I Love You Pak Guru

I Love You Pak Guru
5. Taruhan


__ADS_3

Hum... Apa Tini bakal berhasil ya kali ini jadi MC? Ayo kita lanjut ceritanya.


Setelah mendapat kabar dari Bintang kalau dia ngak bisa buat menemani aku MC hari ini, ngak ada pilihan lain selain aku mencoba idenya untuk menjadikan Maritna partner MC. Meskipun aku sedikit ragu sih, tapi ya sudahlah.


"Maritna," aku menemui Maritna yang sedang asik membantu tim dekorasi.


"Ia Tin,"


"Loh katanya biasa MC kan?" ucap ku to the poin, mencoba memastikan perkataan Bintang kalau Maritna yang jarang aku lihat bicara di depan umum ini memang sering MC.


"Ia biasa sih di gereja, kenapa?" Hum... Ternyata memang benar. Semoga saja dia bisa membantu ku.


"Aku boleh minta tolong ngak? Katanya Bintang sakit, jadi ngak bisa nemenin aku MC. Dia bilang loh biasaya MC, dia juga yang nyaranin gue guat ngajak loh buat gantiin dia jadi partner MC gue," Jujur aku khawatir sih kalau Maritna nolak.


"Ya udah, ntar gue temenin loh deh," Hah... Untung saja dia mau membantu ku untuk jadi partner MC hari ini.


"Jadi kita bisa dong latihan sekarang?" Biar nanti penampilan ku maksimal aku harus latihan. Meski dalam kamus ku acara pentas seni kelas ini adalah ivent kecil, tapi tetap saja aku masih grogi.


"Latihan?" ucap Maritna bingung.


"Kayak semacam gladi gitu," aku mencoba menjelaskan kata 'latihan' yang ku maksud.


"Tapi gue rasa, gue ngak usah latihan deh. Soalnya gue udah biasa kok," ucapan Maritna barusan entah mengapa sangat membuat ku kesal.


Kenapa sih ada orang yang sok jago begitu? Aku juga bisa kok bilang begitu kalau aku mau. Apa dia anggap ini itu hal mudah apa? Dasar Maritna.


"Tapi..." belum sempat ngomong, Maritna sudah pergi meninggalkan ku sendiri dan dia sibuk dengan dunianya.


"Ish, kenapa sih ada orang nyebelin bangat kayak gitu," umpat ku kesal.


Setelah mendengar kata-kata Maritna barusan mood ku jadi berantakan, aku malas berada dalam kelas. Sekarang aku duduk di tangga depan kelas dengan manyun.


"Hei!" Arya tiba-tiba datang.


"Apa sih loh, bikin kaget anjing!" Aku kesal dikagetin Arya.


"Ngapain sih luh Tin, tumben galau?" Tanya Arya penasaran. Aku memang jarang galau sih di muka umum, tapi ah persetan dengan hari ini. Aku lagi kesal.


Aku diam.


"Ada apa sih?" Arya terus mengintrogasi.


"Ngak, gue malas aja," ucap ku malas.


"Kenapa? Aku itu kenal kamu ya, kamu ngak akan mungkin kayak gini kalau kamu ngak ada masalah, cerita dong," Arya mulai memaksa.


Hum... Tapi mending aku cerita aja deh. Daripada mendem sendiri.

__ADS_1


"Aku harus MC hari ini dan sial abis," aku mulai menceritakan penyebab kegalauan ku.


"Naskah MC gue baru selesai tadi, dan si Bintang pasangan MC gue tiba-tiba sakit. Terus gue di suruh gantiin dia dengan Maritna. Maritna sih mau, tapi ngak mau latihan. Yang bikin gue kesal, dia malah sok jago lagi. Katanya udah pintar makanya ngak mau latihan," ucap ku panjang kali lebar.


Arya bukannya menghibur malah sekarang dia menertawakan ku. Dia pikir itu masalah mudah, padahal buat ku itu masalah yang sulit.


"Jadi masalah loh, hari ini ngak ada teman latihan gitu? Santai aja kali, lagian loh nyiar sendiri dan MC sendiri juga biasa masih keren abis," ucap Arya receh.


"Udah ikut gue," sekarang Arya malah narik tangan ku dari posisi ternyaman. Dasar aneh!.


Arya menarik ku ke lantai dua sekolah.


"Ngapain sih?" tanya ku heran dengan perlakuan Arya.


"Nyari kelas kosong buat loh latihan MC," aku masih ngak habis pikir dengan Arya. Sekarang emang banyak kelas kosong sih karena lagi jam istirahat. Tapi ngapain latihannya di situ?


"Tapi emang bisa? Latihan MC sendiri?" lagian emang latihannya bakalan bisa gitu kalau aku latihan MCnya sendiri? Ada-ada saja Arya ini.


"Bisalah... Kenapa engak?"


"Bisa sih, tapi emang bisa maksimal?"


"Loh kan belum nyoba," ia sih. Tapi ya sudahlah.


