I'M Princella.

I'M Princella.
3. Bertemu Diana dan Kevin.


__ADS_3

***S. H. Hotel***


…Princella Johanes…


Badanku terasa segar kembali begitu selesai mandi dan membersihkan diriku. Dengan cepat aku membubuhkan sedikit pelembab yang aku buat sendiri pada wajahku, dan membubuhkan beberapa bintik-bintik hitam kecil pada pipiku untuk membuat wajahku terlihat sedikit kucel walaupun habis mandi.


Aku lebih suka seperti itu, tidak menarik perhatian dari orang lain. Tampil sederhana dan sedikit jelek tidak masalah bagiku, karena ini yang akan membuat aku aman dan nyaman berada di negara ini. Aku harus tetap pada penampilan ku sekarang, agar tidak banyak yang mengetahui siapa aku sebenarnya?


Wajah asliku cukup cantik walaupun tidak menggunakan polesan makeup sama sekali, hanya tubuhku yang tinggi dan langsing berisi saja yang tidak dapat di tutupi dengan sempurna. Aku hanya bisa memakai pakaian casual dan santai serta sedikit kebesaran agar penyamaran ku terlihat sempurna. Wanita tomboy, itulah diriku saat ini.


Bukan berarti aku tidak bisa tampil elegan dan anggun selayaknya wanita terpandang. Itu aku lakukan jika di haruskan berpenampilan seperti layaknya wanita berkelas, tapi tidak hari ini. Aku lebih suka seperti sekarang, terlihat biasa, santai, tomboy dan jelek.


Perutku terasa lapar karena memang belum di isi siang ini, aku putuskan untuk pergi ke restauran yang ada di dekat kolam renang. Hotel ini memiliki 3 restauran yang berbeda, mengikuti kelas dan menu yang tersedia pada daftar menunya. Aku lebih memilih makan di dekat kolam karena jauh dari tempat acara reuni yang di adakan oleh Hana dan teman-temannya.


Aku lebih suka suasana di sana, sepi serta tidak terlalu rame dan bising. Aku bisa makan siang sembari bekerja, beberapa saat yang lalu aku mendapat sebuah email dari salah satu anak buah Lalisa. Sebuah e-mail menyatakan jika ada tugas yang harus aku selesaikan dengan segera mungkin.


Aku kini melihat sebuah data perusahaan yang sedang di serang oleh virus, mengakibatkan keamanan dari data tersebut hancur dan perusahaan itu kebobolan dengan kerugian yang cukup besar. Rekan bisnis Lalisa tersebut meminta bantuan dengan imbalan bayaran yang cukup mahal, sebab tidak satu pun orang yang ia bayar berhasil untuk menyerang balik virus tersebut.


"Ini cukup sulit, rupanya masih banyak di dunia maya orang yang hebat dan pintar, namun sayangnya mereka kali ini harus berhadapan denganku. Ini sungguh menyenangkan." Gumamku pelan sembari terus menggerakkan jari jemariku menari di atas keyboard laptop yang ada di hadapan ku.


Aku begitu serius karena tidak ingin kalah dari penyerang virus itu. Aku benci kekalahan pada dunia maya, aku harus menang dan menaklukkan virus tersebut. Itulah kepuasan yang aku dapatkan jika bermain dengan dunia maya dan para ahli IT di dunia.


Banyak yang akan mengenalku dengan sebutan P.J. Angel, aku harus tetap menjadi penguasa dunia maya yang bertarung tanpa bertatap muka langsung. Mereka tidak akan mudah melacak keberadaan ku di mana? karena aku cukup cerdik untuk bersembunyi dan menghilang bagai di telan bumi.


Makanan yang aku pesan sudah dingin, namun tetap habis tidak tersisa setelah aku berhasil mengalahkan seorang musuh ahli IT di dunia maya. Salam perkenalan sekaligus salam perpisahan pun aku kirimkan padanya. Virus baru yang aku ciptakan adalah hadiah dariku, P.J. Angel.


Kepuasan itu membuat hatiku berbunga-bunga dan merasa puas serta bahagia, senyum di bibir ku masih merekah. Selama tiga jam aku duduk dan berperang dalam diam, tentu itu tidak sia-sia bagiku karena kemenangan yang aku dapatkan.


"Tolong…Tolong…!!" Teriak seorang wanita histeris.


