
I have to admit that the dark haired girl over there is totally my type. Well, I mean she is beautiful. Seriously, I never find masterpieces like this again. Without realizing it, my mouth opened as my eyes followed all his movements. "Go and get to know an acquaintance, before he leaves." Without replying Ryujin's words immediately I glide free. Out of the door that produced the sound of bells, run carefully so as not to fall. Right in front of him I stopped and breathed repeatedly. Ignoring him who was surprised by my presence so suddenly. "Um ... me." Since when did you become a nervous, Yang Jeongin? Realizing my desire, he smiled softly. Move the iron rod - it is equipped with GPS believe me - from the right hand to the left hand. He raised his empty hand, waiting for me to touch his hand, shaking affectionately. "My name is Shin Yuna, you?" Damn, she looks so beautiful with her eyes closed and a cheerful smile. Like the signal I caught, I shook his hand tightly but not strongly. I don't want him to be in pain. "Yang Jeongin, just call Jeongin." I was so brave, close my face. I believe he felt my breath, because his body stiffened instantly. An undue distance when you are with strangers. "You are beautiful." Ah, her cheeks are blushing. . . . "The secret of Jeje that people don't know about." Chaeryeong picked up french fries, who knows since when the two lovebirds ordered it. "First, he's bisexual." Ryujin held up his index finger. "Second, he's a tiflophilia." Then the middle finger, forming a number two. Just like her lover, she picked potatoes, then dipped in chili sauce. "If I'm not mistaken, the first person Jeje likes is a senior named Lee Felix, right?" asked Chaeryeong still faithfully chewing potatoes. "Yes, because Lee Felix is the same as Yuna. They are both blind." Ryujin fed the spicy potato earlier to Chaeryeong - he completely didn't expect Ryujin to be that fast - and giggled to find Chaeryeong's red face. The girl can't eat spicy food. Chaeryeong sipped as much cola as possible. Choking, staring at Ryujin in annoyance. "Shin. Ryu. Jin," Chaeryeong said emphatically. Damn, that smile appeared. "I guarantee, tonight you will scream in fear." Shin Ryujin looked down, his face was pale. . . .
Harus kuakui gadis berambut gelap di sana benar-benar tipeku. Yah, maksudku dia cantik. Serius, aku tak pernah mendapati maha karya seperti ini lagi. Tanpa kusadari mulutku terbuka seraya mataku mengikuti seluruh pergerakannya.
"Pergi sana ajak kenalan, sebelum dia pergi." Tanpa membalas ucapan Ryujin segera diriku meluncur bebas. Keluar dari pintu yang menghasilkan bunyi lonceng, berlari dengan hati-hati agar tak jatuh. Tepat di depannya aku berhenti dan mengatur napas berulang kali. Mengabaikan dirinya yang terkejut dengan kehadiranku yang begitu tiba-tiba.
"Anu ... a-aku." Sejak kapan kau menjadi seorang penggugup, Yang Jeongin?
Menyadari keinginanku, dia tersenyum lembut. Memindahkan tongkat besi--itu dilengkapi dengan GPS percayalah--dari tangan kanan menuju tangan kiri. Dia mengangkat tangannya yang kosong, menunggu diriku menyentuh tangannya, menjabat penuh afeksi.
"Namaku Shin Yuna, kau?" Sial, dia terlihat begitu cantik dengan mata tertutup dan senyuman ceria. Seperti isyarat yang kutangkap, kujabat tangannya erat tapi tidak kuat. Aku tak ingin dia kesakitan.
__ADS_1
"Yang Jeongin, panggil saja Jeongin." Aku begitu berani, mendekatkan wajahku. Kuyakin dirinya merasakan napasku, karena tubuhnya menegang seketika. Jarak yang tak seharusnya ketika kau bersama orang asing.
"Kau cantik."
Ah, pipinya merona.
.
.
.
__ADS_1
"Pertama, dia seorang biseksual." Ryujin mengacungkan jari telunjuknya. "Kedua, dia seorang tiflofilia." Kemudian jari tengahnya, membentuk angka dua. Sama seperti kekasihnya, dia mencomot kentang, kemudian mencocolkan pada saus sambal.
"Kalau enggak salah orang pertama yang Jeje suka itu kakak kelas yang bernama Lee Felix, kan?" tanya Chaeryeong masih setia mengunyah kentang.
"Ya, karena Lee Felix sama kayak Yuna. Mereka berdua tunanetra." Ryujin menyuapi kentang pedas tadi ke Chaeryeong--dia sepenuhnya tidak menyangka Ryujin akan secepat itu--dan terkikik mendapati wajah Chaeryeong yang merah. Gadisnya tak dapat memakan makanan pedas. Chaeryeong meneguk cola sebanyak-banyaknya. Mencebik, menatap Ryujin jengkel.
"Shin. Ryu. Jin," ucap Chaeryeong penuh penekanan. Sial, senyuman itu muncul. "Kujamin, malam ini kamu bakal teriak ketakutan."
Shin Ryujin menenguk ludah, wajahnya pucat pasi.
.
__ADS_1
.
.