Ibu Yang Dikhianati

Ibu Yang Dikhianati
Bagian Tiga (3)


__ADS_3

Kota yang baru, tak membuat Dika canggung dan malu untuk berinteraksi dengan teman yang baru dikenalnya. Di sana anak itu memiliki banyak teman yang begitu baik, pun orangtua teman-teman.


Hingga beranjak remaja, Dika mengikuti ayahnya bekerja sebagai kuli panggul kayu. Sedikit rasa iri melihat teman-temannya yang bersekolah. Namun, segera ia melupakannya setelah mengingat ia bisa bermain bersama mereka seusai pulang sekolah dan ia selesai bekerja.


Setelah menginjak usia tujuh belas tahun, Dika mulai memberanikan diri untuk bekerja sendiri ikut orang yang mengajaknya bekerja ke luar kota. Sesekali, ia pulang lalu berkumpul bersama temannya sekadar bergurau dan bermain musik.


Sejak saat itu, Dika jarang tidur dikontrakan bersama bapak dan ibu tiri yang lagi-lagi kenyataanya itu adalah bibinya sendiri. Anak dari Bi Asri pun telah menjelma menjadi gadis muda yang cantik, Ai namanya. Tinggal bersama di sebuah kontrakan yang terbilang sempit membuat Dika rela tidur mana saja.


Untungnya ia memiliki teman yang selalu saling mengingatkan pada kebaikan. Hingga ia tak begitu ambil pusing akan kondisi hidupnya, hanya saja Dika tak mahir dalam mengelola uang yang selama ia dapatkan. Sampai suatu ketika, seseorang menelponnya.


[Assalamualaikum ... Dika.]


[Waalaikum salam, ini siapa?]


[Ini ibumu, Nak.] Dika terkejut dan memikirkan sesuatu.


[Ini ibu, Dika. Ibu yang dulu Dika takuti, kangen banget ibu ingin bertemu.]


[Emmm, tahu nomor ini dari siapa?] Dika sedikit canggung berkata.


[Bapakmu, kapan kamu mau nemuin ibu ke sini. Ibu di Cianjur deket Wawa rumahnya.]


[Oh ya kapan-kapan aku ke sana, kalau udah ada rezekinya, Bu.]


[Oalah, Nak. Ibu kangen banget. Ya sudah ibu tunggu ya.]


Pembicaraan singkat ditelpon, bapak memberikan nomor pada ibunya. Mungkin menurut Dika keadaan sudah membaik.

__ADS_1


Dika mencari kerja sampingan selama ia belum kembali ke luar kota. Berharap upahnya cukup untuk pergi menemui ibunya, meski sebenarnya dalam hati masih merasa tak terbiasa. Hingga ia mampu mengumpulkan uang selama seminggu dan cukup untuk bekalnya.


Sepanjang jalan ia susuri memakai kendaraam matic milik temannya. Hasil menyewa untuk beberapa hari, butuh memerlukan waktu hampir dua jam perjalanan untuk sampai, matanya tertuju pada rumah beralaskan papan dan dinding dari bilik anyaman bambu. Baru mengucapkan salam seorang ibu keluar dan terkejyt hingga langsung memeluknya erat dengan tangis haru.


"Ya Allah, akhirnya kamu datang juga. Sudah besar juga kamu, Nak." Dika hanya tersenyum malu. Baru kali ini ia disambut dengan bahagia. Lalu, tak lama ibunya mengenalkan suami yang tak lain adalah ayah tirinya.


"Bagaimana keadaan bapakmu dan Bi Asri?" tanya ibu.


"Baik, alhamdulillah."


"Oh, syukurlah." Ternyata ibunya masih memikirkan keadaan mereka, Dika pikir seorang yang telah dikhianati oleh suami dan adiknya sendiri takkan pernah merasa peduli lagi. Dika melebarkan senyum, sungguh besar hati ibunya.


Baru sejenak duduk Dika telah disuguhi makanan, ibunya terlihat bahagia melepas rindu pada anaknya yang selama ini tak pernah ia momongi.


'Inikah rasanya dipedulikan? Inikah rasanya kasih sayang seorang ibu?' Hatinya terus bergumam.


Waktu terasa cepat berlalu, pekerjaannya menuntut ia kembali. Tiga hari adalah waktu tersingkat bersama ibunya. Namun begitu banyak pesan yang ibunya sampaikan, banyak kesan yang ia dapatkan.


"Jika sudah waktunya kamu punya kekasih dan menikah, setialah. Jaga wanitamu jangan sakiti perasaannya. Cukup ibu yang merasakan betapa sakitnya dikhianati. Jadilah lelaki kuat dan bertanggung jawab. Ingat Allah selalu, doa ibu selalu bersamamu." Pelukan hangat begitu erat.


"Terima kasih, Bu."


💔💔💔


Tak terasa air mata menetes di pipi, cerita ibu mertuaku terhenti seiring hujan yang mulai mengguyur.


Ibu setengah baya itu pergi untuk mengambil ember. Rumah sederhana ini masih sama seperti dulu yang ibu mertuaku ceritakan, hanya saja sebagian sudah pada bocor dan hampir lapuk.

__ADS_1


Aku melihat setiap tetes hujan, mungkin tangis ibu dulu sama seperti ini. Tak bisa kubayangkan sakitnya. Syukurlah, Tuhan masih melindungi keluarga ini. Dan aku bersyukur akan suamiku, dia bisa setegar ini dan tak ingin mempermasalahkan hal yang telah berlalu.


"Neng ...." Terdengar suara dari luar.


"Lama banget si, A? Mana ujan-ujanan lagi."


"Wawa ngajak ngobrol terus," ucapnya dengan tersenyum.


"Neng, ambilin aa air anget," pinta ibunya.


"Iya, ya udah aa ganti baju dulu Neng ambil air anget."


"Oke, sip."


***


Sudah seminggu berada di sini, waktunya untuk kembali, meski ibu mertua tak mengizinkan kami. Namun, apa daya kebutuhan dan tuntutan yang membuat kita harus kembali.


Ibunya menyuruhku untuk tetap tinggal selagi A'Dika bekerja di kota, tapi hatiku masih belum sedia. Enggan rasanya masih tak enak apalagi sibuah hati belum Tuhan beri.


"Kapan-kapan saja ya, Bu."


"Hemm ... yasudah hati-hati daja di jalan."


Betah memang namun tak ada kerjaan lain takut membuatku bosan, beda jika tinggal di rumah bareng mmamah sendiri. Tak canggung dan malu jika ingin berlama di kamar atau beberaja jam panteng depan tv, terlebih di rumah suasana ramai dengan adany adik dan ponakan. Ibu mertua kesepian sebab tak ada anak kecil dan orang yang menemaninya saat suaminya bekerja di ladang, tapi mau bagaimana egoku terlalu besar dan maluku memaksaku untuk tidak tinggal.


***

__ADS_1


(Bersambung ...)


__ADS_2