I Love You Pak Guru

I Love You Pak Guru
1. Pembuka


__ADS_3

Tring!


Bunyi lonceng berbunyi, pelajaran Matematika yang cukup sulit dicerna otak kecil ku akhirnya selesai juga. Semua siswa di kelas ku sepertinya memiliki pendapat yang sama mengenai ini, setelah pelajaran selesai mereka semua nampak antusias ingin keluar kelas.


"Akhirnya selesai juga pelajaran matematika yang cukup menyiksa otak ku," ucap Mita sambil merenggangkan tangannya.


"Ia nih mumet," Lani teman duduk ku menimpali.


Pelajaran matematika memang adalah sebuah pelajaran yang mungkin memiliki karakter paling sadis jika dia menjadi manusia. Dalam hal pelajaran hampir tidak ada yang menyukai pelajaran ini, kecuali anak jenius.


Sayangnya aku dan kelas ku bukan anak jenius. Kami adalah kumpulan siswa dengan kualitas pemikiran yang lumayan rendah, kelas X8 adalah kelas kedua terendah di sekolah ini. Menurut ukuran nilai memang sih kelas ku lumayan terbelakang. Tapi tentu aku membantah ini.


Aku sebenarnya di kenal sebagai salah satu siswa cerdas dan aktif. Hanya nasib sial membawa ku sampai di kelas ini, hanya gara-gara nilai musik ku yang tidak tuntas. Aku akui mata pelajaran itu adalah pembawa sial untuk ku, meski tergabung dalam ekstrakulikuler paduan suara dan memiliki suara yang cukup fasih akan nada namun tidak dengan tangan ku. Tangan ku begitu sulit menakhlukkan satu alat musik kecuali jimbe. Tapi sudahlah aku tak ingin jauh membahasnya.


"Eh ngantin yuk," ajak Mita.


"Ayok," Balas Lani dengan antusias.


Seperti kebiasaan siswa pada umumnya, di jam istirahat akan memenuhi ruangan kantin untuk jajan. Beda dengan ku, yang lebih memilih tinggal di kelas.


Aku hanya memperhatikan semua teman kelas ku keluar.


"Sin, kos, tanen..."


Setelah kelas hening, aku kembali fokus melafalkan rumus matematika yang baru saja ku pelajari. Pelajaran ini cukup menguras kepala ku karena belum terlalu paham.


"cos A tambah B sama dengan cos A cos B kurang sin A sin B cos," hum... Susah sekali.


Belum cukup lima menit mereka melaksanakan aksi berlomba keluar kelas, sekarang mereka kembali melakukan adegan berlomba kelas. Ada apa sih?


"Ayo cepat duduk!" teriak Mita.

__ADS_1


"Apaan sih?" Aku yang sibuk menghapal rumus matematika dikejutkan oleh kehadiran Mita dan teman-teman ku yang berlarian kembali masuk ke kelas.


"Pak... pak... pak Daniel mau ke kelas kita," dengan napas terengah karena habis berlari dengan buru-buru.


"Huff..." Mita kembali mengatur nafas.


"Terus," Kadang aku lalot kalau di ajak ngomong, kok bisa sih? Padahal kan pak Daniel ngak ada jam pelajaran hari ini.


"Katanya ada hal penting,"


"Oh," ucap ku sambil memperhatikan teman kelas ku yang masih sibuk mengatur nafas.


Sesaat, kelas kembali hening. Setelah guru musik paru baya itu muncul di depan kelas kami. Itu adalah pak Daniel.


Pak Daniel bagi ku adalah guru musik idola. Jelas aku tidak mengidolakannya karena dia adalah guru musik, karena bagi ku musik adalah musuh bubuyutan. Mau gimana pun aku tidak akan lupa kalau aku terdampar disini karena nilai musik ku yang tidak tuntas, padahal dia bisa saja memberi ku sekedar nilai standar. Aku mengidolakan Pak Daniel karena semangatnya, dari tangan hebatnya itu lahir orang-orang yang memiliki bakat musik hebat dan selalu mengharumkan nama sekolah dengan lahirnya Gita Bahana Nusantara.


