagi buta, Intem sudah bersiap-siap untuk mengganti pakaiannya, setelah itu iapun mengambil handbag yang ada di laci meja, lalu keluar dari rumah menuju jalan raya, bi Della yang tak sengaja melihat Intem, pun menaruh rasa khawatir terpaksa diam-diam bi Della mengikutinya dari belakang.
Setelah 500 meter menyusuri bibir jalan, akhirnya dari kejauhan bi Della melihat Intem mulai berbelok ke arah kiri, lalu mampir ke sebuah rumah kecil, yang tidak lain rumah tersebut merupakan rumah dari pak Dalton kakak iparnya.
Teringat lagi percakapan mereka tadi malam bi Dellapun hanya bisa menggelengkan kepala lalu tersenyum kecil, mungkin saja Intem sudah membulatkan tekadnya untuk memercayai pak Dalton sebagai pengganti Louis dalam mengatasi bisnisnya yang masih sementara off dalam seminggu ini, rasa khawatir di benak bi Dellapun sirna seketika, hingga ia memutuskan untuk kembali ke rumah.
Sementara itu, pak Dalton dan isterinya sedikit terkejut melihat Intem yang masih sangat pagi ini sudah menyambangi rumahnya, bukan apa-apa tentunya setelah kepergian Louis mereka semua sangat mengkhawatirkan kondisi Intem, ditambah lagi saat ini ia yang tengah berbadan dua, tentunya semakin menambah kekhawatiran bagi orang-orang terdekatnya.
"Lah...Intem? Intem kok kesini?" Dalton menyambutnya di depan pintu pagar dengan ekspresi wajah yang sangat khawatir, namun Intem terus saja berjalan hingga ia menyetop langkahnya saat sudah berada di depan pintu rumah.
"Walah...Intem masih pagi-pagi kok udah jalan jauh kesini, kasian loh kamu tuh lagi hamil, udara dingin gini gak pake jaket lagi, kalau butuh sesuatu toh, tinggal nelpon aja, biar mas Dalton yang kesana" tambah bu winge, isteri Dalton yang juga turut mengkhawatirkan Intem.
"Yah gak apa-apa sesekali aku yang maen kesini, lagian di rumah juga sepi cuma aku dan bi Della, mending aku maen kesini, kenapa? mbak gak suka ya aku maen kesini?" sahut Intem dengan nada sedikit bercanda.
"Owalah Intem ada-ada aja kamu ini, aku malah senang loh kamu mau maen kesini Ntem, ya cuma itu...kandunganmu ituloh, inikan lagi musim dingin yang ada nanti kamu dan bayimu itu bisa masuk angin" Sontak Intem melepaskan tawa kecilnya, entahlah sejak dulu Winge dimata Intem adalah orang yang sangat lucu saat berbicara, itulah mengapa semakin Winge banyak berbicara semakin niat pula Intem untuk tertawa.
"Ya...dibilangin malah ketawa, aku ini serius loh, yowes masuk...masuk" keduanya pun bergegas masuk ke dalam rumah, pak Dalton yang sudah lebih dulu masuk kini tengah memindahkan beberapa lembar pakaian yang ditaroh Winge diatas sofa.
Winge segera memegang tangan Intem sampai saat ia akan duduk, karena dengan kondisi hamil besar tentunya pola berjalan Intem juga sedikit berubah seperti orang yang mulai kesulitan untuk beraktivitas, pak Dalton juga turut menemani keduanya disitu.
__ADS_1
"Ahm...kalo boleh tau ada perlu apa ya Ntem? masih pagi-pagi buta udah maen ke rumah?" kini Winge memulai percakapan serius, sudah pasti hal yang tengah dipikirkannya ialah akan ada hal penting yang mau dibicarakan oleh Intem, namun hal penting yang dimaksud Winge ialah berupa bantuan yang dibutuhkan dari suaminya, entah itu memindahkan beras atau mungkin saja untuk pengantaran beras dari desa ke desa.
"Mau pengantaran beras lagi ya? kalo masalah itu kenapa harus susah-susah kesini, kan bisa nelpon aja Ntem"
"Bukan mbak" kini Winge dan suaminya mulai bertatap-tatapan bingung, teringat akan sesuatu pak Dalton mulai membuka suara pada isterinya.
"Ya si Winge adeknya dateng kok gak ditawari minum, buatin minum sana di belakang"
"Ow iya sampe lupa, Ntem mau minum apa?" sahut Winge sembari terperanjat dari duduknya.
"Udah...gak usah repot-repot, sebenarnya Intem kesini itu mau ngomongin sesuatu" mendengar ucapan Intem yang semakin serius kini Winge kembali duduk lalu menyimak apa yang akan dibicarakan oleh Intem selanjutnya.
