I Love You Pak Guru

I Love You Pak Guru
4. Cobaan


__ADS_3

Ngak kerasa sekarang udah dekat waktunya untuk aku dan tim pentas kelas untuk tampil mentas di pentas seni kelas tahun ini.


"Besok kita pentas, loh udah ada naskah kan?" dan sialnya besok sudah waktu untuk pentas tapi aku yang keasikan dengan dunia ku sampai tidak sadar akan hal itu.


"Eh ia, sorry gue baru ingat. Ntar balik sekolah gue buat,"


Aku hampir lupa kalau besok sudah jadwal untuk pentas.


"Loh kok blom ada sih, harusnya kan hari ini udah latihan," Esti mulai mengeluarkan taringnya.


"Ia gue minta maaf ya," aku mencoba menenangkan Esti yang sudah siap menerkam orang.


"Ya terserah sih, tapi kalau loh pengen tampil lagi di pentas seni sekolah loh wajib buat dapat golden tiket. Dan gue harap sih kelas kita bisa dapat golden tiket dari loh, secara kan loh MC idola di Tana Toraja," Untungnya dia berhasil luluh, tapi memberi amanah untuk mendapatkan golden tiket MC di pentas kali ini, malah bawa kerjaan ku lagi, meski ada benarnya juga.


Ia sih, benar kata Esti. Masa ia aku ngak dapat golden tiket.


Apa kata para fans ku di sekolah ini kalau aku gagal mendapat golden tiket untuk lolos ke pentas seni sekolah? Padahal aku adalah MC Ivent di Toraja. Apalagi kalau mengingat kalimat hinaan Banten beberapa waktu lalu. Ah ini tidak bisa.


Sepulang sekolah aku langsung menulis naskah MC, aku harus tampil sempurna besok.


"Pokoknya aku harus dapat juara," ucap ku menyemangati diri meski sedikit panik.


Tapi... sial, keyboard labtop ku tiba-tiba rusak.


"Aduh gimana ini?"


Jujur semalaman aku gelisah tidak bisa tidur memikirkan naskah MC ku itu.


Aku terpaksa pagi-pagi ke sekolah. Sambil berharap bisa dapat pinjaman labtop.


Aku keliling ke kelas-kelas untuk mencari pinjaman labtop. Namun, hampir ngak ada yang bawa labtop. Untung saja setelah ke kelas Devia di X7, dia membawa labtop. Ha... hampir saja aku gagal.


"Dev... Loh bawa labtop," ujar ku pada Devia yang baru tiba di sekolah.


"Ia gue bawa, emang kenapa?" Kalimat Devia itu sedikit menenangkan hati ku.


"Gue boleh pinjam ngak?" ucap ku memohon


"Gue butuh bangat nih, naskah MC gue belum jadi. Gara-gara kemarin keyboard labtop gue rusak," terpaksa curhat untuk mendramatisir keadaan.


"Astaga! Kenapa baru buat kemarin juga sih naskahnya? Kan hari ini loh udah harus mentas," ya persetan dengan kata-kata itu. Aku sadar sih ini memang salah ku.


"Ya udah, nih pakai aja," Devia mengeluarkan labtop dari dalam tasnya dan memberikannya pada ku.


"Makasih ya" sambil menerima labtop itu dengan nafas lega. Setidaknya satu masalah sudah teratasi.


Untung aja Devia punya labtop yang bisa aku pinjam. Dengan sigap aku membuat naskah MC itu.


Tak... Tak... Tak...

__ADS_1


Aku mengetik dengan kekuatan ekstra kilat. Setelah 15 menit, akhirnya naskahnya kelar juga, untung saja kemarin aku sudah menulis kerangka kasar naskah itu. Jadi sekarang aku hanya perlu mengetiknya saja tanpa harus berpikir lagi untuk merangkai kata.


"Ha! Akhirnya kelar juga," aku menarik nafas lega setelah naskah MC itu selesai ku ketik.


"Makasih ya Dev," kata ku sambil mengcopi tulisan naskah MC itu.


"Ya udah gih, kamu print cepat," Devia agak sedikit khawatir melihat tingkah ku yang cukup teledor hari ini.


"Sebelum ngak diizinin keluar,"


Aku melihat jam, sial bentar lagi pagar bakal ketutup.


Ting... Ting... Ting...


Sial, betul dugaan ku. Baru saja aku mau berdiri untuk ngeprint naskah ku, sekarang malah bel udah bunyi artinya pagar udah ketutup.