"Hai apa kabar anak-anak," sapa Pak Daniel.


"Baik Pak," Sahut semua siswa di kelas ku dengan kompak.


Pentas seni adalah ivent tahunan yang dilaksanakan oleh SMA 1 Tana Toraja untuk unjuk bakat musik mereka.


"Baik, terkait hal itu bapak ada dua informasi. Ada kabar baik dan kabar buruk, kalian pilih yang mana?"


Sesaat kelas hening.


"Kabar buruk pak biar happy ending," teman ku rupanya cukup menjiwai alur film Korea.


"Baik, jadi kabar buruknya adalah untuk pertama kalinya kalian harus mengadakan pensi kelas gabungan, antara kelas X7 dan X8. Kabar baiknya meskipun pensi gabungan tapi kelas kalian tetap bisa ikut pensi,"


"Hore!" entah setan apa yang merasuki kelas ku hingga segirang itu mendengar kelas ku bisa ikut pentas. Padahal aku tau tak ada yang benar-benar menyukai musik disini. Sekali lagi karena mereka adalah korban dari mata pelajaran musik yang tidak mendapat nilai tuntas.

__ADS_1


Semua teman kelas ku bersorak bahagia mendengar ini. Sebelumnya kelas ku kena hukuman tidak bisa ikut Pensi karena tidak memenuhi syarat, syarakat kelas ikut pensi adalah memenuhi minimal 10 siswa yang ikut rekaman. Kelas ku gagal.


"Untuk info selengkapnya silakan ketemu Pak Shopian nanti di ruangan musik setelah jam pelajaran,"


"Baik Pak, Terimakasih Pak,"


"Baik, masih ada yang mau ditanyakan?" Pak Daniel memastikan informasi yang diberikan sudah jelas.


"Tidak ada Pak," ucapnya yakin.


"Baik, saya permisi ya. Nanti ingat ketemu dengan Pak Shopian," Pak Daniel mengingatkan lagi agar tidak kelupaan. Dan pasti urusan bertemu Pak Shopian tidak akan ada yang mau hal itu terlewat.


Pak Daniel beranjak meninggalkan kelas, belum beberapa detik pak Daniel meninggalkan kelas sekarang kelas sudah kembali hehoh.


"Anjrit! Gila! Pak Shopian cuy," Mila mulai menggila.


"Gila sih berasa mimpi dijadwalin ketemu cogan," Lani juga ketularan.


Semua siswa di kelas ku sekarang sedang heboh membicarakan ketampanan pak Shopian yang menurut ku biasa saja. Bukan ngak tau pak Shopian itu siapa, karena dia adalah guru ekskul ku di paduan suara. Tapi menurut ku emang Pak Shopian itu biasa aja.


Pak Shopian adalah guru muda yang memiliki sejuta penggemar di sekolah ini, mulai dari kami yang masih baru hingga senior bahkan alumni. Katanya sih karismanya mirip artis korea dan suaranya sangat merdu bak artis papan atas.


"Ih biasa aja kali," aku mulai gerah.


Meskipun aku tidak suka dengan topik hari ini, tapi tetap saja mereka akan membicarakan ketampanan pak Shopian sepanjang waktu.


Kring.. Kring... Kring...


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Artinya aku bisa pulang ke rumah secepatnya dan telinga ku bisa lepas dari omongan bualan teman-teman bau kencur yang sedang kasmaran dengan orang yang sama ini. Sesaat memikirkan guru muda yang berpotensi jadi pedofil itu membuat ku jijik.


"Akhirnya bisa pulang juga," ucap ku dengan bahagia.

__ADS_1


Aku mengemasi barang-barang ku untuk segera pulang. Meski tidak langsung pulang ke rumah sih, karena setelah pulang sekolah aku harus kembali melaksanakan rutinitas pekerjaan ku sebagai seorang penyiar radio.


Hum... Ia aku harus sekolah sambil bekerja. Jadi aku harus mengatur waktu dengan baik.


__ADS_2