Husnul Maria

Husnul Maria
Episode 3


__ADS_3

*7 Hari Setelah Kepergian Suami


"Mas...kok kamu tega sih, ninggalin aku sendiri hiiks...hiiks.." dengan berderai air mata, bu Intem menatap kosong bingkai foto pernikahan mereka yang mulai terlihat usang itu.


Tak ada yang tau bagaimana sulitnya bu Intem melewati tujuh hari ini tanpa mas Louis yang sudah menjadi teman hidupnya sejak 17 tahun silam, berulang-ulang kali ia mencoba untuk menerima semuanya, namun tetap saja hatinya selalu ingin bertengkar dengan benaknya.


Dari belakang, terdengar hentakan kaki mertuanya yang hendak menghampiri, tampak ia membawa sepiring makanan untuk Intem.


"Intem, makan lah dulu, dari kemaren kamu tuh belum makan loh"


"Aku gak nafsu makan bu"


"Coba aja dulu di makan, satu sendok dua sendok juga gak apa-apa"


"Bu...Intem gak nafsu makan" dengan bermuka layu, Intem mengulangi kalimat yang sama.


"Jangan pikirkan diri kamu, tuh...liat bayi yang ada di dalam kandunganmu" tutur sang mertua sedikit membentak.


"Nih...ibu masakin babi pad moo, untuk kamu, dimakan yah" tuturnya kembali merayu.


Intem hanya terdiam mendengarnya, hingga tak lama kemudian Intem terperanjat lalu berjalan ke dapur, dengan langkah terburu-buru ia memuntahkan cairan putih, mertuanyapun turut bergegas menghampiri Intem.


"Kamu masih belum bisa makan babi?"


"Iya bu" sahutnya dengan nafas yang engap.


"Ya sudah, nanti ibu bawa pulang saja pad moo itu ke rumah, biar dimakan sama bapak"

__ADS_1


"Maaf ya bu, bukannya Intem gak mau makan masakan ibu, tapi ibu tau sendirikan kondisi Intem sejak hamil"


"Iya gak apa-apa, ibu ngerti kok, yang penting sekarang kesehatan kamu dan bayi kamu" bu Jiyah mertuanya, menampilkan senyuman lebar pada Intem.


Hari ini sengaja sang mertua menyajikan menu Babi pad moo khusus untuk Intem, karena itu merupakan salah satu makanan yang paling di favoritkan Intem, berharap ia akan memakannya namun sayang Intem masih saja sulit untuk mengendalikan bawaan hamilnya.


Tampak dari bola mata sang mertua, terlihat betapa sayangnya ia dengan menantunya itu, bahkan jauh sebelum itu, saat-saat tersulit yang pernah di hadapi Intem dan Louis, saat dimana ia berkali-kali harus kehilangan anak karena kandungan Intem sangat lemah ungkap dokter, namun sang mertua tetap memberikan dukungan pada Intem, tetap mengurus dan merawatnya, jika di umpamakan dengan mertua yang lain mungkin saja ia akan menyuruh Louis untuk menikah lagi dengan perempuan yang bisa memberikan keturunan untuk anaknya, namun ia sama sekali tak melakukan hal itu.


Semua tau, sejak awal kehamilannya, Intem memang sudah tak lagi menyantap daging babi, seolah ia tak menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan babi, jangankan untuk memakannya, melihat hewan itu di sekitarnya saja ia sudah berteriak histeris seperti ia akan pingsan di buatnya, banyak yang mengatakan mungkin saja karena bawaan saat hamil, padahal sebelumnya ia sangat menyukai hewan itu.


Suatu waktu ia pernah menggendong dan memandikan anak babi yang paling gemesh menurutnya, pernah juga ia membiarkan krucilan anak-anak babi itu bermain di dalam rumahnya, namun sekarang tidak lagi, Intem juga punya 5 kandang peliharaan babi, yang sebelumnya ia rawat sendiri bersama sang suami, namun sejak Intem hamil sudah di ambil alih rawat oleh tukang kebunnya.


Kini di belakang terlihat bu Jiyah yang menghampiri sang asisten rumah tangga, sembari menuang pad moo pada kotak kecil untuk di bawanya pulang ke rumah, ia menyarankan pada sang asisten dapur itu untuk tidak mencampurkan daging babi dulu di setiap makanan intem.