"Nih, akhirnya dapat kelas kosong. Sekarang loh sisa bayangin nih kelas adalah panggung elo," Setelah keliling nyari, akhirnya aku dan Arya berhasil dapat kelas kosong.


"Loh emang gila ya," umpat ku ke Arya.


"Ayo mulai," tapi Arya tetap kekeh.


"Ok... Ia... Ia... Gue coba," Aku mulai menuruti keinginan Arya dan melangkah ke kelas kosong itu.


"Eitz... Ada yang kurang," ucap Arya tiba-tiba teringat sesuatu.


Mau buat tingkah aneh apa lagi sih ini si jenius Arya? Jangan bilang... Dia bakal ngumpulin penonton buat datang kesini. Hum... Awas saja dia buat aku malu.


"Apa?"


"Kita ngak lengkap dong, kalau ngak ada Rey," Hah... Untung cuma manggil Rei.


Oia, kenalin Arya adalah teman aku sejak pertama kali masuk SMA. Kami ada tiga orang bersahabat, satu namanya Rey. Mereka adalah cowo yang membuat aku mengerti rasanya di ratukan oleh dua orang cowo sekaligus.


Bdw, kami adalah tiga biang kerok di sekolah ini. Rei si paling pintar adalah cowo hati maskulin tapi pintar bangat dalam semua mata pelajaran, Fisika aja dapat nilai 100. Arya sih paling jenius dan pintar musik, meski ngak ahli dalam bidang solo anak ini ahli dalam menjadi raja paduan suara dan vokal group sekolah, pasti bintangnya dia. Aku adalah ratu panggung, suka bacot dan suka nulis puisi, di sekolah ini aku dikenal sebagai roman picisan. Hum... ku akui sebuah performa komposisi persahabatan yang cukup apik dan penuh kegilaan.


Kami dipertemukan di kelas pertama masuk kelas X di X2. Tapi gara-gara rolling kelas akhirnya kami misah, Rei X1, Arya X3 dan aku X8. Tapi kami tetap bersahabat sampai sekarang.


Sesaat Arya datang bersama Rey di depan aku. Komplit sudah persahabatan ini.

__ADS_1


"Nah.... Komplit sekarang," ucap Arya puas.


"Ayo mulai Tin," Arya memberi aba-aba.


"Gue yakin loh pasti bisa," Rei semangat bangat jadi suporter.


Aku mengambil posisi siap dan mulai latihan.


"Halo guys? Apa kabar nih?


Saya harap semuanya dalam keadaan yang baik-baik sayang yah. Eh salah maksud saya baik-baik saja," aku beraksi seolah-olah di atas panggung.


"Lanjut bang," teriak Rei heboh.


Setelah 15 menit latihan, aku merasa cukup.


"Loh sendiri aja yang jadi MC, andai panggung bisa ketawa. Udah ketawa dia," Arya mulai halunya.


"Gue yakin loh menang," semangat Rey sih paling optimis.


"Makasih ya guys," aku sebenarnya bersyukur punya sahabat kayak mereka.


"Intinya golden tiket udah di tangan," Arya percaya bangat aku bisa.


Ting... Ting... Ting...


"Ya udah bel masuk nih... Gue ke kelas dulu ya," Rey sih paling semangat belajar otw pamit mendengar lonceng masuk kelas buat lanjut belajar terdengar. Beda bangat sih emang elemen otaknya ini anak.


"Oia, sebagai salah satu spirit loh, gue mau ngasih tantangan," beda bangat sama Arya yang masih sempat ngasih tantangan.


"Apaan?"


"Kalau loh menang, gue bakal traktir loh makan di kantin. Tapi kalau loh kalah, siap-siap ya loh harus iklasin kerjaan loh, ngak boleh nerima job lagi jadi penyiar," Hum... Asli emang otaknya ngak ketebak. Bisa-bisanya dia nyuruh aku berhenti dari kerjaan ku hanya karena gagal dapat golden tiket.


"Gila loh ya, kok ngak bisa nerima job jadi penyiar sih? Kan gue emang nyiar buat bayar uang sekolah dan jajan. Kalau gue ngak nyiar gimana ma men?" aku tidak setuju dengan ide Arya kali ini.


"Makanya harus menang," Hum... Bukannya kasihanin aku malah terus aja lanjutin taruhannya .


"Gue terima tantangan loh," tapi bukan Tini namanya kalau ngak nekat.


"Gue mau ke kelas nih, loh semangat Tin," Rei pamit seperti orang ngak sabar buat belajar. Di logika ku emang sih persahabatan yang gila.


Sebelum berpisah kami bertiga berpelukan sebagai bentuk saling dukung.


"Makasih ya, udah hadir sebagai sahabat terbaik gue," ucap ku penuh ketulusan.


Hum... Beruntung bangat ya punya sahabat kayak Tini. Tapi... kira-kira Tini bakal dapat golden ngak ya? Terus kalau gagal berhenti kerja dong?

__ADS_1


Next bab


__ADS_2