
"Makan."
Hyunjin menghela napas. Suapan Yeji dengan bubur yang tidak berasa itu baru sampai yang kelima, tapi laki-laki yang lebih muda enam menit sudah merasa ingin muntah.
"Sudah. Aku enggak mau makan lagi." tolak Hyunjin. Ia mendorong pelan tangan Yeji kembali ke mangkuk yang masih hampir penuh.
Yeji menatapnya garang.
"Kapan kau mau sembuh kalau makan saja tidak mau?" ucapnya. "Makan. Biar cepat sembuh."
"Retoris."
Respon yang diberikan Hyunjin berhasil buat Yeji terpaku. Ia sudah sangat dekat untuk memaksa mulut adik kembarnya terbuka demi sesuap nutrisi, namun gerakannya berhenti.
Retoris. Sungguh kata yang menampar.
Yeji kehilangan hitungan berapa kalimat retoris yang sudah ia katakan sejak empat tahun lalu.
__ADS_1
Empat tahun lalu, saat umur mereka masih enam belas, saat hidup Yeji berasa berhenti selama beberapa detik, saat Hyunjin divonis terkena kanker kelenjar getah bening.
"Makan enggak bisa menyembuhkan penyakit, Yeji." ungkap Hyunjin setelahnya. "Orang-orang berkata seperti itu hanya untuk membuatku merasa lebih baik. Sekarang sayangnya sudah tidak berfungsi."
Yeji hampir hilang kendali saat Hyunjin bilang demikian.
"Sudahlah jangan bicara yang enggak-enggak. Makanlah."
Si perempuan bermata tajam menepis jauh desiran halus di dalam dadanya. Ia tidak bisa, tidak boleh pancarkan emosi negatif kepada Hyunjin. Tidak untuk sekarang, ketika Hyunjin sudah harus opname non-stop di rumah sakit.
Tidak untuk sekarang, ketika peran Yeji dalam merawat Hyunjin secara fisik dan mental menjadi sangat penting.
Kedua manik Hyunjin menerawang jauh ke kiri, tatap hijaunya pemandangan di balik jendela yang buram. Bibirnya membentuk garis datar, tapi ia tidak pernah menangis. Hyunjin anak yang kuat. Ia jauh lebih kuat dari kakaknya.
"Apa aku kan keluar dari rumah sakit? Apa aku bisa bertamasya tanpa membawa obat-obatan? Apa hidupku bisa normal lagi?"
Hyunjin melantur. Yeji tahan pelupuk matanya untuk tidak basah.
__ADS_1
"Heh, bocah. Jangan bicara yang aneh-aneh, sudah kubilang." sahut Yeji cepat, rebut atensi Hyunjin lagi untuk menghadap ke arahnya. "Kau akan sembuh secepatnya, aku tahu itu."
Kalimat terakhir Yeji masih retoris dan penuh balutan gula, tapi sebuah senyum kecil berhasil ditularkan kepada laki-laki yang duduk di ranjang serba putih.
"Baiklah kalau kau bilang begitu, aku percaya."
Hati Yeji mencelos sejadi-jadinya. Adiknya sangat-sangat menyayanginya, ia tahu.
"Nih, makanlah sendiri. Aku mau ke toilet."
Yeji pamit tanpa mau dengar respon Hyunjin lagi. Ia keluar dari kamar, menutup pintu dengan pasti sebelum kedua lututnya menyerah.
Hwang Yeji berlutut, terjatuh, terduduk di lantai rumah sakit dengan air mata berderai. Air mata yang ditahan-tahan, air mata yang tidak pernah ia tunjukkan kepada Hyunjin.
Yeji menggapai dadanya yang sesak, sesak akan perasaan sakit dan sedih. Hyunjin tidak tahu bagaimana takutnya Yeji ketika berada di ruang dokter tadi. Bagaimana denyut jantungnya berhenti ketika dokter bilang Hyunjin sebaiknya disuntik eutanasia.
Bagaimana semesta bilang, Hyunjin sudah tidak kuat untuk hidup lagi.
__ADS_1
Yeji menangis sejadi-jadinya, suaranya tidak sampai ke dalam kamar. Seluruh tubuhnya bergetar. Ia tidak mampu menatap mata penuh harapan Hyunjin. Ia gagal menjadi kakak yang baik.Karena cocoknya jadi suami yang baik (":