"Jadi begini, mbak...mas, aku kesini tu mau ngomongin masalah bisnis mas Louis ituloh"
"Udah delapan hari beras-beras di gudang itu belum di antar juga ke agen-agen yang ada di tiga desa, sebenarnya jadwal pengantarannya itu ya kemaren, tapi saya masih minta penangguhan waktu dulu untuk beberapa hari, sampai ada yang bisa menghadle semuanya dan untungnya semua agen-agen itu bisa mengerti dengan keadaan saya sekarang mbak"
"Iya Ntem...sebenarnya dari kemaren loh aku ini udah nyuruh masmu itu buat nanyain jadwal pengiriman beras-beras itu kapan, tapi apa? dia malah sibuk ngurusin kayu di belakang rumah" tambah Winge yang mulai berapi-api, rasanya ia juga turut kesal dengan pak Dalton saat itu.
"Ya kalo aku gak ngurus kayu lah kamu gak bisa masak toh" pak Dalton langsung menindih ucapan Winge yang sedikit terdengar menyudutkannya.
"Gini Ntem...sebenarnya mas berencana akhir minggu ini buat nanyain jadwal pengiriman beras, sekalian mindahin semua beras yang masih ada digudang dekat ladang itu, tapi ya Intem tau sendirilah mas mu ini kan merangkap dua pekerjaan, jadi harus di selesaiin satu-satu" paparnya lagi.
__ADS_1
"Iya mas, Intem ngerti, tapi sebenarnya tujuan Intem kesini mau meminta sama mas agar semua bisnis beras ini bisa di handle sama mas" sontak ke dua pasangan suami isteri itu terbelalak mendengar permintaan Intem, rasanya pak Dalton kurang pantas untuk mengambil Alih posisi Louis, anggap keduanya.
"Kenapa Intem memilih mas? padahalkan Intem masih punya Arie untuk menyerahkan bisnis ini dihandle sama dia"
Sebagai adik dari Louis tentunya, pak Dalton merasa sedikit tak enak hati jika Intem lebih mengutamakannya dari pada adik kandungnya sendiri, pun Winge juga turut sependapat dengan suaminya, ia tak mau pihak keluarga dari Intem berpikir yang tidak-tidak terhadap keluarga kecilnya, hal ini karena bisnis tersebut memang sudah di geluti Intem sebelum menikah dengan Louis, beruntungnya di tangan Louislah bisnisnya itu bisa menjadi besar seperti sekarang ini.
"Intem percaya sama mas" tuturnya seraya menyentuh pergelangan tangan pak Dalton, Dalton kemudian memandangi wajah Isterinya yang juga tampak ragu disebelahnya, setelah itu Intem lalu menyedorkan sebuah amplop yang berisi uang, sontak Winge langsung meraih amplop itu lalu bertanya pada Intem.
"Apa ini Ntem?"
"Itu hanya sedikit selipan uang saja mbak, mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan susu Abim" paparnya seraya memandangi anak bungsu Winge yang masih terlelap di ayunan, Intem tau sudah hampir 3 bulan ini Abim tak lagi minum susu, karena sebelumnya pak Dalton diketahui memiliki penyakit yang mengharuskannya untuk berhenti bekerja sebagai buruh kasar di dua tempat sekaligus, karena hal inilah kondisi keuangan mereka semakin tidak stabil.
"Kamu kok repot-repot pake ngasih duit segala Ntem" cetuhnya sedikit merasa tak enak hati.
"Ya gak apa-apa mbak, orang lain aja Intem ngasih, apalagi saudara sendiri mbak"
"Ntem...lebih baik Intem pikirkan lagi keputusan Intem ini, rasanya mas berat untuk menggantikan posisi mas Louis" tutur pak Dalton yang masih tak yakin dengan keputusan adik iparnya itu.
"Iya Ntem, jujur mbak sama mas mu ini jadi gak enak, apa nanti kata orang-orang tentang kami?" tambah Winge
"Mas sama mbak tenang aja, kalo nanti ada omongan yang macam-macam entah itu dari mulut orang lain, ataupun dari pihak keluarga Intem, biarlah semua itu jadi urusan Intem"
__ADS_1
Merasa yakin dengan ucapan Intem, akhirnya pak Dalton pun menyetujui permintaan Intem, setelah itu obrolan mereka berlanjut pada kondisi kehamilan Intem dan rencana lahirannya nanti, hingga akhirnya waktu mulai mengingatkan Intem untuk segera berpamitan pada pak Dalton dan Winge.
Setelah Intem kembali ke rumahnya, Winge yang masih memegang amplop tadi segera di buka olehnya, ia sedikit terkejut melihat nominal uang yang di kasih Intem, mungkin bagi Intem jumlahnya tak seberapa, tapi baginya uang yang di kasih Intem itu sangatlah banyak, bahkan jika di prediksi, uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selama 6 bulan.