Hwang Hwang Couple

Hwang Hwang Couple
16


__ADS_3

The fact that this nameless girl is her soul mate increases her dislike. "Tell. What are you doing in the snow? " Hyunjin broke the silence for the first time. The girl raised her head, lowered the ramyeon cup slowly and looked at Hyunjin. There was a sigh and a long pause before the girl began to tell the story. Even his eyes did not look at Hyunjin, but towards the wall behind Hyunjin, the sign that the girl was thinking. "I fell asleep." Hyunjin's brow furrowed. In his gaze tucked the signal for the girl to tell more. "I just ran away from my house and have no more goals." Paused. "At that time the snow had not yet fallen. And I'm tired. That's why I sleep in a tree. When I wake up, I'm already in your place. " "Where is your house?" "Incheon." The wrinkles on Hyunjin's forehead are deepening. The reason that sounds strange, in his ear. Just as strange as the nameless girl. From Incheon all the way to Seoul just to sleep? There are so many holes and question marks from the girl's story. And apparently the girl did not want to tell more, which made her upset. "Look, I'm giving you food and shelter so you don't die around here." Hyunjin's gaze was sharp, directed at the girl, "And I don't know what you will do after this. If you want to die, find your grave somewhere else. " The girl sipped her drink. Acting as if he didn't hear Hyunjin's words at all. "I don't know where else to go." The girl finally said. Not even looking at it, "Before you say at length, shouldn't you introduce yourself?" Hyunjin's eyebrows raised, "Is that really necessary?" "Or do you want me to call Mr. Anger for life?" The girl raised her head. The girl's gaze was straight at him, "Besides, I have been able to hear again since I met you." Hyunjin chuckles, ruffling her hair impatiently. No matter how he hated the cold faced girl before him, fate had decided that they were soulmates. Hyunjin can hear again thanks to this girl (and she hates to admit this), after all. Just think of this as one of his efforts to return the favor. Even though far, deep in his heart, Hyunjin thinks that fate only wants to play around like a child. "Hyunjin. Hwang Hyunjin. " However, the tone of his voice was not able to lie. His name slides from the tongue with express reluctance. "Hwang Yeji." The girl looked at him. Not even bowing. "Thank you for the ride." . . . Yeji sleeps on the front couch, simply because Hyunjin doesn't want to give his bed to a foreign girl.


And Hyunjin slept late that night. In his mind, he kept thinking there would be many possibilities. What should he do with Yeji? Not that Hyunjin already has a steady income — even for food, he still depends on the parents' remittances. Accommodating just one person is already exhausted, let alone accommodate two people? Why did the girl have to be around her apartment? Why did he help him then? Maybe because of the subconscious - moved because according to their destiny are soulmates? That thought made Hyunjin sad. His body turned, staring at the blank white wall before another thought crossed his mind. At least thanks to Yeji, he can hear again. And that's the most important thing, right? His hearing returned. Back to normal. . . .


Fakta bahwa gadis tanpa nama ini adalah belahan jiwanya membuat ketidaksukaannya bertambah.


“Jelaskan. Apa yang kau lakukan di atas salju?”


Hyunjin yang pertama kali memecah hening. Gadis itu mengangkat kepalanya, menurunkan cup ramyeon perlahan dan menatap Hyunjin. Ada helaan napas dan jeda waktu cukup lama sebelum gadis itu mulai bercerita. Pun matanya tidak menatap Hyunjin, melainkan ke arah dinding di belakang Hyunjin tanda gadis itu tengah berpikir.


“Aku tertidur.”


Kening Hyunjin berkerut. Dalam tatapnya terselip isyarat perintah bagi gadis itu untuk bercerita lebih.


“Aku baru saja kabur dari rumahku dan tidak punya tujuan lagi.” Dijeda. “Saat itu salju belum turun. Dan aku lelah. Karena itu aku tidur di pohon. Saat bangun, aku sudah ada di tempatmu.”


“Di mana rumahmu?”


“Incheon.”

__ADS_1


Kerutan di kening Hyunjin semakin dalam. Alasan yang terdengar aneh, di telinganya. Sama anehnya dengan sang gadis tanpa nama. Dari Incheon jauh-jauh ke Seoul hanya untuk tidur? Ada banyak sekali lubang dan tanda tanya dari cerita sang gadis. Dan tampaknya gadis itu tidak ingin memberitahu lebih, yang mana membuatnya kesal sendiri.


“Dengar, aku memberikanmu makanan dan tempat tinggal agar kau tidak mati di sekitar sini.” Tatapan Hyunjin tajam, mengarah pada sang gadis, “Dan aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan setelah ini. Kalau kau ingin mati, cari kuburanmu di tempat lain.”


Gadis itu meneguk minumannya. Bertingkah seakan ia tidak mendengar perkataan Hyunjin sama sekali.


“Aku tidak tahu akan ke mana lagi.” Gadis itu akhirnya berkata. Melihatnya pun tidak, “Sebelum kau berkata panjang lebar, bukankah sebaiknya kau memperkenalkan dirimu?”


Alis Hyunjin terangkat, “Memangnya itu perlu?”


“Atau kau mau kupanggil Tuan Pemarah seumur hidup?” Gadis itu mengangkat kepalanya. Tatapan gadis itu lurus ke arahnya, “Lagipula aku bisa mendengar lagi sejak bertemu denganmu.”


Sekalipun jauh, jauh di dalam lubuk hatinya, Hyunjin menganggap takdir hanya ingin main-main bagai anak kecil.


“Hyunjin. Hwang Hyunjin.”


Akan tetapi, nada suaranya pun tak mampu berdusta. Namanya meluncur dari lidah dengan keengganan tersurat.


“Hwang Yeji.” Gadis itu pun menatapnya. Membungkuk pun tidak. “Terima kasih atas tumpangannya.”

__ADS_1


.


.


.


Yeji tidur di sofa depan, semata karena Hyunjin tidak ingin memberikan kasurnya pada gadis asing.


Dan Hyunjin tidur larut malam itu. Di dalam benak, ia terus berpikir akan banyak kemungkinan. Apa yang harus dilakukannya pada Yeji? Bukannya Hyunjin sudah memiliki penghasilan tetap—untuk makan pun ia masih bergantung dari uang kiriman orang tua. Menampung satu orang saja sudah kepayahan, apalagi menampung dua orang?


Mengapa pula gadis itu harus ada di sekitar apartemennya? Mengapa juga kala itu ia menolongnya? Mungkin karena alam bawah sadarnya—tergerak karena menurut takdir mereka berdua adalah belahan jiwa? Pemikiran itu membuat Hyunjin berdecih. Tubuhnya berbalik, menatap ke arah dinding putih kosong sebelum terlintas pemikiran lain.


Setidaknya berkat Yeji, ia dapat mendengar lagi.


Dan itu hal yang terpenting, bukan? Pendengarannya kembali. Kembali seperti semula.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2