I'M Princella.

I'M Princella.
12. Penolakan Cella.


__ADS_3

***S.H Hotel***


Cella terpaksa duduk pada sofa tepat di hadapan Sean. Setelah membaca surat perjanjian bisnis yang di lakukan oleh Sean Hamilton dan Mark Audison. Cella kini mengerti arti dukungan tuan Audison kepada sang mama, untuk membujuk Cella kembali lagi ke negara A.


'Tuan Audison, kau selalu mempermainkan dan memanfaatkan aku. Bodohnya aku, masih percaya jika kau bisa saja tulus memintaku untuk kembali. Mama…apa kau tahu rencana suami mu ini…?' Gumam Cella memandang dokumen perjanjian yang ada di atas meja kaca.


Pikiran Cella melayang dan mengingat papa sambung dan mamanya. Cella berpikir apakah mama kandungnya itu tahu akan apa yang di lakukan oleh suaminya tersebut? suami yang telah tega menjual putri sambungnya sendiri.


"Apakah kau sudah mengerti sekarang?" Tanya Sean karena melihat Cella hanya diam saja.


Cella melihat ke arah Sean, wajahnya datar dengan tatapan mata yang sangat dingin.


Sean tidak suka melihat tatapan hangat yang semalam dia lihat dengan nyaman, kini tatapan mata itu berubah terlihat dingin.


"Tentu aku mengerti. Kenapa harus aku? Kenapa tidak Hana?" Tanya Cella dengan dinginnya.


Cella ingin tahu, mengapa harus dirinya yang menjadi korban dari dua pria yang selalu memberikannya rasa sakit dan luka. Mengapa Sean tidak memilih Hana yang lebih berkelas, cantik dan terpelajar. Rihana Audison cukup baik untuk di jual kepada Sean Hamilton, tuan muda dari keluarga Hamilton.


Sean terdiam untuk beberapa detik. Iya, mengapa harus Cella dan mengapa tidak Hana? Pertanyaan yang cukup bagus dari Cella.


"Apa karena aku hanya putri sambung tuan Audison? Sehingga dia menjual ku dari pada menjual putri kandungnya sendiri?" Tanya Cella dengan dinginnya, dia cukup menahan amarah di dalam hatinya kali ini.


"Menurut mu bagaimana?" Tanya balik Sean.


Cella mengerutkan keningnya akan pertanyaan Sean kepadanya. Sebuah pertanyaan yang membuat Cella berpikir, jika dirinya benar-benar di jadikan seorang korban.


"Kalian berdua sama-sama jahat dan kejam." Ucap Cella dengan menekan setiap kata-katanya.


Sean terlihat datar.


"Apa kau ingin menolak ini semua dan ingin melawanku?" Tanya Sean ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Cella selanjutnya.


"Apa aku bisa menolaknya? Apa aku mempunyai pilihan saat berada di antara orang-orang kaya yang berkuasa seperti kalian? Bahkan kalian menjadikan seorang manusia untuk di perjual belikan sebagai pelunas hutang." Ucap Cella ingin mengeluarkan semua isi hati dan pikirannya.


'Kalian semua masih memandangku remeh dan rendah seperti dulu.' Gumam Cella di dalam hatinya. Itulah yang sekarang ada di pikiran Cella tentang semua orang yang sejak dulu selalu memandangnya remeh dan rendah.


Cella tentu tidak suka, Cella yang sekarang bukanlah Cella yang dulu mereka kenal. Dan itu akan Cella buktikan dengan memberikan sebuah pelajaran untuk mereka yang berani menyakitinya, meremehkan dan memandangnya rendah. Cella berjanji akan membuat semuanya ada pada genggaman tangannya.


"Tentu kau tidak ada pilihan, jika kau tidak ingin mengikuti perjanjian itu. Tentu kau juga setuju untuk melihat keluarga Audison dan juga mama kandung mu masuk ke dalam penjara." Ungkap Sean dengan raut wajahnya yang datar.


"Kau mengancamku?"


"Itu terserah padamu. Ini sebuah ancaman atau tidak, itu semua tergantung padamu. Seluruh keluarga Audison kini berada di tanganmu. Jika kau tidak peduli kepada mereka, katakan sendiri kepada tuan Audison." Ungkap Sean memberikan sebuah saran.


