I'm mother?

I'm mother?
Awal


__ADS_3

"Pergi...pergi kau dari hadapanku!" Teriak seorang wanita dewasa pada gadis yang bersimpuh di kakinya.


"Itu fitnah ma, aku tidak tau jika ada barang itu dalam tas ku." Ucap gadis itu yang bernama Chayra mengiba pada ibunya.


"Kau sama dengan ayahmu menjijikkan." teriak Wanita yang bernama Clarisa itu dan tanpa perasaan di tendangnya tubuh kurus putri kandungnya itu hingga terjengkang ke belakang.


"Ma." Chayra terus menangis ,"Aku bersumpah, aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu." jelasnya tanpa memperdulikan rasa sakit di punggung ya.


Kedua kakaknya hanya berdiri dan menjadi penonton, tidak terlihat satu pun dari mereka yang menolong adiknya ataupun sekedar menenangkan Ibu mereka.


"Jangan percaya tante, aku sering kok melihatnya ke hotel sama laki - laki udah gitu beda - beda lagi." Ucap Sheryl sepupu dari Chayra membuat emosi Clarisa semakin bertambah.


Wanita dewasa tersebut menarik tangan putrinya yang masih bersimpuh dan mendorongnya keluar rumah, "Jangan pernah menginjakkan kakimu yang kotor itu ke rumahku." teriaknya lalu dia membanting pintu rumahnya.


Chayra menatap nanar pintu rumah yang selama ini menjadi tempatnya untuk berteduh dan tumbuh besar di dalam sana.


Chayra pun bangkit dan berjalan menuju gerbang rumahnya dengan Air Mata yang terus mengalir di pipinya.


Seorang wanita paruh baya berlari mengejar Chayra sambil membawa tas yang cukup besar.


"Neng tunggu." panggil wanita paruh baya itu.


Chayra pun menoleh, "Bibi."


Wanita paruh baya itu memberikan tas serta sebuah amplop, "Ini di dalamnya ada pakaian buat ganti, bibi diam - diam ambil di kamar éneng." Ucapnya. "Dan ini ada sedikit uang untuk bekal ya neng."


Chayra pun memeluk wanita paruh baya itu, "Terima kasih bibi, cuma bibi yang peduli sama aku."


"Sudah neng, bibi doakan semoga éneng dapat kebahagiaan yang tidak pernah éneng rasakan di rumah ini."


"Aku janji bi, setelah aku punya uang aku akan ganti uang bibi."

__ADS_1


"BIBI!"Teriak seseorang dari dalam rumah.


"Bibi masuk gih." Ucap gadis itu.


Wanita paruh baya itu pun mengangguk dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Neng, hati - hati di luar sana." Ucap seorang security di rumah itu.


"Ya Pak, saya pamit Assalamualaikum." Ucap Chayra lirih.


"Waalaikumsalam, semoga éneng ketemu orang baik di luar sana." gumam Security itu.


Dengan langkah gontai dia berjalan menuju ke jalan Raya yang cukup jauh dari perumahan tempat dia tinggal selama ini, entah dia harus pergi kemana. Dia tidak Memiliki tujuan ataupun teman untuk dia mintai tolong.


Selama ini dia terlalu sibuk belajar dan bekerja untuk mendapatkan beasiswa. Gadis itu sebenarnya putri dari seorang pengusaha, kakak pertamanya seorang dokter di rumah sakit ternama dan kakak keduanya kuliah di kampus milik keluarga mereka kemudian Ibunya seorang pengusaha sukses namun hanya karena penghianatan dari Ayahnya akhirnya Chayra yang Memiliki rupa hampir mirip dengan ayahnya pun yang terkena imbas kebencian dari seluruh keluarga Ibunya.


Tidak ada uang jajan atau biaya sekolah yang di keluarkan oleh Ibunya semenjak ayahnya di usir dan dia masih duduk di bangku SMP, dia meminjam uang pada Bibi yang bekerja di rumahnya untuk modal dia berjualan.


