Husnul Maria

Husnul Maria
Episode 5


__ADS_3

*Kabar Hangat


"Mas...yang tiga karung itu disimpan saja dulu di gudang, yang 40 karungnya langsung di naikin ke truk ya, kita langsung kirim hari ini" teriak pak Dalton mengarahkan beberapa buruh yang saat itu berada di dalam gudang.


Intem pun turut keluar melihat-lihat keramaian disekitar rumahnya, dengan langkah yang tertatih-tatih ia lalu berjalan menuju gazebo, tampak bi Della yang tengah menyajikan pisang goreng, seraya mengatur beberapa gelas kosong lalu menuangkan teh didalamnya untuk para pekerja itu.


"Bi, itu gelasnya cukup gak? soalnya hari ini si Fandi sudah masuk" terang Intem.


"Iya sudah bu"


Tidak lama kemudian, Dalton mulai menghampiri mereka, dengan nafas yang terdengar engap dan wajahnya yang penuh dengan titihan keringat ia mengambil tempat duduk tepat di samping Intem, sontak Intem mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak kuat harus melihat wajah Dalton yang sangat mirip dengan suaminya, pun beberapa tingkah laku Dalton juga sedikit menyerupai Louis seperti duduk di dekatnya, bagaimana Dalton mengusap peluh di wajahnya, cara berjalan bahkan aksen bicara semuanya terlihat sangat mirip dengan Louis.


"Rencananya hari ini mas mau ngirim 120 karung dulu, nanti sisanya besok baru mas antarkan lagi" tutur Dalton seketika.


"Iya mas, gak usah buru-buru, lagian mas jugakan belum terlalu pulih dari sakitnya" sahut Intem, tiba-tiba ia berubah ekspresi layaknya orang yang tengah kaget dari lamunan, dengan segera ia mengambil satu piring kecil berisi pisang goreng dan segelas teh lalu di sajikannya di hadapan Dalton.


"Eh...mas sarapan dulu"


"Iya..iya mas mau nyuci tangan bentar"


"Bi, panggil yang lain ya, biar sarapan bareng"


"Baik bu" saat itu juga bi Della berjalan ke gudang lalu bersuara agar keras memanggil pekerja yang ada di sana.


"Pak...pak, sarapan lah dulu setelah itu baru di lanjutin lagi kerjaannya"


"Iya bi..." sahut para pekerja itu.


*****


Ternyata kabar tentang Dalton yang menggantikan posisi Louis, kini telah ramai di perbincangkan para warga, ada yang setuju tetapi banyak juga yang tidak setuju atas keputusan Intem yang lebih memilih Dalton dari pada Arie untuk mengolah bisnisnya, mereka beramai-ramai ikut campur dengan memberi komentar tentang masalah itu seolah mereka yang paling tau bagaimana alur kehidupan Intem dan keluarganya.


"Eh Ri, udah tau belum?" tanya bu Sarti pada Arie, yang saat itu tengah menikmati sepiring pisang klepon di gazebo depan rumah bersama anak dan isterinya.


"Hmm? tau apa mbak?" tanya Arie yang terlihat sedikit kebingungan.


"Itu loh, mbak mu itu"


"Kenapa dengan mbak Intem?"


"Owalah Ri, semua orang kampung sini udah pada tau, lah kamu masih gak tau apa-apa toh?"


"Ituloh mas, denger-denger sih mbak Intem nunjuk pak Dalton buat gantiin posisi suaminya" tambah Riri, rupanya isteri Arie telah lebih dulu mengetahui kabar itu ketimbang Arie.


"Haa?" sontak Arie terkejut mendengar ucapan isterinya.


"Iya...heran aku, masa mbakmu itu lebih mengutamakan iparnya dari pada adiknya sendiri, padahalkan kalau di pikir-pikir kamu juga bisa menghandle beras-beras itu Ri" lanjut bu Sarti sedikit memanasi keadaan.


"Yah gak usah heranlah mbak, dari dulu juga kan mereka itu pintar cari muka sama mbak Intem" Riri yang mulai kepanasan juga turut bersuara jengkel di buatnya.


Sontak Arie yang tak terima pun langsung terperanjat dari duduknya, dengan tergesah-gesah ia memakai sendal jepit lalu bergegas pergi dari situ.


"Loh mas mau kemana?" tanya Riri.


"Mau ke rumah mbak Intem" sahutnya dari kejauhan.

__ADS_1


"Loh..loh...mas?"


"Sudah...biarin aja dia kesana, biar tau rasa si Dalton itu" tambah bu Sarti, sedikit berupaya menahan Riri.


"Ituloh mbak, makanan babi itu di belakang belum di apa-apain sama mas Arie?"


