
Udara ini begitu segar, aroma khas sang embun berbeda di sini. Suara gemercik air terasa begitu lekat. Di sini, di pedesaan ini.
Aku yang baru menikah satu tahun tengah berkunjung ke rumah ibu mertua, ibu yang memiliki seorang anak dari pernikahan pertamanya dan kini menikah dengan lelaki yang lebih muda darinya. Namun belum dikaruniai anak begitupun aku.
Ibu mertua duduk di sampingku seraya memakan rengginang kesukaannya. Kami berbincang cukup jauh. Hingga sampai dititik yang membuat dada ini seakan ikut sakit.
"Semoga anak-cucu ibu tidak mengalami hal yang sama. Sakit, Neng. Masya Allah Dika bisa tumbuh besar dan bersabar. Jika mengingat hal itu, hati seakan ditancapi paku."
"Ya, A' Dika pernah berkata tapi tidak begitu jelas. Aku pun gak ngerti. Hanya bersyukur aja dia tidak sampai menjadi anak brandal, bersyukur Allah masih menjaganya."
"Ibu akan cerita tentang masa dulu. Ya itung-itung sambil nunggu nasi matang dan kita ambil semua pelajarannya sekarang."
Aku tersenyum dan penasaran. Hemmm, akan ada air mata sepertinya.
ππππ
Suatu pagi di bawah langit Cianjur, seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun duduk di teras rumah. Dika namanya. Bapaknya bernama Didi tengah bersiap entah akan pergi ke mana.
"Dika, nanti kamu pergi sekolah sendiri saja atau bersama teman lain. Bapak mau ada keperluan."
"Bapak mau ke mana? Aku ikut aja."
"Jangan! Sudah cepat mandi sana, sarapanmu sudah bapak siapkan. Jangan lupa kunci pintu dan taruh kuncinya di bawat pot itu," tutur sang bapak dengan menunjuk salah satu pot bunga.
Didi berlalu meninggalkan anaknya. Dika bergegas mandi dan bersiap berangkat sekolah. Seperti biasa orangtua itu lupa memberinya uang jajan.
Dika pulang setiap pukul sepuluh pagi, dia dan teman-temannya akan menghabiskan waktu 30 menit untuk sampai rumah dengan berjalan kaki.
Suasana hening begitu ia sampai, sesekali orang yang berpapasan dengannya menatap iba dan mengelus rambutnya. Entah ada apa.
'Hari yang aneh,' pikirnya. Bapaknya masih belum pulang, perut sudah menagih makan. Tak ada nasi atau makanan, hanya ada piring bekas tadi pagi ia sarapan.
"Dika ...!" teriak Riki temannya mengajak main bola.
Dika pun segera pergi dan melupakan rasa laparnya.
"Dika, aku mau ngambil makan dulu ya. Kita makan bareng saja nanti di lapangan. Kamu bawa nasi."
"Aku gak ada nasi, Rik. Minta aja sesuap nanti kalau boleh."
"Huh, yaudah. Kamu duluan kelapang nanti aku nyusul sambil bawa bolanya, tadi ketinggalan di rumah Rafa."
__ADS_1
"Oke."
---
"Kita tinggal di sini saja dulu, jangan dengarkan apa kata orang. Kalau udah ada uang kita ngontrak saja ke kota."
"Tapi Dika?"
"Dia masih kecil, dia menurut apa kata kita nanti. Lagian anakmu masih berumur tiga tahun pasti Dika senang karena punya teman baru di rumah."
Tengah hari menjelang dan Dika baru pulang. Bapaknya terlihat kesal melihat Dika yang sedari tadi hanya bermain. Anak itu pun terkejut setelah melihat seorang perempuan dan anak kecil berada di rumahnya.
"Bi Asri? Tumben bibi di sini."
"Tumben ... tumben! Cepat mandi sana, jangan lupa cuci bajunya kotor begitu."
"Bapak ih, kok malah marah!" seru Dika.