Aku tergelitik untuk melihat ke arah suara, tempat itu cukup sepi. Hanya ada aku, seorang pelayan dan koki yang berada di dalam dapur sedang membuat adonan pizza. Di tepi kolam aku melihat wanita yang cukup cantik tengah panik dan berteriak histeris melihat ke arah tengah kolam. Ada yang tenggelam.


Dengan cepat aku berlari ke arah kolam, dan menceburkan diriku tanpa berpikir panjang lagi. Seorang anak tengah berjuang untuk mendapatkan udara saat dia tenggelam dan berusaha naik kepermukaan.


Aku dengan cepat berenang ke arah anak tersebut, lalu meraih tubuhnya yang sudah masuk ke dalam air karena tidak sadarkan diri. Segera aku rangkul tubuhnya ke tepian kolam. Tiga pelayan membantu ku mengangkat tubuh anak itu ke atas lantai pinggiran kolam.


Wanita yang tadi berteriak histeris menangis dan duduk bersimpuh di dekat anaknya, mungkin itu ibunya. Aku dengan sigap memompa dada anak itu karena detak jantungnya terhenti sejenak, aku berikan nafas bantuan agar nafasnya dapat kembali teratur. Beberapa kali aku melakukan hal yang sama, menjadikan suasana begitu tegang karena tidak ada perubahan sama sekali.


Aku tidak mudah putus asa, aku tetap melakukan pertolongan pertama pada anak itu. Dalam hati aku terus berdoa agar apa yang aku lakukan? Dapat menyelamatkan anak yang aku tengah bantu berjuang untuk bernafas kembali.


Tangisan pilu dari wanita itupun tidak aku pedulikan, pasien di hadapan ku lah yang menjadi fokusku saat ini.

__ADS_1


'Uhuk uhuk uhuk…' Suara batuk dari anak itu menandakan jika dia sudah sadar, bersamaan dengan tubuhku yang juga melemas. Deru nafasku terengah-engah karena selesai memberikan pertolongan pertama dengan sekuat tenaga, energi dalam tubuhku habis dan melemah.


"Terima kasih, nona." Ucap wanita itu melihat ke arahku yang masih terduduk di lantai pinggiran kolam, sedangkan dia tengah memeluk anaknya.


Bajuku basah kuyup, aku melihat wanita yang ada di hadapan ku dengan intens. Wanita itu tidak asing bagiku, sepertinya aku mengenalinya. Begitupun dengan wanita tersebut, dia ikut melihat ku dengan intens.


"Cella…kau Cella kan…!" Panggil wanita itu dengan tatapan tidak percaya.


'Dia mengenaliku. Dia seperti tidak asing bagiku, dia…!!' Gumamku dalam hati kini mengenali siapa wanita yang ada di hadapan ku.


"Diana." Ucapku menebak, aku tidak tahu benar atau tidak.


"Iya aku Diana, kau Cella kan." Ucapnya lagi sembari mendekati ku.


Namun obrolan kami terputus karena kedatangan seorang pria tampan dan dua pelayan yang membawa dua handuk untuk kami. Pria itu adalah Kevin Richard, teman sekolah kami dulu saat di bangku SMP.


"Ini nona, silahkan." Ucap seorang pelayan memberikan aku sebuah handuk.


Aku meraih handuk tersebut, tapi perhatianku tidak tertuju pada Kevin dan Diana, namun ke arah putra mereka yang masih memejamkan matanya, nafasnya masih terlihat sesak.


"Diana, apa putramu memiliki riwayat sesak nafas?" Tanya ku saat Diana mengeringkan rambut putranya.


Diana dan Kevin melihat ke arahku, lalu menjawab apa yang aku tanyakan?


Apa yang aku curigai ternyata benar? Aku segera bangkit dan menuju ke arah di mana tas laptop ku berada, kebetulan aku membawa sebotol racikan obat yang aku buat sendiri dan sebuah alat pernafasan mini yang aku rakit sendiri. Aku biasa membawa itu semua karena sewaktu-waktu pasti memerlukannya, ketika aku lelah berlari ataupun saat aku melakukan gerakkan yang bisa memicu aku kekurangan pasokan oksigen.


"Bisa baringkan sebentar di pangkuanmu, Diana." Ucapku datang bersama tas laptop dan beberapa peralatan dokter ku yang ada di dalam tas itu. Diana hanya mengangguk bingung.


