I Love You Pak Guru

I Love You Pak Guru
3. Tawaran Jadi MC


__ADS_3

Pagi yang cerah, seperti biasanya suasana yang paling menyenangkan adalah ke sekolah. Entah mengapa aura SMA 1 Tana Toraja selalu membawa kehangatan tersendiri buat aku. Aku memasuki kelas sambil bernyanyi.


"Selamat pagi dunia, ku siap tuk berpesta," aku menyanyi dengan random.


"Selamat pagi Tini," Esti nenyapa ku membuat lagu ku terhenti.


"Pagi," ucap ku tak kalah ramah, meski paling tidak suka jika bait lagu random ku diputus begitu saja. Meski suara ku tidak bagus sih, dan masih sama belum menyukai pelajaran musik mematikan di SMA ini.


Entah mengapa pelajaran musik masih menjadi list mata pelajaran tidak menyenangkan selama di SMA ini. Meski lagi-lagi aku adalah mahasiswa dengan ekskul paduan suara. Ah tau deh, musik Smansa memang misteri. Candu tapi menyebalkan.


"Tumben nyapa aku?" Oia aku belum jelasin si Esti ini siapa. Dia adalah salah satu cewe yang mengira aku adalah musuhnya dalam asmara, karena cowo yang dia kejar-kejar selalu mendekati ku. Meski aku tidak pernah memberi respon baik untuk cowo itu, tapi ah sudahlah. Musik dan asmara sama saja, sama-sama penuh misteri.


"Hehe... Gue kan jarang ketemu loh pagi-pagi," ucapnya beralibi.


"Ya udah, tumben ketemu di pagi hari haha," sebenarnya aku penasaran sih. Kalau ngak ada maunya pasti Esti ngak akan seramah ini.


"Gue mau minta tolong boleh?" Nah aku bilang juga apa. Pasti ada maunya.


"Tolong apa?"


"Kan loh tau sendiri, kita ngak ada yang PD jadi MC. Loh mau ya," OMG aku sangat tidak menyukai ini.


'Ha? Apa MC? Di depan Pak Shopian? Nothing!' batin ku kesal.


Aku membayangkan bakalan menunjukkan bakat aku di depan dia itu rasanya adalah sebuah hal yang tidak akan pernah aku lakukan.


Ngak tau kenapa, aku ngak terlalu suka dengan pak Shopian. Di tambah dengan sikap ketusnya kemarin yang berhasil membuat semua cewe di kelas ku dan kelas sebelah patah hati. Sekarang aku di suruh MC di depannya itu adalah sebuah hal bodoh menurut ku. Tidak!


"Aku?" aku memastikan lagi, semoga saja aku masih bisa nego.


"Ia, kamu mau ya," Esti memohon.


"Emang ngak ada orang lain ya?" penolakan halus.


"Ia, cuma kamu nih yang bisa tolong kita. Lagian nama mu juga udah ada di lembar kepanitiaan," dasar licik.


Anjir! Kalau nama aku udah ada di list kepanitiaan, ngapaian tanya aku lagi. Ya udah aku pasrah aja sekarang, lagian sebenarnya aku juga bukan orang yang tegaan sih.


"Gimana?" Esti masih menunggu jawaban ku.


Aku kembali diam sejenak.

__ADS_1


"Ya udah, aku mau bantuin," jawab ku yang langsung disambut senyum sumringah oleh Esti.


Baru saja aku luluh untuk mau membantu pentas seni sekolah menjadi MC, sekarang sih Banten cowo paling hobi menganggu ku itu muncul.


"Ha? Apa gue ngak salah dengar?" ejek Banten.


"Tini jadi MC? Yakin loh bisa Tin?" Banten mencela ku.


Huf... Dasar banten selalu aja suka gangguin kehidupan aku.


"Maksud loh apa Banten?" untung aja Esti kali ini ganas.


"Ya, maksud gue... Emang kegiatan bakalan berjalan lancar dengan milih Tini sebagai MC?" Hum... Apaan sih Banten masih kekeh aja buat ngehina aku.


