
***Rumah Sakit Hamilton***
Cella terlihat tidak peduli kepada mereka yang memandangnya remeh. Belum saatnya dia bertindak, menghimpun semuanya sebelum meledak pada akhirnya.
Aiko masuk ke dalam ruang perawatan Kenzo sebelum Cella mendekati pintu. Tatapan semua orang tertuju ke arah Aiko, dokter cantik dengan postur tubuhnya yang tinggi langsing berisi. Jangan lupakan rambut panjang hitamnya yang tergerai indah.
"Kau di sini rupanya, aku mencari mu ke seluruh rumah sakit. Ponselmu tidak aktif…?!?" Cercah Aiko begitu menemukan yang ia cari sejak tadi.
Cella mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku jubah dokternya. Ponselnya benar-benar mati karena kehabisan daya.
"Iya. Maaf dokter Aiko." Balas Cella setelah memperlihatkan ponselnya yang tidak aktif.
"Tunggu aku, kita pulang bersama." Ucapnya.
Tanpa ia sadari begitu banyak pasang mata melihat ke arahnya. Aiko hanya bersikap biasa saja, melangkah mendekati ranjang perawatan Kenzo untuk melihat pasien istimewanya.
Gadis cantik itu bahkan tidak peduli pada pandangan mata semua orang yang hadir di sana.
"Bagaimana perasaan mu hari ini Kenzo?" Tanya Aiko sembari melihat rekam medis Kenzo, dan beberapa alat yang masih terpasang pada tubuh anak itu.
"Baik dokter." Balasnya terdengar cukup baik.
"Apa Kenzo sudah makan permen dan susu yang di berikan oleh perawat?"
"Sudah semua dokter." Kenzo tersenyum.
"Baiklah, istirahat yang cukup. Kita akan bertemu lagi nanti malam. Jangan lupa makan, ok!" Perintahnya mengingatkan.
"Baik dokter. Ok!"
Aiko berbalik untuk pergi dari ruangan itu. Di sana lah dia baru sadar, jika dia menjadi pusat perhatian. Aiko tahu apa arti tatapan mata mereka, hanya bersikap acuh dan terkesan dingin.
Baru saja ingin melangkah, dia melihat Sean di sana. Pria yang memang dia cari untuk memberitahukan sesuatu kepada laki-laki itu.
Aiko datang mendekati Sean, dan segera memanggilnya.
"Tuan Sean…!" Panggil Aiko.
Sean melihat ke arah Aiko.
"Ada apa?"
"Bisa kita bicara?"
"Tentang apa? bicaralah!"
"Tidak di sini…ini ruang perawatan pasien."
Sean mengerutkan keningnya melihat ke anehan dari sikap Aiko.
"Dia dokter yang tadi berkelahi di lobby rumah sakit." Celetuk Rina menunjuk ke arah Aiko.
Aiko sontak melihat ke arah Rina yang menunjuk ke arahnya. Gadis itu tahu apa yang Rina bicarakan.
Sean pun kini tahu siapa dokter wanita yang sudah membuat keributan di rumah sakitnya. Sedangkan Cella hanya diam untuk mengamati saja, dia percaya Aiko bisa menyelesaikan urusannya tersebut.
"Jadi kau dokter wanita yang membuat keributan itu…!" Kini giliran Sean menunjuk ke arah Aiko. Sean nampak kesal dan menatapnya sedikit tajam.
"Membuat keributan…! Apa tidak salah dengan kata-kata mu itu?" Tanya Aiko tidak suka akan tuduhan mereka.
Bukan dia yang membuat keributan, tapi pria pria berjas hitam itu.
"Apa kau tahu, apa yang sudah kau lakukan?" Cercah Sean nampak marah.
Gara gara Aiko yang tidak dapat menahan emosinya, Sean harus berurusan dengan seorang mafia.
"Aku hanya membela diri dan membantu rumah sakit mu ini." Balas Aiko dengan kata-katanya yang terdengar tidak menganggap Sean tuannya. Seolah mereka memiliki jabatan yang setara.
__ADS_1
"Membela diri dan membantu rumah sakit ku ini, dengan cara menentang seorang mafia. Apa kau tahu siapa mereka di kota ini?"
"Bukan urusan ku harus tahu siapa mereka. Tunggu dulu…!" Ucapnya berdiri menantang di hadapan Sean yang sedang marah kepadanya, sedangkan Aiko belum mengerti situasi mereka.
"Kau marah padaku karena hal ini?" Tanya Aiko melihat serius wajah Sean.
"Apa kau tidak menyadari juga apa kesalahan yang telah kau perbuat?"
"Kesalahan…kesalahan apa…?"