Aku memberikan alat pernafasan itu pada putra Diana, agar membantu melegakan pernafasannya. Kemudian aku memasukkan sebotol kecil cairan pada sebuah spaed suntikan.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kevin mencekal kuat lenganku saat akan memberikan sebuah suntikan obat pada lengan putranya.


Aku melihat ke arahnya. Lalu berkata.


"Dada putra anda pasti terasa sakit, aku hanya menyuntikkan obat ini ke tubuhnya agar pernafasannya lega dan rasa sakitnya berkurang." Balas ku apa adanya. Obat racikan ku itu sangatlah ajaib dan aman untuk semua umur.


"Apa kau dokter?" Tanyanya.


"Apa itu penting saat ini?" Tanyaku balik.


Kami saling pandang dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Tentu saja penting, bagaimana kau berani menyuntikkan sesuatu jika kau bukanlah seorang dokter?" Balas sengit Kevin. Diana hanya melihat kami berdua secara bergantian.


Aku menghela nafas ku, dengan terpaksa aku merogoh sebuah dompet kecil khusus kartu di dalam tas laptop ku. Aku mengerti jika Kevin hanya khawatir pada putranya, agar tidak terjadi malpraktek.


Aku menyerahkan kartu identitas dokter yang aku miliki kepadanya, lengkap dengan tempat di mana aku bertugas. Itu untuk pertama kalinya aku menunjukkan kartu identitas dokterku pada orang lain, jika bukan karena untuk seorang anak kecil yang kini sedang menahan rasa sakitnya. Aku tidak akan sudi memperlihatkan kartu Identitas ku pada orang lain. Namun, aku tidak tega untuk melihat anak itu.


"Dokter Princella Johanes, Prince Healthy Klinik. Kau hanya dokter di klinik kecil." Ucapnya memberikan komentar.


Aku mengerutkan kening tidak percaya, apa maksud perkataannya?


"Apa maksud anda tuan? Di manapun aku bertugas? aku tetap adalah seorang dokter." Balasku dengan dingin, untuk pertama kalinya ada yang meremehkan gelar dokter yang aku miliki.


"Kevin, kau sudah tidak sopan kepada Cella." Tegur Diana merasa tidak nyaman akan sikap suaminya kepadaku.


Kevin melihat ke arah istrinya.


"Bagaimana juga Cella yang sudah menyelamatkan Kenzo saat dia tenggelam tadi." Tegur Diana tidak suka akan sikap Kevin.


Kevin melihat ke arahku. "Maafkan aku Cella." Ucapnya dengan raut wajah yang ia buat setulus mungkin tetapi terlihat di paksakan, terlihat aneh di mataku.


Aku menghela nafasku dan berkata. "Apa aku sudah boleh memberikan pertolongan pertama ini kepada anak kalian, sebelum kalian bawa putra kalian ke rumah sakit?" Tanyaku melihat intens ke arah Kevin.


"Silahkan, tentu saja cella. Aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik pada Kenzo." Ucap Diana menjawab.


Tanpa membuang waktu lagi, aku menyuntikkan secara perlahan obat racikan yang aku buat sendiri. Dengan lembut dan perlahan, karena akan terasa sedikit nyeri. Lalu aku menuliskan sesuatu pada secarik kertas dan memberikannya kepada Diana.


"Bawalah putra kalian ke rumah sakit, obat itu hanya menahan rasa sakitnya sebentar saja. Serahkan catatan ini pada dokter yang akan menangani putra kalian, dokter itu akan tahu harus berbuat apa? Dia akan menghubungi ku langsung jika terjadi sesuatu. Disana sudah ada nomer telepon ku." Ucapku sembari merapikan isi di dalam tas yang aku keluarkan.


Kevin dan Diana melihat ku dengan tatapan yang berbeda.


"Apa maksudmu? Sebenarnya ada apa dengan Kenzo?" Tanya Kevin terlihat curiga pada ucapanku.


Aku melihat Kevin dengan tatapan serius, dia cukup peka akan kecurigaan ku saat ini. Namun kecurigaan itu harus di lengkapi oleh pemeriksa dengan beberapa peralatan rumah sakit, sehingga dianogsa dari dokter dapat di pertanggung jawabkan.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2