
***S.H Hotel***
Cella kembali ke hotel di mana acara reuni sekolah SMP nya di adakan, dia meninggalkan Diana dan Kevin bersama Kenzo yang sedang di rawat pada rumah sakit Hamilton, milik keluarga terpandang di negara A yaitu keluarga Hamilton.
Dia sudah berjanji akan membantu untuk kesembuhan Kenzo, putra dari teman SMP nya dahulu. Seorang teman yang sangat baik dan menerima dirinya apa adanya, di saat teman yang lainnya menjauhinya.
Masa di sekolah SMP tidak banyak kenangan baik yang Cella miliki, hanya kenangan buruk saja yang ia lalui di sekolah itu. Rihana Audison saudari tirinya tidak memberikan suasana sekolah yang nyaman untuk Cella, selalu saja ada ulah yang di lakukan Rihana untuk mengganggu Cella agar tidak betah masuk sekolah bersama dengannya.
Peristiwa terakhir yang terjadi di sekolahan itu adalah peristiwa yang membuat Cella tidak hanya berhenti dari sekolah, tetapi juga pergi dari negara A dengan nama yang sudah terlanjur tercoreng buruk dan itu semua ulah serta rencana dari Rihana atas perintah sang papa.
Cella di tuduh atas pencurian yang tidak pernah ia lakukan, namun tidak satupun guru dan teman sekelas yang percaya kepadanya. Sakit dan malu itulah yang ia rasakan saat itu.
Flashback on …
"Dasar orang miskin …Kau berani mencuri di sekolah elite ini, seharusnya kau tidak bersekolah di sini." Ucap ketus Rina Amelia putri dari salah satu pengusaha ternama di negara A.
Cella ikut bersekolah di sebuah sekolah elite khusus anak anak keluarga kaya raya, bukan karena dia adalah anak sambung dari keluarga Audison. Namun dia cukup cerdas dan pandai pada setiap mata pelajaran, sehingga mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah dan sering mewakili sekolah itu untuk mengikuti beberapa kompetisi.
Kepandaian Cella malah semakin membuat dirinya tidak di sukai oleh Rihana dan beberapa teman sekolah lainnya. Kepintaran Cella dengan IQ nya yang berada di atas rata-rata, membuat dia mencolok di antara teman-teman sekolahnya. Selain penampilan Cella yang seperti murid cupu dengan kaca mata tebalnya dan rambut sebahu yang selalu di kepang dua, membuatnya terlihat seperti siswa kutu buku.
"Jangan karena kau merasa murid paling pintar, boleh mencuri barang-barang berharga di sekolah ini. Kau hanya merusak nama baik sekolah ini saja." Ucap Rina terlihat kesal karena ponsel dan dompet barunya hilang, kemudian di temukan berada di dalam tas sekolah Cella.
"Walaupun kau pintar, kau tetap pencuri." Tuduh Rina.
"Tidak. Tidak, aku tidak pernah mencuri ponsel dan dompet mu, Rina." Balas Cella membela dirinya.
"Jika bukan kau pencurinya, lalu bagaimana bisa ponsel dan dompet ku berada di dalam tas mu?" Sengit Rina karena Cella tidak ingin mengaku.
Sedangkan di sudut ruangan, Rihana tersenyum senang atas apa yang di rencanakan olehnya dan suruhan dari papanya berjalan dengan lancar.
"Aku tidak tahu." Ucap Cella melemah, untuk membela dirinya pun percuma. Tidak ada yang akan percaya kepadanya.
"Pak kepala sekolah, apa pencuri ini akan tetap diperbolehkan sekolah di sini?" Ucap Rina melihat ke arah kepala sekolah.
"Tentu saja tidak, dia harus di keluarkan. Dia hanya mencoreng nama baik sekolah ini saja." Balas kepala sekolah sembari menatap tajam ke arah Cella yang sudah menangis karena tuduhan pencurian yang tidak pernah ia lakukan, namun semua bukti mengarah kepadanya.