"Bi...nanti buatin bubur tim aja ya buat Intem, dagingnya pake ayam aja soalnya dia belum bisa makan babi, gak usah pake santan"


"Baik bu"


"Iya bu, akan saya usahakan"


Della yang merupakan Asisten rumah tangga pak Louis dan bu Intem sejak 10 tahun yang lalu, sangat paham betul tipikal bu Jiyah seperti apa, meski ia terlihat sedikit cerewet, namun semua itu merupakan bentuk kepeduliannya terhadap menantu dan juga anak-anaknya.


*****


Sore itu, Intem tengah duduk di saung depan rumahnya, dengan tatapan kosong ia memandangi gudang beras yang ada di samping rumah, teringat kembali biasanya di sore hari seperti ini, Intem pasti menemani suaminya untuk menghitung jumlah beras yang sudah terbungkus karung di dalam gudang, setelah itu merekapun bergegas ke saung untuk menikmati teh hangat bersama.


"Mas...hiiks...hiiks..hiiiks.." Intem menangis lagi, ia benar-benar tak kuat harus menghadapi semua bayang-bayang Louis yang terus menghantuinya di rumah itu.

__ADS_1


Sementara dari dalam rumah, bi Della melihat kesedihan Intem, iapun tertunduk lesuh seolah turut merasakan apa yang tengah di rasakan majikannya itu, tak lama kemudian, karena melihat hari semakin gelap, bi Della pun segera menghampiri Intem.


"Bu...ayo masuk, udah magrib ini, gak baik duduk jam segini di luar" tutur bi Della, Intem yang membenarkan ucapan Della segera saja beranjak masuk ke dalam, dengan jalannya yang mulai tertatih-tatih itu, bi Della pun berupaya menggandeng tangan Intem sampai ke dalam rumah.


"Bibi masak apa malam ini?" tanya intem.


"Ahm...cuman masak bubur tim aja bu, ibu mau makan sekarang?"


"Iya, boleh deh bi"


Dengan senang hati bi Della segera ke dapur untuk menyiapkan bubur tim tersebut, setelah siap, ia kembali ruang tamu dengan semangkuk bubur timnya.


"Nih bu...hati-hati mangkuknya masih panas" tutur bi Della mengingatkan, seraya menyedorkan mangkuk tersebut pada Intem.


Setelah itu, Intem langsung menyantap bubur dengan membuka sedikit obrolan kecil pada bi Della yang saat ini tengah menemaninya untuk makan.


"Bi...menurut bibi, kira-kira siapa orang yang tepat, yang akan saya tunjuk untuk menggantikan posisi mas Louis dalam menghandle bisnis ini?"


Sudah pasti bisnis yang dimaksud Intem ialah bisnis berasnya, dan ia sudah menyiapkan tiga kandidat, yang tentunya para kandidat itu berasal dari orang-orang terdekatnya, ialah dua orang pria yang merupakan kakak iparnya dan satu orang pria lagi merupakan adik kandungnya, namun ke tiga orang tersebut belum mengetahui rencana intem ini.


"Aham...maaf bu, apa ini tidak berlebihan ibu meminta pendapat bibi?"


"Bi...saya cuman minta pendapat bibi saja, karena bagaimanapun juga, bibi sudah seperti orang tua saya disini, apapun pendapat bibi, tentunya akan saya pertimbangkan"


"Baiklah bu, kalo menurut bibi, mungkin pak Dalton sedikit lebih baik untuk mengurus bisnis ini" tuur bi Della menyebut nama salah satu kakak Iparnya.


"Kenapa bibi memilih pak Dalton?"

__ADS_1


"Karena menurut bibi, sedikit banyaknya pak Dalton sudah punya pengalaman dalam mengurus masalah beras, terus yang ke dua selama ini juga yang bibi lihat, pak Dalton sangat peduli dengan kita bu, setiap kali pak Louis meminta bantuan pak Dalton tak pernah menolak, bahkan yang bibi liat dia juga sangat sayang sama ibu layaknya adik kandung pak Dalton sendiri"


Mendengar pendapat bi Della yang cukup masuk akal itu, Intem sedikit dibuat bimbang karena sebelumnya ia sempat berniat untuk mengangkat Arie yang merupakan adik kandungnya untuk menggantikan posisi Louis, namun sikap Arie yang selama ini juga tidak begitu care pada keluarganya, intem dibuat berfikir kembali atas keputusannya itu, bagaimana tidak Arie yang hanya datang kerumahnya di saat ia mau meminjam uang, Arie juga tidak pernah mau membantu Louis saat Louis memerlukan bantuannya entah untuk mengirim beras ataupun hanya sekedar memindahkan beras di gudang, dan sampai saat ini intem juga belum menerima buah tangan dari Arie sebagai bentuk ucapan selamat atas kehamilannya.


__ADS_2