"Sudahlah itu, nanti juga bakalan di urus sama Arie setelah pulang dari sana"


Tidak lama kemudian sampailah Arie di rumah kakaknya, ia tertegun sejenak di depan pagar sembari melihat pemandangan teduh yang ada di depan rumah pebisnis beras itu, pemandangan teduh yan di maksud yakni, kumpulan para pekerja yang tengah menikmati sarapan pagi. Pak Dalton, Intem dan juga bi Della turut bergabung disitu sembari menanggapi beberapa obrolan ringan yang terjadi satu sama lain.


Hingga tak sengaja Intem mulai melihat Arie yang menegap disisi pagar kala itu, Intem memerhatikan cukup lama sampai ia benar-benar yakin kalau yang telah di lihatnya itu ialah Arie adiknya.


"Arie?" panggil Intem, sontak semua mata mulai tertuju pada Arie.


Mendengar sapaan kakaknya, Arie sama sekali tak bersuara, iapun enggan untuk berpindah dari situ, hingga pak Dalton mulai terperanjat lalu menghapiri Arie.


"Ayok Rie, kita sarapan bareng" ajak Dalton terlihat sangat tulus seraya meraih tangan Arie, namun Arie yang kala itu sudah terlanjur jengkel dengannya sontak saja ia menghempas tangan Dalton lalu melayangkan tiga pukulan ke tubuh Dalton hingga Dalton terhempas jatuh ke tanah.


"Haaah....!" melihat kejadian itu, Intem dan bi Della kompak berteriak histeris.


Sementara pekerja yang lain mulai terburu-buru menghampiri ke duanya lalu berusaha melerai Arie yang saat ini masih belum puas menghantam Dalton.


Intempun dengan tertatih-tatih menghampiri Arie, ia lalu menampar pipi kiri adiknya itu yang menurutnya apa yang baru saja ia lihat sudah sangat keterlaluan.


"Kamu bener-bener keterlaluan ya...kamu sadar gak apa yang kamu lakuin barusan? bikin malu aja" papar Intem dengan seluruh kebenciannya.


"Aku yang keterlaluan atau mbak yang keterlaluan?" ucapan Arie terdengar seperti tengah menantang Intem, sejenak Intem bisa menebak maksud Arie atas ucapannya itu.


"Kenapa? apa yang mbak lakukan sampai menurut kamu keterlaluan?" Intem dengan sengaja kembali menantang ucapan Arie.


"Kenapa mbak lebih menomor satukan dia dari pada aku, adik mbak sendiri?" tukasnya seraya menunjuk Dalton.


"Ini bukan masalah siapa yang nomor satu, dua atau tiga, tapi ini masalah kepercayaan dan tanggung jawab, dan tanpa kamu sadar selama ini mbak sudah banyak kasih kamu kesempatan, tapi sayang mbak sama sekali tidak melihat kepercayaan dan tanggung jawab itu dalam diri kamu" Intem yang ditemani bi Della, segera meninggalkan Arief lalu masuk ke dalam rumah.


Pak Dalton yang masih menahan kesakitan segera memberi aba-aba kepada para pekerja untuk meninggalkan kerumunan, namun hati Arie yang masih menggebu-gebu dan belum puas atas penjelasan Intem tadi, ia pun menyusul Intem masuk ke dalam rumah.


"Mbak..sampai hati mbak mengatakan hal seperti itu, seolah-olah mbak tidak percaya dengan aku" sekali lagi Arie meninggikan suara di hadapan Intem, pak Dalton yang melihat keributan masih saja berlanjut ia pun turut mengkhawatirkan keadaan Intem didalam sana, tak banyak berfikir lagi ia segera menyusul masuk ke dalam rumah, Arie yang melihat kehadiran Dalton disitu sontak kemarahannya semakin menyeruak hingga saat itu juga ia berani mengusir kakak ipar Intem.


"Ngapain kamu kesini? keluar sekarang, ini bukan urusan kamu" Mendengar kalimat tega dari mulut Arie seketika itu juga Intem berteriak tegas pada Arie.


"Arie...Ini rumah saya, kamu tidak punya hak untuk mengusir siapapun dari rumah ini" tambah Intem.


Kelihatannya Arie semakin kecewa dengan ucapn Intem barusan, ia hanya terdiam menahan emosi sembari menatap tajam wajah Intem dan juga wajah Dalton setelah itu tak ada lagi kata-kata yang terlontar dari mulut Arie, hingga ia memutuskan untuk pergi dari situ.


Sementara kondisi Intem tiba-tiba berubah menjadi tak stabil, dimana ia hampir saja terjatuh dengan wajah yang menahan kesakitan beruntung bi Della langsung menahan Intem lalu menggiringnya untuk duduk di sofa.


"Auuh...hiiss...auuh" Intem mulai merasakan kesakitan, tampak ia juga berusaha mengelus-elus perutnya namun rasa sakit itu tak kunjung hilang juga, hingga bi Della dan pak Dalton pun mulai terlihat panik.


"Ntem...kenapa ntem?" tanya Dalton.


"Haduuh..haduh mas sakit..."