"Kau berani melawan organisasi Black Lion. Dan membuat rumah sakit ku akan terkena masalah karena itu."
Aiko mencerna dengan cepat semua perkataan Sean.
"Tuan Sean Hamilton. Dengarkan aku baik baik…mereka yang memulai semuanya terlebih dahulu. Mengancam seorang dokter, tidak mau mengikutin prosedur di rumah sakit ini, dan memaksakan kehendak mereka semena-mena. Apa itu bukan sebuah perlawanan yang tidak seharusnya di lakukan oleh seorang pasien." Jelasnya.
"Mereka telah merugikan banyak pasien lainnya akan ulah mereka. Seenaknya menentukan dokter yang harus melayani mereka. Mempersulit pekerjaan kami sebagai dokter, dan mengancam bahkan memukul seorang dokter. Itu sudah tindakan kriminal tuan Sean." Ucap Aiko menjelaskan.
"Cukup ikuti keinginan mereka agar tidak ada keributan. Mudah bukan…Mereka bukanlah orang yang seharusnya di lawan…!"
Aiko tercengang mendengar perkataan Sean. Lalu tersenyum remeh.
"Pantas saja keamanan rumah sakit mu ini sangat lemah, karena tuannya yang juga lemah…! Takut karena mereka adalah mafia. Kau takut terkena masalah dengan seorang mafia…!"
"Apa maksud mu…?"
"Sudah sangat jelas…kau takut dan tidak ingin berurusan dengan mereka, sehingga kau bebaskan para mafia bertindak semaunya di rumah sakit mu ini. Membuat para pasien dan pengunjung lainnya ketakutan, mereka mengatur dan mengancam para dokter…apa kau akan tetap diam dan mengijinkan mereka bertindak semena-mena seperti itu?"
"Iya…karena aku tidak ingin berurusan dengan mereka…aku tidak suka berurusan dengan seorang mafia yang berasal dari dunia hitam." Balas Sean begitu terlihat marah akan perdebatannya bersama Aiko.
Aiko tersenyum sangat lebar, merasa lucu akan pernyataan Sean. Pandangan matanya mengenali seseorang dengan baik dari orang kepercayaannya.
"Kau tidak suka berurusan dengan seorang mafia yang berasal dari dunia hitam. Lalu teman mu ini kenapa ada di sini…?" Katanya dengan menunjuk ke arah Kristian dengan ujung matanya.
Aiko mengenali sosok Kristian dengan baik dari seorang teman. Kristian Wijaya, salah satu ketua mafia dari keluarga Wijaya yang cukup terkenal di dunia hitam sejak sang kakek memimpin organisasi King Tiger milik mereka.
"Apa maksud mu…?" Tanya Sean.
"Kau mengenal ku nona…?" Tanya Kristian.
Serempak keduanya bertanya pada Aiko.
"Dia teman mu bukan…"
"Iya, lalu apa hubungan semua ini dengan temanku?"
"Hahahaha…!" Aiko tertawa lucu karena Sean tidak mengerti juga maksudnya.
Mereka heran melihat Aiko tertawa, begitu juga Cella yang hanya diam berdiri di tempatnya untuk menyaksikan semuanya.
Aiko melangkah mendekati Kristian, dan berdiri di hadapan pria itu dengan angkuhnya.
"Kau Kristian Wijaya. Pewaris tahta kerajaan Wijaya Grup, ketua pemimpin tertinggi oraganisasi King Tiger." Sapa Aiko dengan senyum yang terlihat menantang ke arah Kristian.
Wajah Kristian yang tadinya terlihat dingin, perlahan tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak. Tidak pernah ia duga, jika gadis yang tadi ia kagumi ternyata mengenali dirinya dengan baik.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, nona…?" Tanya Kristian setelah berhenti tertawa.
"Tidak. Kita tidak pernah bertemu sama sekali." Tegas Aiko.
"Lalu, dari mana kau tahu aku Kristian Wijaya. Ketua dari organisasi King Tiger." Tantang Kristian tidak kalah angkuh.
"P.J Angel. Kau pasti mengenalnya bukan."
Kristian diam dan mengamati apa yang selanjutnya akan di katakan oleh Aiko.
"Satu tahun yang lalu, kau mengajukan untuk ikut bergabung pada organisasi P.J Angel. Tapi pengajuan mu di tolak…Apa kau tahu kenapa…?" Tanya Aiko dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Karena apa…?" Tanya balik Kristian penasaran akan penolakan itu.
Aiko tersenyum sembari mengeluarkan kartu namanya. Gadis itu menyentuh dada Kristian dengan gerakan tangannya yang gemulai. Kemudian memasukkan kartu namanya ke dalam saku atas jas Kristian.