Kepala sekolah tentu saja tidak bisa membela Cella, dan dia pun tidak bisa menentang permintaan dari putri salah satu pemegang saham di sekolah itu. Semua bukti mengarah kepada Cella, untuk berkelit dan membela diri pun Cella tidak bisa.
Bukti ponsel dan dompet Rina yang di temukan di dalam tas sekolahnya, juga rekaman CCTV kelas yang memperlihatkan Cella sedang membuka tas sekolah milik Rina untuk memasukkan buku yang di perintahkan oleh Rihana saat jam istirahat. Terlihat jelas Cella membuka tas sekolah milik Rina adalah bukti nyata yang tidak bisa di tolak.
__ADS_1
Cella kemudian mengingat semua perintah yang di berikan oleh Rihana padanya, lirikan mata Cella pun melihat ke arah Rihana yang berdiri pada sudut ruangan kepala sekolah bersama teman-teman lainnya.
'Ini pasti ulahmu, Rihana.' Gumam Cella di dalam hatinya saat melihat senyum tipis kemenangan Rihana melihat penderitaannya.
"Princella Johanes, kamu akan di keluarkan dari sekolah ini. Kami pihak sekolah akan menghubungi wali mu. Mulai besok kau di larang masuk ke sekolah ini lagi." Ucap kepala sekolah memberikan keputusan.
"Tapi pak…!" Ucap Cella terputus karena di potong oleh salah satu guru.
"Tidak ada penolakan dan pembelaan lagi, sudah untung nona Rina tidak melaporkan mu ke pihak yang berwajib." Ucap guru tersebut.
Cella terdiam, tidak ada yang bisa ia lakukan. Semua sudah berakhir dan rusak oleh rencana Rihana. Nama baiknya sebagai murid teladan dan pintar rusak sudah akan peristiwa itu.
Papa tirinya yang berpura-pura tidak tahu itu adalah rencana Rihana, tentu saja marah karena merasa malu akan tingkah laku anak sambungnya tersebut. Mama Cella pun hanya bisa diam dan menangis karena marah pada Cella yang telah membuat dirinya malu dan kecewa.
Keputusan pun di ambil, Cella di kembalikan ke papa kandungnya yang berada di negara B. Di sanalah awal perjuangan hidup Cella di mulai dengan cara yang tidak mudah. Membawa serta rasa marah, kecewa, dan dendamnya terhadap orang-orang yang membuat tuduhan palsu dan nama baiknya rusak.
Flashback off…
Kini di sinilah Cella berada, di tengah-tengah tatapan mata semua teman sekolah SMP nya dulu. Cella yang kini tengah tampil apa adanya dengan rambut panjangnya yang tergerai dan gaun sederhana selutut berwarna biru malam, menonjolkan kulitnya yang putih bersih.
Namun sayang wajah Cella hanya di poles dengan make up sederhana, pada kulit wajahnya tetap memperlihatkan beberapa titik hitam samar yang ada pada kedua pipinya. Penampilan nya yang selalu menyamar bukan tanpa alasan, dia tidak ingin ada seseorang mengenali dirinya malam ini. Cella harus tetap berhati-hati.
Cella duduk sendiri pada sofa yang ada pada sudut ruangan. Walaupun sedikit jauh dari teman teman yang berkumpul, namun dia cukup bisa mendengar jelas desas-desus teman-temannya yang sedang membicarakan dirinya.
"Kau mulai terbakar akan perkataan mereka." Ucap seorang pria yang datang dan duduk pada sofa di dekatnya secara tiba-tiba. Dialah Kevin, suami Diana yang tadi sore ia temui di rumah sakit Hamilton.
"Cukup panas hingga membakar telinga dan hati." Balas Cella tanpa melihat ke arah Kevin, namun perhatiannya ke arah gelas kosong yang sedang ia pegang.
"Jika semua itu tidak benar, untuk apa kau merasa terbakar dan marah?" Pancing Kevin, dia menatap intens ke arah Cella.
"Jika namamu di rusak akan tuduhan palsu yang di berikan kepadamu, dan berada pada posisi tidak bisa membela diri, apa yang akan kau lakukan?" Bukannya menjawab, Cella balik bertanya.
