I'm mother?

I'm mother?
Tidak mengerti


__ADS_3

Sudah berbulan - bulan lamanya Chayra mencari tahun keberadaan keluarga dari Almarhum Shintya, tapi hasil Ya nihil.


Bayi mungil itupun Chayra beri nama Darren bastian sesuai keinginan Almarhum Shintya.


Dengan bantuan beberapa orang yang tinggal di sekitar kontrakan Chayra mendapatkan surat adopsi dan kini Chayra juga Darren Sudah Memiliki kartu keluarga.


Dengan uang hasil menjual desainnya pada salah satu desainer terkenal akhirnya Chayra dapat membeli mesin jahit dan dia mulai membuka jasa menjahit untuk menyambung hidupnya.


Dalam tiga bulan Chayra Sudah Memiliki beberapa pelanggan, dia pun berterima kasih pada pemilik kontrakan dan suster Tina karena Sudah membantunya dengan mempromosikan hasil jahitannya.


Tak terasa kini usia Darren Sudah memasuki satu tahun.


Anak ini begitu aktif dan cerdas, Darren membawa keberuntungan untuk Chayra karena selalu saja ada yang memakai jasanya.


Chayra tidak hanya menjahit pakaian orang dewasa saja tapi pakaian untuk anak - anakpun dia membuatnya, Chayrapun menjual pakaian promosi dari mulut ke mulut dan juga online.


Chayra tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini apalagi saat melihat Darren dengan langkah pertamanya dan juga memanggilnya mama untuk pertama kalinya.


Darren bukanlah anak yang rewel dan sangat anteng jika di beri mainan ketika Chayra sedang menjahit.


"Mamamamama." seru Darren sambil memegang botol susunya.


Chayra yang sedang menjahit pun menoleh, "Anak mama haus ya." diapun menghentikan pekerjaannya dan beranjak membuatkan susu formola untuk putranya.


" Anak mama ngantuk ya." Chayra menggendong Darren dan membawanya ke kamar untuk di tidurkan.


Chayra tersenyum melihat Darren yang meminum susu dengan rakusnya, "pelan - pelan nak."


Setelah kenyang menghabiskan sebotol susu akhirnya Darren tertidur, karena posisi tidur yang begitu menggemaskan Chayra mengecup pelan pipi gembul milik Darren.


"Mama berharap kita akan sama - sama terus sayang."

__ADS_1


Sementara itu di sebuah perusahaan besar seorang pria duduk di kursi kebesarannya dengan memegang sebuah foto seorang wanita yang sedang menggendong bayi di tangannya.


"Kamu yakin dia yang menolong Shintya?"


"Ya Tuan, wanita itu sudah membantu Nyonya dari kejaran anak buah tuan besar." ucap seorang pria yang sejak Tadi berdiri di samping orang yang dia panggil Tuan.


"Awasi terus jangan Sampai orang suruhan dari ayahku menemukan mereka, aku akan selesaikan Dulu urusanku dan segera menemui mereka." Kata Sang tuan pada pria yang berdiri di samping ya.


Pria itu menatap foto yang sejak Tadi di tangannya, "Cari Tau asal usul wanita itu, aku tidak ingin ada masalah nantinya."


"Baik tuan."


Dan Chayra saat ini sedang membuat bubuk tim untuk Darren, putranya itu sika makanan yang gurih daripada makanan manis kecuali buah - buahan.


Darren masih tidur di kamar sejak siang Tadi padahal hari Sudah sore dan anak itu masih betah tidur.


Chayrapun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum Darren bangun.


"Sudah bangun sayangnya mama." kata Chayra sambil menggendong Darren.


Darren hanya mengoceh membuat Chayra menghujani putranya dengan kecupan ringan di wajah Darren dan anak itu pun tertawa.


"Wah kayaknya lagi seru." ucap Tina.


Chayra menoleh, "kapan masuknya?"


Tina mendecak kesal, "Aku udah manggil sejak Tadi tapi kalian terlalu asyik."


"He he maaf, masuk masuk." kata Chayra.


"Aku udah masuk kali." sahut Tina.

__ADS_1


"Aku mandiin Darren Dulu ya." kata Chayra sambil berlalu ke kamar mandi.


Tina berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk karena Tadi dia membawa dua bungkus bakso.


"Hai tante, Darren udah wangi." ucap Chayra dengan suara di buat seperti anak kecil.


"Sini tante mau lihat udah ganteng Belum." Kata Tina mengambil Darren dari pangkuan Chayra.


"Mbak Tina Tau aja aku lagi pengen bakso." Kata Chayra sambil menuangkan bakso dari plastik ke mangkuk.


"Iya pas Tadi pulang lewat tukang bakso jadi ingat kamu." jawab Tina.


"Mbak ga makan baksonya?" tanya Chayra.


"Bentar, aku masih kangen sama si gantengnya aku." Jawab Tina sambil mencium gemas pipi Darren, "O ya Cha, belakangan ini ada orang yang datang kerumah sakit nanyain soal Almarhum Mbak Shintya."


Chayra yang sedang menikmati makanannya pun terdiam, "Benarkah?" tanyanya heran kenapa harus menunggu satu tahun mereka mencari Mbak Shintya, pikir Chayra.


"Ada dua orang yang berbeda menanyakan apa pernah ada pasien melahirkan bernama Shintya, tapi orang yang pertama kali datang hanya meminta kami untuk tidak memberitahu siapa pun tentang bayinya." jelas Tina karena dia merasa sepertinya Shintya bukanlah orang biasa.


"Apa kalian memberitahukan jika bayi itu ada padaku?" tanya Chayra khawatir.


Tina mengangguk, "maaf karena kami pikir orang itu keluarga Mbak Shintya Cha tapi...."


"Tapi apa Mbak?" tanya Chayra lagi, rasa takut mulai menyerangnya.


"Orang itu berpesan jika ada yang datang menanyakan Shintya dan bayinya, kami di minta untuk mengatakan mereka telah meninggal." jawab Tina.


Chayra menghela nafas berat, "Sepertinya kehidupan Mbak Shintya tidaklah Mudah."


"Mulai saat ini kamu harus lebih waspada dan juga hati - hati ketika keluar rumah." Ucap Tina memperingatkan.

__ADS_1


"Ya Mbak, pasti."


__ADS_2