Begitu kartu itu sudah masuk ke dalam saku, Aiko menepuk dada Kristian sedikit keras.
"Kasino mu…memiliki barang terlarang yang tidak seharusnya ada di sana. Seseorang telah memanfaatkan tempat mu itu untuk menjadi perantara barang haram itu. Sejak kapan kau melebarkan sayap mu untuk barang barang yang tidak pernah di sentuh oleh leluhur keturunan keluarga Wijaya yang terhormat." Jelas Aiko begitu tegas.
"Apa maksud mu…?" Kristian terlihat marah akan informasi itu, tanpa sadar dia mencengkram kuat jubah dokter Aiko hingga tubuh gadis itu mendekat pada Kristian.
"Jika kau merasa penasaran, hubungi nomer ku…Akan aku kirimkan semua petunjuk tentang itu semua…!" Balas Aiko bersikap tenang.
Teman-teman Kristian tentunya terkejut akan sikap pria itu kepada Aiko. Namun, mereka mengerti mengapa Kristian marah seperti itu. Keluarga Wijaya memang memiliki latar belakang mafia, tapi tidak untuk menjual dan menggunakan barang terlarang atau barang haram seperti yang Aiko katakan.
Cella hanya diam berdiri dengan santainya melihat semua adegan yang Aiko ciptakan.
"Kristian, kita bisa bicarakan ini baik baik." Peringatan dari Levi kepada sahabatnya itu.
"Cukup…lepaskan dia…!" Kata Levi sembari membantu Kristian untuk melepaskan cengkramannya.
Kristian mengikuti arahan Levi. Dengan senyum jahatnya dia berkata kepada Aiko.
"Jika semua yang kau katakan ini tidak benar…kau tidak akan aku lepaskan…!" Peringatan sekaligus ancaman Kristian pada Aiko.
"Tentu saja, akan aku tunggu hari itu datang…Akan sangat menarik. Tapi jika terbukti dan kau di balik semua barang haram itu…P.J Angel akan berada di barisan terdepan untuk menghancurkan mu berkeping-keping…! Sebaliknya, jika kau di manfaatkan oleh seseorang. P. J Angel akan siap membantu mu. " Kata Aiko balik mengancam.
"Siapa kau…?" Tanya Kristian menyadari sesuatu.
Aiko tersenyum. Kemudian menjawab. "Seseorang yang selalu mendukung P. J Angel." Katanya sembari merapikan jubah dokternya yang sedikit kusut.
"Baiklah tuan Kristian Wijaya, selamat berjuang. Sampai bertemu lagi…!" Pamit Aiko sembari membersihkan jas hitam Kristian yang tidak kotor sama sekali.
Aiko menghadap ke arah Sean, tatapannya tajam penuh arti yang hanya diketahui olehnya sendiri.
"Cari aku jika para bajingan itu meminta pertanggung jawaban dari mu." Ucapnya.
"Tidak suka berurusan dengan seorang mafia yang berasal dari dunia hitam. Tapi nyatanya memiliki teman yang berkecimpung di dunia itu. Dasar pria picik…!" Katanya lagi terlihat meremehkan Sean.
Untuk kedua kalinya ada yang berani bersikap seperti itu kepada Sean Hamilton. Meremehkan laki-laki itu, mereka adalah Aiko Rayman dan Princella Johanes.
Setelah berkata seperti itu, Aiko melangkah mendekati Cella yang setia menunggu dirinya.
"Diana, Kenzo aku pulang dulu…sampai jumpa nanti malam." Pamit Aiko kepada Diana dan Kenzo yang terlihat aneh melihat ke arahnya.
"Aahhh Iya… Hati-hati dokter Aiko…!" Balas Diana dengan senyum anehnya.
Aiko hanya tersenyum lucu melihat sikap aneh Diana.
"Ayo Cella kita pulang…!" Ajaknya sembari merangkul lengan Cella dan berlalu pergi dari ruangan itu.
Sepeninggalnya Aiko dan Cella.
"Siapa dokter itu…sikapnya bahkan tidak sopan pada Sean dan Kristian…terlihat genit sekali…!" Komentar Rina tidak suka pada Aiko.
"Dia dokter jenius dari Prince Healthy Klinik yang bekerja sama dengan ku sejak beberapa hari yang lalu, dokter Aiko Rayman." Jawab Sean dengan tegas.
Kristian cukup terkejut mendengar jawaban Sean. Jika benar, itu artinya Aiko Rayman adalah ketua dari organisasi mafia P. J Angel. Itulah dugaannya untuk sementara ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1