Husnul Maria

Husnul Maria
Episode 2


__ADS_3

*Malam Yang Mencekam


dari ruang tamu terlihat bu intem yang mengenakan pakaian berwarna merah muda, yang tengah mondar mandir dengan telpon genggam yang ia rapatkan ditelinga kanannya, sempat sesekali ia tersenyum kecil saat sedang bercengkrama dengan sang suami


"Halo mas?"


"Iya Ntem, gimana tadi, jadi pergi check up hari ini?"


"Iya udah tadi diantar sama buk dewi, hasil Check upnya astungkare baik mas gak ada masalah dengan bayi kita"


"Puji tuhan!" pak Louis bersyukur lega mendengarnya seraya mengelus pelan jidatnya yang mulai terasa dingin itu.


"Umm sekarang mas udah sampai dimana?"


"Ini lagi di ladang Lewah Ntem"


"Ouw masih jauh yah mas yaudah mas fokus nyetir aja dulu, hati-hati jalanan cukup licin mas"


"Iya...iya, kamu juga ya Ntem, kalo udah ngantuk gak apa-apa tidur aja duluan, gak usah nunggu aku"


"Iya mas, selamat malam mas!" ujarnya sembari menyudahi obrolan mereka lewat telepon.


Malam yang hampir larut itu, bu intem masih saja terjaga di ruang tamu dengan menikmati segelas susu sembari menunggu kedatangan sang suami, tarikan nafas yang panjang berulang-ulang kali ia hembuskan, seakan bulu romanya mulai berdiri saat ia mengamati gelapanya malam dibalik jendela yang hanya tertutupi setengah kain gorden itu, berkali-kali terdengar suara gemuruh petir seakan memekik ditelinga dan semburan cahaya kilat sesekali menimbulkan rasa kejut yang berulang

__ADS_1


perlahan ia mulai mendekati jendela tersebut, cukup lama ia berdiri ditepi jendela, dengan tenang ia memandangi begitu derasnya cucuran air hujan yang berjatuhan, terbesit seutas asa yang terus diniatkan, semoga sang suami bisa menikmati perjalanannya malam ini tanpa rasa takut dan cemas


"non...? non kok belum tidur ?" tanya seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai Asisten rumah tangga


"Belum ngantuk bi..lagipula mas Louis juga belum pulang!" cetuhnya sangat pelan


"non istirahat aja dulu, ibu hamil gak boleh begadang terlalu malam"


"Sesekali gak apa-apa bi"


"Gini aja non kalo pak Louisnya udah pulang nanti bibi bangunin non" cetuh Bi Della merayu


"bibi istirahat aja duluan, masih ada banyak hal yang mau saya ceritain ke mas Louis, lagi pula dia pasti sedang kedinginan diperjalanan, kasian mas Louis"


"iya non...mau sekalian bibi buatin susu lagi ?" tanya balik bi Della.


"aam....gak usah bi!" tukas bu intem singkat


********


Hujan pun mulai reda, seketika itu ia terperanjat dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki menuju jendela sesegera mungkin ia memandang ke arah jalan raya yang sudah terlihat sepi itu rasanya tidak ada tanda-tanda suara mobil truck yang akan menepih didepan rumahnya.


"mas...kamu dimana sih? kok jam segini belum nyampe juga dirumah, katanya tadi udah di simpang tiga, seharusnya dari tadi mas udah sampe disini, huuuffft...kalaupun iya mas menyinggahi suatu tempat setidaknya beri kabar mas, ditelponpun mas gak angkat" gumamnya dalam hati

__ADS_1


sekali lagi ia menengadahkan wajahnya, melihat ke arah jarum jam yang saat ini telah menunjukkan pukul 02:07 WIB, intem masih kekeh untuk tetap duduk di sofa dengan memeluk handuk suaminya, tidak lama kemudian dari luar terdengar suara langkah kaki.


"intem? intem.? intem buka pintu intem Hiiks..hiiks...hiiiks..!!!" terdengar suara ibu mertuanya


"mamah ? mamah kenapa?" tanya intem sedikit panik


"intem!!! hiiiiks...hiiiks..hiiiiks..!!!" tangisan mertuanya


"mah, mama dipukul lagi yah sama ayah?" tanya intem semakin penasaran


"gak gak mama gak percaya intem, hiiks..hikss!!!" Mertuanya terus merengek


"maksudnya apa sih mah? intem gak ngerti" cetuhnya dengan wajah lesuh bercampur cemas


"Louis...intem, Louis...hiiikss" seketika itu mertuanya pun tersungkur seakan tak berdaya menyebut nama anaknya


"ada apa dengan mas Louis mah?" tanyanya pelan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca


seketika itu, terdengar bunyi sirine ambulans dari kejauhan, perlahan-lahan bunyi itu semakin jelas terdengar, tak menunggu waktu yang lama, ambulans tersebut menepih didepan rumah mewah bu intem, tepat didepan pintu ia menatap para petugas medis yang hendak menggiring sebuah jenazah untuk dimasukkan kedalam rumah, intem hanya bisa menelan ludah dan menitihkan air mata sesaat setelahnya terdengar tangisan yang mulai pecah dari bu intem sendiri, pihak keluarga maupun para tetangga


lagi-lagi intem seakan sedang mengigau setelah menyaksikan mayat suaminya, yang sudah pucat dan terbujur kaku, akibat kecelakaan yang terjadi menyebabkan beberapa bagian tubuh dari pak Louis membekas lebam membiru, terkadang sesekali bu intem menyesalkan kondisi yang sudah terjadi, memikirkan kondisi janinnya yang baru berusia tujuh bulan sudah harus memikul status tanpa ayah


sangkalan demi sangkalan ia ciptakan untuk sedikit menghibur hatinya, dengan menganggap suaminya masih hidup adalah cara yang sedikit menenangkan, meskipun pada hakikatnya kenyataan tak bisa disamarkan

__ADS_1


**********To be Continue*********


__ADS_2