"Apa kau cukup diam dan terima begitu saja? Atau kau tidak akan mudah terpancing akan amarah dan rasa kecewa serta malu akan hal itu?" Tanyanya kembali.
Kevin terdiam, dia mencerna apa yang di katakan oleh Cella? Jika saja dirinya berada pada posisi Cella, mungkin dia akan bersikap sama seperti apa yang Cella lakukan saat ini? Mungkin lebih parah lagi, dia akan menghajar semua orang yang memberikannya tuduhan palsu itu, dan dia akan membalas semua orang yang terus memojokkannya.
"Jadi semua itu tuduhan palsu yang di rencanakan seseorang."
"Menurut mu bagaimana?"
__ADS_1
"Dulu aku dengar dari Diana, jika kau tidak mungkin akan melakukan hal itu. Kau tidak mungkin mencuri ponsel dan dompet Rina."
"Apa Diana mengatakan itu padamu?"
Diana memang selalu baik dan tidak pernah berpikir jahat ataupun negatif tentangnya. Namun ia tidak tahu jika Diana dan Kevin sudah dekat sejak SMP, karena mereka dulu yang tidak sekelas tidak pernah terlihat bersama.
"Iya. Diana sangat percaya penuh padamu, jika kau tidak mungkin mencuri."
Cella terdiam, dia kembali teringat kepada Diana yang selalu baik kepadanya. Dia bisa bersyukur telah di pertemuan oleh Diana, setidaknya di saat semua orang menuduh dan percaya jika ia mencuri. Masih ada Diana yang percaya padanya, jika Cella tidak akan mungkin melakukan pencurian tersebut.
"Saat kau pergi, Diana bahkan sangat kehilangan dirimu. Seorang teman yang bisa mengerti dirinya yang sangat tertutup dan pemalu." Ucap Kevin mengenang saat Diana menangis sedih kehilangan Cella.
Cella melihat ke arah Kevin, terdapat kejujuran pada sorot mata Kevin. Saat Cella ingin berbicara, beberapa orang dengan pakaian mahal mereka datang mendekat.
"Ternyata kau di sini Kevin." Ucap seorang pria tampan dengan setelan jas mahalnya, pria yang Cella kenali sangat baik. Mereka satu kelas, tuan muda keluarga Richard, Levi Richard.
Levi Richard adalah pria yang cukup tampan dan kaya raya. Wajahnya yang tampan, putih bersih dengan rahang tegas dan hidung mancung sempurna. Tubuhnya tinggi atletis, menambah aura kharismanya sebagai pewaris tahta keluarga Richard.
Cella dan Kevin melihat ke arah Levi. Di belakang Levi ada Rina Amelia, Rihana Audison dan satu pria tampan lagi yaitu Kristian Wijaya. Pria yang juga berteman baik bersama dengan Kevin dan Levi, dan satu pria lagi yaitu Sean Hamilton. Pria populer di sekolah mereka dulu sekaligus pemimpin dari 4 pria tampan tersebut.
"Ada apa?" Tanya Kevin.
"Kevin, apa kau tidak salah duduk dengannya?" Tanya Rina melihat remeh ke arah Cella yang masih duduk dengan tenang.
Kevin tahu siapa yang di maksud oleh Rina. Kevin hanya memandang tenang ke arah Levi yang bertanya kepadanya, tanpa memperdulikan kehadiran Rina. Membuat Rina kesal akan sikap tidak peduli Kevin kepadanya.
"Kemana Sean, sampai saat ini dia belum datang?" Tanya Levi langsung pada intinya.
"Kenapa tidak kau hubungi saja dia." Balas Kevin.
"Sudah, nomernya tidak aktif. Kau lebih dekat dengannya, mungkin kau tahu?" Tanya Levi.
Kevin diam. Itu benar, hubungan Kevin dan Sean yang paling dekat di antara mereka karena mereka masih saudara sepupu dari mama mereka berdua. Kevin juga sejak sore menghubungi nomer Sean saat di rumah sakit, namun tidak aktif. Kemana Sean, tidak biasanya menghilang tanpa kabar?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.