Hwang Hwang Couple

Hwang Hwang Couple
15


__ADS_3

The old man who became his neighbor patted his shoulder (which made Hyunjin jump, his heart almost fell into a pile of snow). Said in sign language, 'take care of him'. Hyunjin sighed. The old man looked at him straight until Hyunjin broke down. He leaned over and carried her, stepping into his lonely apartment. Only this time. . . . Never entrust a hero to take care of a human child (or even living things in general) to him. His mouth was relentlessly issuing a rut (which, fortunately, he could not hear himself, and no one else too) while holding the girl, took her to the bathroom. Sheet after sheet of warm clothing wrapped around the girl's body was removed. Leaving a thin T-shirt and shorts wrapped around the body - hey, however, he was still a man here. The water in the bathtub is already warm. Slowly, his hand lowered the girl's body into the bathtub. At least this is how to overcome hypothermia that he saw on the internet. His head turned, he chose to take a chair and wait in front of the door. The nameless girl was unconscious and needed help — that's all she had in mind. It's not like Hyunjin has a lot of empathy, but it will be troublesome if the girl turns into a corpse here. The girl's eyes then opened slowly. Long. Hyunjin remained silent in his seat, watching the girl from a distance. The girl's fingers slowly moved, then her hands rose to hold the edge of the bathtub before the girl rose a few minutes later. The girl's eyes stared at the old bathroom wall, rolling toward her before the cleavage of her lips opened, squealing loudly. "AAAAAAAAAAAH!" Until Hyunjin's ears ring. Until his emotions shot up and the snares arrived at the tip of his tongue. "Can you shut up a little, no ?!" A few seconds later Hyunjin was stunned. The girl was stunned. Both stare at each other confused. Silence covered until Hyunjin decided to open his mouth. "I ... can you hear your voice?" . . . First, he met a girl who was buried in snow — a girl who looked sweet only when she fell asleep, but her scream was the loudest scream Hyunjin had ever heard. Maybe this is the influence of ten years unable to hear anything, so presented with a big voice, his ears were shocked. Secondly, he just found out if the original sound after puberty can be as loud as that. The nameless girl sits in front of her desk clad in Hyunjin's oversized sweater, eating one cup of instant ramyeon in the grade. Water vapor tickles his eyes, makes his lips pursed, blowing slowly. Hyunjin snorted, his eyes shifted to the dark screen television. Reluctant to look at the girl who is still anonymous. Even still think of previous events.


He heard his own voice. He heard the girl's shrill voice. Remember his mother's writing when Hyunjin was first deaf. The deaf is only temporary. He will not be deaf again when meeting with his soul mate. For the first time in ten years, he was deaf, he could hear again. Good news and not at the same time. Because until now, he still can't accept. Alright, this nameless girl has a pretty face. However, the cold beat the cold snow that kept falling out there. Also his eyes, Hyunjin swears he saw the carcass floating in the eyes of the girl. Not to mention, since that incident they had not exchanged words until this moment. This girl is not polite to the size of the person riding (for Hyunjin) and Hyunjin doesn't like it.


Pria tua yang menjadi tetangganya menepuk bahunya (yang membuat Hyunjin melonjak, jantungnya hampir saja jatuh ke tumpukan salju). Berkata dengan bahasa isyarat, ‘rawatlah dia’. Hyunjin mendecih. Pria tua itu menatapnya lurus sampai Hyunjin luruh. Dibungkukkannya tubuh dan digendongnya gadis itu, melangkah menuju apartemennya yang sepi.


Hanya kali ini.


.


.


.


Jangan pernah mempercayakan pekara mengurus seorang anak manusia (atau bahkan makhluk hidup secara general) padanya. Mulutnya tanpa henti mengeluarkan rutukan (yang untungnya, tidak bisa didengarnya sendiri, dan tidak ada orang lain juga) selama menggendong gadis itu, membawanya menuju kamar mandi. Lembar demi lembar pakaian hangat yang membaluti tubuh sang gadis dilepas. Menyisakan selembar kaos tipis dan celana pendek yang membaluti tubuh—hei, bagaimanapun, ia tetap seorang laki-laki di sini. Air di bathtub sudah hangat. Perlahan, tangannya menurunkan tubuh sang gadis ke dalam bathtub.

__ADS_1


Setidaknya begini cara mengatasi hipotermia yang ia lihat di internet. Kepalanya dipalingkan, ia memilih mengambil kursi dan menunggu di depan pintu. Gadis tanpa nama itu tak sadarkan diri dan butuh pertolongan—hanya itu yang ada di pikirannya. Bukannya Hyunjin punya banyak empati, tetapi akan repot jika gadis itu berubah menjadi mayat di sini.


Mata gadis itu kemudian terbuka perlahan. Lama. Hyunjin tetap diam di tempat duduknya, menyaksikan gadis itu dari kejauhan. Jemari gadis itu perlahan bergerak, kemudian tangannya naik memegang tepi bathtub sebelum gadis itu bangkit beberapa menit kemudian. Mata gadis itu menatap dinding kamar mandi lama, bergulir ke arahnya sebelum belahan bibir gadis itu terbuka, memekik kencang.


“AAAAAAAAAAAH!”


Sampai telinga Hyunjin terasa berdenging. Sampai emosinya melesat naik dan bentakan itu tiba di ujung lidah.


“Bisa diam sedikit, tidak?!”


“Aku ... bisa mendengar suaramu?”


.


.

__ADS_1


.


Pertama, ia bertemu dengan seorang gadis yang tertimbun salju—gadis yang tampak manis hanya saat ia tertidur, tapi teriakannya adalah teriakan paling kencang yang pernah Hyunjin dengar. Mungkin ini pengaruh sepuluh tahun tidak mampu mendengar apapun, begitu disodori suara besar, telinganya terkejut.


Kedua, ia baru tahu jika suara aslinya setelah pubertas bisa selantang itu.


Gadis tanpa nama itu duduk di depan mejanya berbalut sweater kebesaran milik Hyunjin, tengah menyantap satu cup ramyeon instan ala kadar. Uap air menggelitik matanya, membuat kedua bibirnya mengerucut, meniup pelan. Hyunjin mendengus, pandangannya teralih pada televisi yang layarnya gelap. Enggan menatap gadis yang masih anonim. Pun masih terpikir reka kejadian sebelumnya.


Ia mendengar suaranya sendiri.


Ia mendengar suara lengking sang gadis.


Teringatlah tulisan ibunya saat pertama kali Hyunjin tuli. Tulinya hanya bersifat sementara. Ia tidak akan tuli lagi jika bertemu dengan belahan jiwanya. Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun tuli, ia dapat mendengar suara lagi. Kabar yang menyenangkan dan tidak di saat yang sama.


Karena sampai sekarang, ia masih belum bisa menerima. Baiklah, gadis tanpa nama ini berwajah cantik. Namun, dinginnya mengalahkan dingin salju yang terus turun di luar sana. Juga matanya, Hyunjin bersumpah ia melihat bangkai terapung-apung di mata sang gadis. Belum lagi, sejak kejadian tadi mereka tidak bertukar kata hingga detik ini. Gadis ini tidak sopan untuk ukuran orang yang menumpang (bagi Hyunjin) dan Hyunjin tidak menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2