"Tentu aku tidak akan setuju akan semua yang kalian putuskan dengan sepihak. Aku tidak ada hubungannya dengan masalah mu dan juga keluarga Audison. Jika ingin menjual belikan seseorang, Rihana Audison lah yang lebih tepat berada pada posisi itu." Balas Cella tidak ingin terlihat lemah dan takut akan saran ancaman Sean kepadanya.


Sean terdiam, ucapan Cella adalah penolakan yang kini ia lakukan.


"Aku pastikan semua tidak akan seperti yang kalian harapkan. " Ucap Cella sembari bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Tidak ada lagi yang dapat ia bahas bersama Sean di sana. Lebih baik cepat pergi dari tempat itu dan tidak akan bertemu Sean lagi adalah harapannya.


Sean diam dengan pandangan melihat ke arah Cella, dia ingin tahu apa yang bisa di lakukan Cella untuk menolak perjanjian tersebut?


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Cella beranjak pergi meninggalkan Sean yang hanya duduk dengan tenang.


'Brak…' Suara pintu di banting keras oleh Cella.


"Tuan…Mengapa anda hanya diam saja?" Tanya Gio melihat ke arah tuannya yang hanya duduk dengan tenang.


"Kita lihat wanita itu bisa apa untuk melawan ku? Kita akan tunggu berita malam ini juga." Balas Sean masih tenang pada duduknya.


Mata Sean memandang lurus ke arah ranjang yang masih terlihat berantakan. Ingatan semalam kembali berputar. Senyumnya pun terbit, dia yakin jika Cella pasti akan kembali dan akan berada di dalam kendalinya seperti dulu lagi.


"Gio…Pastikan tuan Audison melakukan apa yang aku inginkan, bagaimana pun caranya? Aku menginginkan wanita itu ada di dalam genggaman ku." Ungkap keinginan Sean, tentu membuat asisten nya itu heran.


Untuk pertama kalinya, tuan mudanya menginginkan seorang wanita. Apakah karena kejadian semalam? Sehingga membuat tuannya itu ingin memilikinya? Atau tuannya memiliki alasan lainnya, hanya tuan mudanya yang tahu.


"Baik tuan." Ucap Gio menerima perintah. Ia tidak ingin menambah kesalahannya lagi.


"Satu lagi Gio, jika kau gagal lagi seperti semalam, aku pastikan hukuman yang akan kau dapatkan lebih berat lagi." Ancam Sean.


Gio menelan salivanya karena ancaman sang tuan. Gio cukup tahu jika tuannya itu kali ini serius akan ancamannya.


"Baik tuan." Balas Gio segera pergi setelah membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormatnya pada sang tuan.


Sean melihat intens sofa kosong yang ada di hadapannya. Tempat Cella duduk tadi, ia masih dapat mengingat jelas bagaimana wajah dewasa Cella? Sangat cantik, bahkan lebih cantik di bandingkan dulu saat mereka di bangku SMP.


...------------------------------------------------...


Sedangkan yang terjadi pada Cella. Ia sangat marah kali ini, mereka semua masih tetap sama. Selalu memandang dirinya rendah dan remeh. Tidak ada yang berubah sama sekali, seperti yang di katakan oleh sang mama.


Ia ingin tahu secara langsung, apakah mama kandungnya terlibat akan hal ini? Dia ingin tahu selama ia pergi, apakah mamanya hidup bahagia bersama keluarga Audison? Keluarga kaya raya yang selalu di harapkan oleh mamanya dari dulu.


Cella ingin tahu, apakah mamanya bahagia hidup bersama suami yang kaya raya dan terpandang. Jika memang benar mamanya bahagia, tidak ada lagi yang Cella harapkan dan khawatirkan tentang mamanya.


Semarah apapun Cella pada sang mama, ia masih sangat menyayangi dan mencintai mama kandungnya itu. Ia masih berharap memiliki sebuah keluarga yang hangat dan bahagia. Selayaknya orang lain dan keluarganya.


Cella segera pergi meninggalkan hotel tersebut, setelah ia membaca pesan dari Hana yang mengatakan jika dirinya tidak tidur di hotel dan langsung pulang semalam. Hana juga mengirimkan sebuah alamat baru yang harus Cella datangi, rupanya keluarga Audison sudah memiliki rumah baru.