Hingga Ibu kandungnya membawa anak dari saudaranya untuk tinggal bersama mereka, Ibunya memperlakukan keponakannya seperti anak kandung sedangkan dia yang merupakan anak kandung di kucilkan, di benci dan di perlakukan seperti pembantu.


Hingga fitnah kejam pun di tujukan padanya saat ada seseorang yang menaruh kontrasepsi dalam tas yang selalu dia bawa.


Hanya karena dia selalu pulang malam membuat tidak ada yang percaya padanya padahal selama ini dia bekerja di sebuah kafe sepulang kuliah untuk kebutuhannya sehari - hari sebab kuliah pun dia mendapat beasiswa penuh.


Hujan pun turun dengan derasnya, membuat Chayra menghentikan langkahnya, dia menengadahkan wajahnya ke langit membiarkan Air hujan jatuh di sana.


"Tuhan, kenapa kau tidak ambil saja nyawaku?" Teriak gadis itu tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya. "Apa salahku hingga ibuku dan kedua kakakku begitu membenciku?"


Saking derasnya hujan yang turun tanpa dia sadari ada sebuah Mobil yang melaju kencang di belakangnya juga karena jarak pandang yang mengganggu konsentrasi Sang pengemudi Mobil.


Chayra pasrah jika dirinya harus berakhir hari itu juga, dirinya sungguh tak sanggup untuk hidup dalam penderitaan yang tidak pernah ada akhirnya.

__ADS_1


Entah suatu keberuntungan ataukah kesialan, akhirnya mobil itu berhenti dalam jarak yang sungguh sangat tipis.


Chayra menatap nanar ke arah mobil yang hampir saja menabraknya, 'kenapa?'


Terlihat pintu mobil terbuka dan si pengemudi mobil dengan menggunakan sebuah payung yang cukup besar berjalan menghampirinya.


"Hei nona, apa anda sudah tidak waras heh?" bentak si pengemudi mobil, "Kenapa kau berdiri di tengah jalan seperti ini?"


Chayra tidak bergeming sama sekali, dia seolah tuli tidak mendengar ocehan dari pengemudi mobil itu. Pandangannya lurus ke arah mobil yang tergolong cukup mewah itu seakan dia tau ada seseorang di dalam sana sedang menatap tajam pada dirinya.


Si pengemudi mobil itu sangat kesal karena wanita yang ada di hadapannya sama sekali tidak mengubrisnya, akhirnya dia menarik tangan Chayra dengan kasar supaya menyingkir ke pinggir jalan.


Si pengemudi pun masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali mobil yang di kendarainya.


"Maaf tuan, gara - gara wanita itu perjalanan anda sedikit terganggu." Kata si pengemudi mobil pada majikannya yang duduk di kursi penumpang.


Pria yang sedari tadi duduk di kursi penumpang hanya diam tidak menanggapi perkataan dari supirnya, dia merasa mengenal wanita tadi, tapi dia Lupa dimana? dan kapan mereka berjumpa.


Sementara Chayra masih diam mematung di tempatnya dan Air Mata yang sudah bercampur Air hujan itu seperti tidak ada habisnya mengalir di pipi Chayra.


Dia tidak Tau harus kemana, apalagi hari Sudah malam. ingin meminta tolong pada temannya Chayra merasa sungkan.


Aku harus kemana?" ucap Chayra dengan lirih.


Dia pun berjalan kembali, Chayra ingin segera pergi dari komplek perumahan tempat dia tinggal selama ini dan diabaikan serta mereka memperlakukannya seperti seorang pembantu.


Chayra berdoa di dalam hatinya, dia berharap semoga fitnah kejam itu tidak Sampai ke kampus tempat dia menimba ilmu. Jika iya pasti akan mempengaruhi beasiswa yang dia dapatkan dengan tidak mudah.


Chayra memejamkan matanya sejenak lalu dia buka kembali, 'tidak boleh, aku harus kuat. cukup satu kali aku berniat seperti itu jika aku mati mereka akan bahagia diatas jasadku.' pikirnya.


Chayra akan menjauh tapi bukan untuk selamanya, dia akan kembali dan itu pasti.

__ADS_1


__ADS_2