---
Dika pun merasa aneh, sebab hampir tiap hari wanita yang dipanggil bibi itu selalu di rumah dan bersama bapaknya. Dika pun merasa diabaikan.
"Dika, kalau nyuci yang bersih!" bentak Bi Asri.
"Makanya kalau main jangan kotor-kotoran!"
Dia bergegas pergi ke kamar. Lalu Dika mengingat sang ibu yang hampir dua tahun tidak bertemu.
Dika mendengan senda-gurau antara bapak, bi Asri dan anaknya. Ia membuka gorden kamarnya untuk sekadar mengintip. Beberapa mainan, makanan dan uang yang diberikan bapak untuk bi Asri. Tak biasanya bapak sebaik itu sama bi Asri, setelah seminggu bi Asri tinggal di sini semua seakan berbeda. Dika pun bergegas menghampiri mereka.
"Pak ...." Pak Didi terperenjat saat melihat Dika.
"Apa, Dik?"
"Aku pun mau makanan itu, mainan untukku mana, Pak?"
"Ah ... iya bapak lupa, ini." Pak Didi menyodorkan satu buah truk mainan berukuran sedang.
"Hanya ini, Pak?" tanya Dika.
"Iya, uangnya habis."
__ADS_1
"Oh ...." Dika pun berlalu.
--
Satu tahun berlalu, rasa yang selama ini terpendam seakan meminta u tuk diungkapkan.
Dika pergi ke rumah Wa TarsihΒ yang tak jauh dari rumahnya.
Dia menanyakan kenapa selama ini bi Asri tinggal bersamanya dan begitu dekat dengan bapak. Akan tetapi, Wa Tarsih tidak memberi jawaban ia hanya menangis dan mengusap-usap rambut bocah itu.
Kemudian, sesaat setelah Dika bertanya pada Wawanya. Terjadi keributan di rumah. Ada Wa Tarsih pak Didi dan bi Asri. Dika tak mengerti apa yang tengah mereka ributkan. Hingga satu malam Pak Didi membangunkannya untuk segera bersiap.
Pak Didi membawa Dika, bi Asri dan anaknya pergi. Seakan ia akan di temui sesorang dan menghindar.
"Mau kemana kita, Pak?" tanya Dika.
"Jangan banyak tanya, bereskan pakaianmu kita pergi ke kota."
"Ini sudah malam."
"Banyak omong kalau mau ikut cepat siap-siap," timpal bi Asri.
Hingga begitulah sampai setiap bulan dan tahun keluarga itu berpindah-pindah. Begitupun sekolahnya Dika. Entah apa yang mereka hindari, sedangkan anak-anak mereka hanya bisa mengikuti.
Tiga tahun akhirnya Dika menanyakan tentang ibunya, kepada bapak dan bi Asri.
"Ibumu sudah meninggal di Arab sana," ucap bi Asri.
"Doakan saja ibumu," timpal bapak.
Setelah mendengar ucapan itu Dika yang masih sedikit polos, hanya terdiam dengan nanar yang memelas. Hingga selama hampir 6 tahun itu pun ia tidak pernah bertemu ibunya, bahkan ia lupa bagaimana wajah seorang yang telah melahirkannya. Secarik foto pun tak ia miliki.
Kini Dika berusia 11 tahun, dia berjalan sendirian di sebuah trotoar jalan rasa kota yang tak jauh dari tempatnya tinggal.
"Dika ...!" Seseorang meneriakinya. Namun Dika seakan tak peduli.
"Dika!" Suara itu semakin dekat. Lalu, seorang ibu berlari mendekatinya. Dika ketakutan dan ia berlari menjauh, tapi dia kalah cepat dengan ibu-ibu tersebut. Sehingga berhasil menangkap dan memeluknya.
"Ini ibu, Nak. Ini ibu!" serunya berulang kali.
"Ahh ..., ibu siapa? Bapak!" Dika menjerit dan berusaha melepaskan pelukan ibu tersebut. Hingga ia berhasil lari.
__ADS_1
"Dika ...." Perempuan itu berteriak dengan terisak.
...