"Pak, mending kita bawa ibu ke puskesmas sekarang, takut ada apa-apa sama bayinya" tutur bi Della yang semakin khawatir di buatnya.


"Iya bi...iya bi"

__ADS_1


*****


Sesampainya di puskesmas Intem segera di bawa ke UGD, sementara dokter masih melakukan pemeriksaan, bi Della dan Dalton segera menunggu di balik tirai, namun setelah di periksa dokter, Intem disarankan untuk segera melakukan persalinan.


"A...apa dokter?" tentu saja Dalton sedikit terkejut mendengar informasi dari dokter.


"Bukannya masih dua bulan lagi ya dok?" tambah bi Della.


"Iya, tapi karena kondisi bu Intem sekarang benar-benar darurat, jadi kami harus segera mengeluarkan bayinya, jika hal itu tidak di lakukan sekarang maka kondisi ke duanya akan bahaya"


"Bapak ini suaminya?" tanya seorang perawat yang kala itu menghampiri mereka.


"Bukan, saya kakaknya sus"


"Suaminya kemana?"


"Suaminya sudah meninggal dunia sus"


"Oh ya sudah, kalo gitu bapak saja yang mewakilkan untuk tanda tangan disini, jika bapak setuju untuk dilakukan prosedur lingkari kata setuju, jika tidak maka lingkari kata tidak setuju" jelas perawat tersebut, seraya menyedorkan lembar inform consent pada pak Dalton.


Tak ada pilihan lagi, pak Dalton segera menandatangani inform consent yang di serahkan perawat padanya, ia lalu melingkari kata "Setuju" atas tindakan yang akan dilakukan, dengan segudang harapan semoga ke duanya bisa selamat.


"Ahm...sus? nanti lahirannya normal atau operasi?" tanya Dalton sembari menyerahkan lembar inform consent yang sudah ditandatanganinya tadi.


"Kami akan upayakan lahiran normal, jika tidak bisa, maka kami akan rujuk ke rumah sakit kecamatan untuk di lakukan tindakan operasi"


"Masih ada yang mau di tanyakan lagi?"


"Tidak ada sus, makasih ya sus"


"Iya sama-sama"


Siang itu, tepat pukul 13.00 WIB, Intem segera di boyong ke ruang bersalin, terlihat bi Della dan pak Dalton juga turut menemani Intem sampai mereka di berhentikan perawat saat akan masuk ke ruangan.


"Maaf ibu tunggu di luar, biar bapaknya saja yang masuk ke dalam" tutur seorang bidan pada bi Della.


"Saya bukan suaminya, biar dia saja yang masuk, saya tunggu di luar" Dalton segera menolak permintaan sang bidan, ia merasa tak enak jika ia yang bukan suami Intem di tunjuk untuk menemani Intem di dalam.


"Baiklah...ayo bu" sahut bidan tersebut sembari menyilahkan bi Della untuk masuk, sementara itu Dalton segera engabarkan pihak keluarga tentang kondisi Intem saat ini, ia juga turut mengabari Arie namun panggilan telponnya sama sekali tidak di jawab oleh Arie.


30 menit sudah waktu berlalu, para keluarga mulai berdatangan satu satu termasuk isteri Dalton dan anak-anaknya, hingga tidak lama kemudian mulai terdengar tangisan bayi di dalam sana, Dalton yang merasa terharu kala itu sontak menitihkan air mata, ia pun terlihat sudah tak sabar ingin masuk ke dalam.


Bidan yang menangani lahiran Intem segera membuka pintu, lalu menyilahkan para keluraga untuk bergantian menjenguk Intem di dalam, yang pertama kali masuk ke dalam sudahlah pasti Dalton, isteri dan juga ibunya, tampak bola mata yang berkaca-kaca dan juga raut wajah yang bahagia membalut wajah mereka saat menghampiri Intem.


Bidan tersebut kemudian meminta dalton untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian medis lalu menyelimuti bayi Intem ke tubuhnya, Dalton pun melakukan sesuai arahan bidan itu.


"Maria....!" sapa gemesh isteri Dalton, pada si kecil itu.


"Untuk tiga hari ini, biarkan ibu dan bayinya di rawat disini dulu ya, setelah itu kami akan mengecek kondisi kesehatan lanjutan ibu Intem dan bayinya"


"Baik bu bidan" sahut kompak semuanya.


"Bu bidan, ini berat badannya berapa ya?" tanya bu Jiyah.


"Berat badannya hanya 2000 gr. saja, soalnya bayi inikan lahirnya juga prematur, tapi nanti kami akan kolaborasi dengan pihak gizi untuk membuat jadwal dan jenis makanan yang akan di konsumsi bayi bu Intem ini"

__ADS_1


Setelah bidan itu pergi, semuanya mulai mengerumuni Maria, dengan senyuman dan juga air mata bahagia, hingga Maria yang masih memerah itupun mulai melancipkan senyuman, hingga semua keluarga di sekitarnya dibuat tertawa kagum olehnya.


__ADS_2