Tapi aku tetap nekat berlari kencang ke pos satpam, berharap kali aja aku beruntung.


"Mau kemana?" baru saja aku mau melangkah ke pintu pagar. Satpam kiler itu sudah menghalangi ku untuk keluar.


"Pak, bisa minta tolong bukain pagar ngak?" ucap ku memelas, ya kali masih bisa diluluhin.


"Saya butuh bangat nih Pak... please," kata ku semakin memelas.


"Ngak peduli," ih tapi nyebelin bangat pak satpam ini ngak ada kasihannya sama sekali lagi.


"Ngak ada buka-buka pagar, kecuali mau nitip sama teman yang masih di luar," meski tetap kekeh ngak ngisinin keluar, pak satpam ini mencoba memberi solusi.


'Ah sial! Ngak bisa bangat sih di rayu' batin ku.


Tapi aku ngak patah semangat. Sekarang aku terus celingak-celinguk sibuk nyari teman yang bisa bantuin aku. Kali aja ada keajaiban di luar sana.


"Hei Tin,"


Aku mencari suara itu.


Indah. Ia itu adalah salah satu teman ku di X2. Hum... untung saja dia melihat ku, semoga saja dia bisa membantu.


"Indah!"


"Yoi... Loh ngapain di situ?"


Aku ngak mau nyia-nyiain kesempatan, dengan segera aku berjalan menuju pagar. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa membantu ku sekarang.


Sepertinya Indah akan mengikuti pelajaran olahraga diluar, sekarang dia dan siswa kelas X2 yang lain sudah memakai baju olahraga. Sebenarnya keberadaan lapangan yang berada di luar pagar sekolah memang sangat membantu untuk siswa yang sedang kepepet saat kelupaan ngeprint tugas dan lainnya. Seperti aku hari ini. Hehe..


"Indah, gue boleh minta tolong ngak? Please," ujar ku memohon.


"Aku minta tolong dong buat ngeprintkan aku naskah Mc ku ya," semoga saja Indah mau membantu ku kali ini.

__ADS_1


"Boleh," huff... Untung saja dia benar-benar mau membantu ku.


Aku langsung memberikan sebuah flashdiks ke Indah.


"Nama filenya apa?"


"Mc pensi kelas... Gue minta tolong ya, maaf jadi ngerepotin elo," ucap ku ngak enak.


"Santai,"


"Guru olahraga gue juga blom datang kok," ucapnya sambil melirik teman kelasnya yang masih sedang sibuk sendiri dengan dunianya.


"Makasih ya Nda,"


Untung aja ada Indah.


5 menit kemudian Indah udah ada di depan aku, dengan naskah MC di tangannya.


"Nih, naskah loh," Indah memberikan beberapa halaman naskah MC itu pada ku.


"Sukses ya MCnya hari ini," sumpah beruntung deh hari ini ketemu Indah. Sudah bantuin aku, nyematin aku lagi.


"Makasih Nda,"


"Yoi... Sama-sama," Indah tersenyum tulus, lalu kembali ke barisan teman kelasnya.


Aku memeluk naskah MC itu dengan bersyukur. Lalu berlari kembali ke kelas.


"Tini!" Bintang pasangan MC ku memanggil ku. Hum... Panjang umur.


"Eh kebetulan ketemu loh Bintang," ucap ku ramah.


"Eh ia, ini naskah buat MC nanti ya," aku memberikan naskah MC yang barusan selesai di print itu ke Bintang.


"Ehm... Sorry ya, gue ngak bisa," Bintang menolak naskah MC itu.


"Gue tiba-tiba sakit dan gue halangan pertama kalinya," Huff... alasan Bintang kali ini membuat ku langsung down dan dilema.


"Ha?" aku kaget dan panik lagi sekarang.


"Loh jangan bercanda dong, kalau ngak ada loh, gue MC sama siapa?" kata ku dengan muka pucat pasi. Masa ia aku MC sendiri?


"Loh sama Maritna aja ya," Apa? Bintang bilang sama Maritna? Maritna di kelas emang kadang heboh sih tapi aku ngak pernah ngelihat dia bicara depan umum.


"Dia biasa MC kok," dan alasan itu, apa aku harus percaya?


Huff... Makin kacau aja nih.


Gimana ya? Apakah Tini bakal berhasil jadi MC?

__ADS_1


__ADS_2