I Love You Pak Guru

I Love You Pak Guru
2. Pertemuan


__ADS_3

Aku berjalan menuju ke arah pintu keluar kelas, memanggil Mita untuk pulang bersama. Mita tersenyum melihat tingkah ku yang lain dari pada siswa lainnya, ya siswa lainnya sekarang sedang siap-siap untuk keluar kelas tapi bukan pulang tapi beralih tempat ke ruangan musik. Hum... Sial sepertinya kali ini Mita benar-benar menunggu momen untuk bertemu Pak Shopian seperti yang lain.


"Akhirnya bisa pulang juga, Mita ayo balik," ucap ku antusias.


Seperti biasa meskipun ada kegiatan di sekolah, tapi kalau menurut ku itu tidak ada pengaruhnya dengan nilai mata pelajaran aku lebih memilih pulang dan lanjut kerja. Daripada buang-buang waktu dengan hal yang tidak berfaedah lebih.


"Ha? Balik? Ngak bisa sayang, aku kali ini harus tinggal di sekolah. Dan tentu kamu juga harus ikut tinggal bareng kita ke ruangan musik. Loh harus lihat Pak Shopian guru tampan itu," Mita menolak pulang sebelum bertemu guru idamannya itu. Parahnya sekarang dia malah ngajak aku juga untuk bertemu Pak Shopian.


'Ha sial! Kali ini Mita juga ingin tinggal melihat pak Shopian lagi, mana ngajak aku lagi,' aku mendumel dalam hati.


"Ayo... Tunggu apa lagi," sekarang Mita menarik tangan ku untuk ikut bersamanya.


"Ya udah, ayo," aku pasrah.


Aku pasrah dan ikut ke ruangan musik bersama rombongan siswa kelas X7 dan X8.


"Sumpah udah ngak sabar nih cuy gue ketemu Pak Shopian," ucap Mita dengan ekspresi berbinar-binar dan sangat tidak sabar.


"Aku juga weh,"


"Dasar cewe ngak bisa lihat yang bening-bening, paling juga numpang tampang doang tuh cowo," ucap ku ketus.


"Ih kenapa sih? Iri bilang bos, lagian blom ketemu aja makanya berani bilang gitu," Maryanti malah ngak mau nerima idolanya aku kata-katai begitu.


"Tau ah malas,"


Aku memilih diam, lagian ngak guna mengingatkan orang yang udah ngefans berat.


30 menit telah berlalu dari jadwal janjian sebelumnya. Tapi, dari tadi kami hanya menunggu tanpa ada kepastian guru itu udah ada dimana.


Aku sudah malas menunggu, tapi seperti tidak ada tanda-tanda kalau guru itu akan datang. Kekesalan ku sudah sampai di puncak karena gara-gara menunggu guru itu aku membatalkan jadwal siaran ku hari ini.


"Mana tuh guru idola loh? Dari tadi di tunggu ngak datang-datang," ucap ku mendumel.

__ADS_1


"Ya sabar, paling dia makan dulu atau santai dulu habis ngajar," Maryanti mencoba membela guru itu lagi.


"Hum... gue bilang juga apa numpang tampang doang," aku masih kesal.


Entah mengapa aku sangat jengkel melihat Pak Shopian yang terlalu diagung-agungkan oleh teman ku.


Dug... Dug... Dug...


Sesaat suara jejak langkah memasuki ruangan musik, pasti itu Pak Shopian. Hum... Bagus deh kalau sekarang dia sudah datang. Dasar lama.


"Tuh, panjang umur orangnya," ucap Maryanti bangga. Karena sudah bertemu dengan idolanya itu dan aku sudah tidak punya celah untuk mendumel tentangnya lagi.


"Hai anak-anak apa kabar?" ucap Pak Shopian ramah.


"Sumpah ma men ganteng bangat," bisik Maryanti kagum akan ketampanan Pak Shopian.


"Biasa aja," Aku masih tidak mau ngalah, meski sebenarnya emang Pak Shopian manis sih.