"Maksud loh apa sih? Ingat ya, gue jadi MC itu bukan karena mau gue. Tapi karena mau bantuin pentas seni kelas kita," Aku berhasil tersulut emosi.


"Ia nih, dasar Banten sewot. Kalau gitu, kalau loh yang jadi MC emang bisa?" mampus loh. Esti mulai menantang balik.


"Ya kan gue ngak bilang gue bisa," mulai ngak berkutit.


"Terus?"


"Tini udah ngak usah ngambil hati," Ade mencoba menenagkan ku.


Di saat aku sedang bersitegang dengan Banten. Tiba-tiba Ade datang membela aku, sumpah aku ngak nyangka Ade cowo yang aku kagumi sejak masuk kelas X8 bisa belain aku.


Tapi aku ngak suka marah sama orang. Percaya ngak percaya, kalau aku marah pasti akan membuat ku sakit. Bahkan aku pernah masuk rumah sakit hanya karena habis marah besar. Itulah alasan aku selalu memilih diam dan mengalah kalau aku diajak ribut.


"Sorry gue ngak suka ribut," ucap ku setelah berhsil bisa sedikit tenang.


Aku langsung berlari keluar dari kelas. Aku pergi ke WC untuk menangis,


'Kenapa sih Banten suka bangat hina aku. Padahal aku ngak pernah ganguin dia,' batin ku.


"Kenapa sih? Banten tega bangat sama aku," ucap ku yang berhasil menangis.


Setelah aku udah mulai tenang, aku keluar dari WC. Hati aku sebenarnya mudah retak, tapi aku ngak biasa menangis di depan umum kayak hari ini.


Bruk!


Aduh sial. Aku ngak bisa bangat sih hati-hati, sekarang malah aku nabrak orang.

__ADS_1


"Aduh maaf," ucap ku penuh rasa bersalah.


Aku yang berjalan menunduk, takut mata ku masih berkaca-kaca malah sekarang aku menabrak Ade.


"Kamu ngak apa-apa?" ucap Ade yang bukannya marah malah mempedulikan keadaan ku.


Deg... Deg... Deg...


Detak jantung ku ngak karuan, sumpah pasti muka ku merah!


"Ehm..."


"Ehm..."


"Ngak apa-apa kok," ucap ku grogi di depan Ade.


"Kamu sendiri ngak apa-apa," kata ku memastikan keadaan Ade, karena biar bagaimana pun Ade yang menjadi korban disini.


Sial! Sekarang aku malah salah tingkah depan Ade.


"Ngak apa-apa kok," ucap ku tersenyum sambil mengacak-acak rambut ku dengan manja.


"Oia... Kamu jangan kepikiran kata-kata si Banten tadi itu ya," Ade kembali menenangkan ku.


"Kamu semangat ya, aku yakin kamu pasti bisa kok," aduh aku semakin baper sama cowo ini.


Sumpah, Ade keren bangat sih jadi cowo. Udah ganteng, baik, perhatian lagi. Aku ngak kebayang rasanya jadi pacar lelaki dingin tapi jentel ini, pasti berasa dilindungi bangat.


Aku kembali masuk ke kelas dengan happy sambil senyam senyum.


"Kamu kenapa sih Tin?" Mita menegur sikap ku yang aneh.


"Ngak kok, aku lagi happy aja sedikit," aku menutupi kalau kebahagiaan ku hari ini karena Ade. Ya biar bagaimana pun aku akan tetap jadi cewe yang anti cowo di depan teman-teman ku.


"Aneh loh,"


"Biarin"


Aku terus melanjutkan senyum indah ku. Hum... Ade kamu memang satu-satunya cowo yang berhasil menguatkan ku setelah lepasnya cowo bajingan itu dalam diri ku. Andai saja aku tidak pernah mengenal luka sebelumnya pasti aku akan menunjukkan sayang ku ke kamu, layaknya perempuan yang mengagumi lelaki.


Cinta? Ya aku akui aku tidak piawai menunjukkan rasa itu ke orang yang aku sayang.

__ADS_1


__ADS_2