
Then my pair of senses looked around, changing clumsy expressions into annoyance. Damn it, I haven't found that lovebird anywhere. Finally I chose a table by the large window, my part reflected clearly the spring air that was still a little cold for me. While on my side protected by a wall, I gave it to my two friends. They need privacy, right? The clock showed ten past three. Shin Ryujin, give me back my time to play, please! I could hear the muffled laughter from the counter, apparently the barista was now staring at me, who was stretching my arms wide as if hoping for something. "What do you want to order?" It seemed that he was deliberately saying that so that I didn't look ashamed as I should have. But this cafe is very quiet, I am the only visitor. "Is there cola?" I asked doubtfully. This cafe doesn't look like a cafe that serves pizza and french fries. In fact, this cafe has an atmosphere like Starbucks, a typical atmosphere that makes you sure that there are only decent cakes and drinks. "Don't judge book by cover, Dear." I think he realized my doubts. "How many glasses do you want?" "Three," I replied, holding up three fingers. He turned back inside. I just realized there was a door behind the counter. After a few minutes he came out of the side door of the counter. It seems that if I have a cafe, I also have to make both doors. He put the three glasses to coincide with the arrival of my two friends. Shin Ryujin opened the door in a cheerful tone as if he was the owner of this cafe and asked, "Have you been waiting long?" "Give me back my time ... Miss Shin," I said dramatically and pretended to cry. Ryujin rolled his eyes, irritated. Chaeryeong chuckled softly. I saw that their two fingers linked without hesitation and the shop owner seemed to be familiar with their presence. "How many times have you been dating here?" "Yang Jeongin, you are really a good friend huh." Guys, Ryujin is indeed beautiful, but I bet you will take back those words, when you see him sitting with one leg raised and the other hand supporting the face. Especially when he saw one corner of his lips rising and the tone of sarcasm which became its hallmark. So thug. Whereas Chaeryeong acts like a normal girl, who should. Not a model that is worthy of a gorilla in front of me. But one thing that made Chaeryeong frighten me. This girl loves everything that smells of horror and thriller. Remarkably, he was able to make the thug scream scared with all the tricks he created. The type who secretly drifts and no one ever knows his attitude besides me and his girlfriend.
Ryunjin sipped his beloved cola while groaning in satisfaction. "Jeje, look out the window." His eyes glanced at the window from outside for a moment, a signal telling me to follow. "I think he's your type," Ryujin said followed by Chaeryeong.
Kemudian sepasang indraku menilik sekitar, mengganti ekspresi kikuk menjadi jengkel. Kurang ajar, aku tak menemukan sejoli itu di mana pun. Akhirnya aku memilih sebuah meja di dekat jendela besar, bagianku terpantul jelas hawa musim semi yang masih sedikit dingin untukku. Sedangkan seberangku yang terlindungi oleh dinding, kuberikan pada kedua sahabatku. Mereka butuh privasi, bukan?
Jam menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh. Shin Ryujin, kembalikan waktuku tuk bermain, kumohon! Aku dapat mendenger suara tawa tertahan dari counter, rupanya si barista kini menatapku yang tengah merentangkan kedua tanganku lebar seakan mengharapkan sesuatu.
"Mau pesan apa?" Tampaknya ia sengaja mengatakan hal itu agar diriku tak terlihat memalukan yang seharusnya. Tapi kafe ini memang sepi sekali, pengunjungnya hanya aku seorang.
__ADS_1
"Ada cola?" tanyaku ragu. Kafe ini tak terlihat seperti kafe yang menyediakan pizza dan kentang goreng. Justru kafe ini memiliki suasana layaknya Starbucks, tipikal suasana yang membuatmu yakin dalamnya hanya terdapat kue dan minuman yang layak.
"Don't judge book by cover, Dear." Kurasa, ia menyadari keraguanku. "Mau berapa gelas?"
"Tiga," jawabku sembari mengacungkan tiga jari. Ia berbalik masuk ke dalam. Aku baru sadar adanya pintu di belakang counter. Selang waktu beberapa menit ia keluar dari pintu samping counter.
Ia menaruh ketiga gelas bertepatan dengan kedatangan kedua sahabatku. Shin Ryujin membuka pintu mengeluarkan nada cerianya seolah dia pemilik kafe ini dan bertanya, "Sudah nunggu lama?"
"Kembalikan waktuku ... Nona Shin," ujarku dramatis dan berpura-pura menangis. Ryujin memutar kedua bola mata, jengkel. Chaeryeong terkekeh pelan. Kulihat kedua jemari mereka bertaut tiada ragu dan pemilik toko tampaknya sudah terbiasa dengan kehadiran mereka. "Sudah berapa kali, kalian berkencan di sini?"
__ADS_1
"Yang Jeongin, kau benar-benar sahabat yang baik ya." Kawan-kawan, Ryujin memang cantik, tapi aku bertaruh kalian akan mengambil kembali kata-kata itu, ketika melihatnya duduk dengan salah satu kaki terangkat dan tangan satunya menopang wajah. Apalagi saat melihat salah satu sudut bibirnya yang naik dan nada sarkas yang menjadi cirinya.
Preman sekali.
Sedangkan Chaeryeong berlagak seperti anak gadis pada umumnya, yang seharusnya. Bukan yang bermodelan layak gorila di depanku ini. Tetapi satu hal yang membuat Chaeryeong yang membuatku takut. Gadis ini mencintai segala hal yang berbau horor dan thriller. Hebatnya, dia mampu membuat si preman berteriak takut dengan segala trik yang diciptakan. Tipe yang diam-diam menghanyutkan dan tak pernah ada yang tahu sikapnya ini selain aku dan pacarnya.
Ryunjin menyeruput cola tercinta seraya mengerang puas. "Jeje, coba lihat keluar jendela." Matanya melirik jendela dari luar sejenak, isyarat menyuruhku mengikuti.
"Kayaknya dia tipemu," ucapan Ryujin dilanjuti oleh Chaeryeong.
__ADS_1