"Maaf ya bapak telat, soalnya tadi keasikan nyantai di kantin. Bapak lupa kalau udah jam pulang," ucapnya melakukan pembelaan atas keterlambatannya.


"Jadi gimana udah ada ketua panitianya?" sama sekali tidak seru, langsung ke poin inti.


Sesaat kelas hening karena memang belum ada pembicaraan khusus mengenai pentas seni ini.


Tiba-tiba Esti si ketua geng kelas ku angkat bicara dengan spontan tanpa ada klarifikasi.


"Kayaknya sih udah ada pak," ucap Esti dengan gaya sok taunya.


Sontak Pak Shopian langsung emosi dengan jawaban tak pasti yang diberikan Esti atas pertanyaan seriusnya barusan.


"Saya tidak suka dengan kata kayaknya, saya butuh jawaban yang pasti. Udah ada atau belum?" Pak Shopian yang tadinya kalem langsung berubah menjadi singa.


Sesaaat kelas kembali hening melihat Pak Shopian yang berubah geram hanya karena Esti salah bicara mengatakan kata 'kayaknya'.

__ADS_1


Aku bisa menebak Pak Shopian adalah orang yang sejatinya tidak kalem namun berjiwa keras dan tegas.


Respon Esti langsung kaku dengan muka menunduk.


"Maaf pak," ucap Esti dengan rasa bersalah.


"Biar saya pastikan sendiri kepada Pak Daniel," ucap Pak Shopian geram.


Tanpa menunggu lagi, Pak Shopian keluar menelfon. Sepertinya dia menelfon Pak Daniel untuk memastikan struktur kepanitiaan pentas seni kelas gabungan kelas X7 dan X8.


Setelah menelfon Pak Shopian kembali ke ruangan musik.


"Tuh kan, untung aja saya ngak percaya gitu aja omongan kalian. Belum ada panitia pentas seni," ucapnya setelah menelfon Pak Daniel.


Mampus, sekarang aku menebak sebentar lagi amarah Pak Shopian sebentar lagi akan semakin meledak.


"Sekarang ketua kelas silakan dibuat susunan panitianya. Saya tunggu besok pagi susunan panitia sudah harus ada di saya," benar dugaan ku. Sekarang bahkan dia seolah menghukum kelas ku yang bahkan belum pernah membuat struktur kepanitiaan sama sekali.


"Jangan biasakan hidup dengan kata kayaknya. Saya paling tidak suka sebuah ketidakpastian," setelah mengucapkan itu Pak Shopian langsung keluar dari ruangan musik.


"Ah, sial bangat sih. Baru aja dapat kesempatan ketemu guru ganteng. Eh dapatnya bukan momen manis tapi momen killer," Mita yang tadi sangat bahagia setelah mengetahui akan bertemu dengan Pak Shopian seketika berubah 180 derajat setelah melihat Pak Shopian marah penuh emosi. Dan sialnya hanya gara-gara sikap sok tau Esti dengan lancang membuatnya menyebut kata 'kayaknya'.


Aku sebenarnya kasihan melihat teman-teman ku yang seolah patah harapan. Tapi itu artinya dugaan ku benar dan tak bisa dibantah lagi.


"Gue bilang juga apa? Pak Shopian itu modal tampang doang. Tampang doang ganteng, hati keras cuy," kata ku sambil tertawa. Aku sangat puas.


Setelah Pak Shopian pergi dari ruangan musik. Siswa kelas X7 dan X8 sibuk membentuk kepanitiaan.


Kepanitiaan? Hum... Awas saja sampai aku menjadi salah satu panitia pensi kali ini. Aku jelas akan merasa tertekan kalau hal itu benar.


Entah mengapa perasaan ku ke pelajaran musik semakin menyebalkan, aku semakin tidak bergairah, apalagi kalau harus memikirkan harus terlibat aktif di kepanitiaan. Oh no!


Pak Shopian... Benar sih ganteng. Tapi menurut ku masih sama saja, tidak menarik terlalu kaku. Dasar cowo ngak jelas, menurut ku keputusan teman-teman ku keliru sudah menjadikan guru menyebalkan itu idola.

__ADS_1


__ADS_2