Kini di sinilah Cella berada, berdiri tepat di depan sebuah gerbang besar. Sebuah rumah yang dapat di sebut dengan sebuah mansion, terlihat megah dan mewah di hadapannya. Apakah ini mansion baru keluarga Audison? Jika mereka bisa berkembang seperti ini, bagaimana bisa tuan Audison terlilit banyak hutang kepada Sean Hamilton?


"Permisi, tuan…!" Sapa Cella berusaha ramah pada seorang penjaga depan mansion keluarga Audison.


"Iya nona…ada yang bisa saya bantu?" Balasnya tersenyum ramah.


"Apakah benar ini kediaman keluarga Audison?" Tanya Cella.


"Iya nona, benar."

__ADS_1


"Apakah saya bisa bertemu dengan tuan Audison?"


"Maaf nona, anda siapa?"


"Saya Princella Johanes, tuan bisa mengatakan itu padanya." Ucap Cella tanpa ingin banyak basa basi lagi. Ia ingin segera menyelesaikan masalahnya tersebut.


"Baik nona, tunggu sebentar." Balas sang penjaga.


Ucapan Cella dapat di mengerti oleh sang penjaga, jika tuannya pasti mengenal baik Cella yang ingin bertemu.


Begitu ia mendapatkan izin dari tuannya. Penjaga itupun segera membukakan pintu gerbang untuk Cella, Ia juga segera membawakan koper kecil Cella pada sebuah kendaraan yang akan di pakai untuk mereka menuju ke mansion yang ada cukup jauh dari pintu gerbang.


Cella hanya mengikuti apa yang ingin di lakukan oleh sang penjaga. Dia hanya duduk manis pada kendaraan yang akan membawanya menuju ke mansion mewah milik keluarga Audison.


Begitu mereka sampai, sang penjaga segera mengarahkan Cella untuk masuk ke dalam mansion. Ternyata kedatangannya di ketahui oleh sang mama, terbukti kini mamanya lah yang menyambut dirinya saat berada di ruang tengah mansion yang terlihat mewah, dengan beberapa furniture mahal di dalamnya.


Cella dapat melihat kondisi sang mama baik baik saja, mama kandungnya itu terlihat sehat dan cantik dengan pakaian mahal dan beberapa perhiasan yang juga mahal menempel pada tubuhnya.


"Selamat datang sayang, putri mama…!" Sambut mama kandung Cella, nyonya Audison.


Begitu hangat pelukkan sang mama kepada Cella.


"Mama sangat merindukanmu, sayang." Ucapnya sembari mencakup wajah Cella dan memberikan Cella sebuah kecupan pada keningnya.


"Kau sudah dewasa sekarang, mama sungguh merindukanmu." Ungkap nya dengan senyum dan mata yang sudah berkaca-kaca.


Cella hanya diam dengan raut wajahnya yang terlihat datar. Dia masih terbawa akan rasa marahnya tadi, dia tahu mamanya hidup dengan mewah sekarang.


Cella teringat bagaimana dulu ia hidup cukup sengsara dan menderita bersama papa kandungnya? Terlihat sangat kontras dengan kehidupan mamanya sekarang.


Tidak ada alasan Cella mengkhawatirkan mama kandungnya tersebut.


"Kau sudah datang…!!" Sapa tuan Audison berdiri tidak jauh dari mereka.


Cella yang masih dapat mengenali suara tuan Audison, segera membalik tubuhnya untuk melihat bagaimana keadaan papa sambungnya itu?


Pria yang terlihat sudah tua dengan beberapa kerutan pada wajahnya, namun dia cukup terlihat segar dan bugar di usianya yang tidak lagi muda.


"Apa kabar Cella, selamat datang kembali." Ucap tuan Audison sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Cella.


Cella terdiam, dia hanya melirik sekilas ke arah tangan tuan Audison. Kemudian beralih melihat wajah munafik papa sambungnya tersebut. Cella menahan amarahnya di dalam hati, ia datang hanya akan menyelesaikan masalahnya kali ini dan akan segera pergi meninggalkan mansion tersebut. Tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Audison, lebih baik daripada dengan mudahnya dia untuk di manfaatkan, di jual kepada tuan muda Sean Hamilton.


Cella tidak ingin seperti itu, karena dia bukanlah sebuah barang dan Cella yang dulu mereka kenal. inilah bentuk penolakan Cella.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2