
Bu Denok yang bernama asli Karsih itu masih menjadi topik hangat selama beberapa minggu, sebagian orang ada yang masih belum percaya akan kenekadannya memenggal diri sendiri. Miris dan ngeri, sementara itu adik dan suaminya pergi meninggalkan desa karena malu setelah beberapa hari menjadi saksi di kantor polisi.
Rumahnya kini sepi tak berpenghuni. Terdengar simpang siur omongan para tetangga bahwa setiap malam selalu terdengar suara tangisan dan bau amis darah, acapkali melewati rumah Bu Karsih tersebut. Sebagian ada yang menyergah bahwa itu hanya akal-akalan orang supaya selalu ada pembicaraan terbaru mengenai alm. Kasian memang, terlebih aku memikirkan kondisi anaknya, Tanti. Yang kini tinggal di kampung sebelah bersama paman dan bibi ke duanya.
Di pagi hari, tak sengaja sehabis mengantar adik sekolah aku berpapasan dengannya. Tanti telah membeli sesuatu, terlihat dari kantung keresek kecil yang dibawanya.
"Hei ... Tanti," sapaku membuatnya kaget. Anak ini nampak berjalan sambil melamun.
"Eh, hai. Sasa?"
"Huum, kemana aja ih baru ketemu."
"Ada, aku di rumah Bi Dian sekarang. Bukannya kamu di Cianjur?" tanyanya.
"Udah lama aku balik sini. Si aa kerja di luarkota soalnya, aku gak enak tinggal bareng mertua belum bisa adaptasi," jelasku sambil nyengir.
"Ada waktu gak? Main yuk. Aku sendirian paman sama bibi lagi ke Bandung Kota," ajaknya.
Kesempatan pikirku, untuk lebih tahu menyoal orangtuanya yang masih bikin penasaran.
"Ayuk, tapi aku pulang dulu ya. Mau bilang ibu sama nelpon suami dulu. Nanti aku langsung ke rumah bibimu deh."
"Aku tunggu ya." Kami pun sama-sama berlalu, Tanti tak banyak berubah dia tetap ramah hanya saja sekarang terlihat dia sering melamun raut mukanya pun begitu tak seceria dulu.
Aku berbegas mandi dan pamit tak lupa menelpon A' Dika untuk memberitahunya jika aku akan pergi ke rumah Tanti, meskipun kami berjauhan tapi aku selalu meminta izin jika akan pergi kemana-mana. Ya, aku hanya ingin membuatnya tenang dan tahu aku kemana sekalipun ia tak ada di sini.
Selang beberapa menit aku sampai di rumah bibinya Tanti, nampak dia sedang menyapu halaman.
__ADS_1
"Bentar ya, Sa. Aku beresin nyapu dulu." Aku mengangguk dan duduk di teras seraya memainkan ponsel.
"Kamu udah izin ke sini?" tanyanya dengan menyimpan sapu lidi dan pengki. "Ayo masuk," sambungnya.
"Sepi ya. Ponakanmu ikut apa dia sekolah?"
"Sekolah dia, biasa anak teladan suka berangkat pagi banget."
"Rumahmu yang dulu dibiarkan kosong. Lalu nanti ditempatin siapa?"
"Entahlah, pengennya dirobohin aja. Atau dijual."
Ingin langsung ke inti pembicaraan namun tak enak. Sial, rasa kepo begitu menggeliat. Hingga seakan dia tahu maksudku akhirnya dia menceritakan persoalan keluarga.
"Kamu udah denger soal keluargaku?" tanyanya seketika dengan memberikan secankir teh hangat.
"Yang soal orangtuamu? Maaf."
"Tahu, tapi ya begitu simpang siur saat itu aku baru pulang. Aku tirut prihatin dan berduka, Tan. Aku masih tak menyangka."
"Aku yang anaknya saja hampir depresi. Tangisku seakan habis saat itu. Tante dan atah sialan, setan memang!"
"Tenangkan dirimu, Tan. Jika tak sanggup dan hanya buatmu tambah emosi kita bahas hal lain saja." Aku mencoba menenangkannya yang tiba-tiba naik pitam. Sampai dia sedikit tenang.
"Jika kamu diposisiku, Sa. Apa yang kamu lakuin? Melihat ayah dan tante tengah bercumbu telanjang dada, lalu seketika melihat ibu memenggal lehernya sendiri." Tangisnya berderai. Aku menjadi sangat iba, rasa kepoku kubuang jauh tak tega melihatnya, benar-benar tak tega. Air mataku pun ikut berderai.
Tanti yang saat itu baru pulang dari klinik bersama ibunya, mendapati sang ayah dan tante tengah berada di atas ranjang. Betapa terkejut dan shoknya mereka, sebetulnya bukan kali itu saja tiap kali Tanti kerja malam, saat ia hendak berangkat ayahnya selalu terlihat mengobrol mesra dengan sang tante yang baru pulang dari Malaysia. Dia seorang janda dan tak mau dipanggil 'bibi', saat itu Tanti hanya berpikir bahwa itu adalah hal biasa jika ayahnya mengobrol. Namun, dibalik itu semua tersimpan sebuah perselingkuhan.
__ADS_1
Setelah melihat mereka berada di atas tanjang, Tanti berlari menghampiri mereka. Menjambak rambut sang bibi dan memukul ayahnya dengan sekuat tenaga.
"Tante macam apaku ini? Dasar binatang! Ya Allah, ayah. Bukannya sadar udah tua ibu lagi sakit kau malah bikin maksiat sama adik iparmu sendiri! Tobat ...."
Tantenya terlihat kesakitan dan ayanhnya mencoba melepaskan tangan Tanti dari rambut sang Tante.
"Memalukan!" teriaknya berkali-kali. Lalu tiba-tiba ibunya pun masuk dengan membawa pisau besar tajam, alat yang selalu dipakai untuk memotong daging.
"Udah aku sabarin dari tahun kemarin, kau tak berubah juga. Daripada aku tersiksa kau pun tak peduli, dan kamu Maya adik macam apa kamu apa tidak ada lelaki lain sampe suami kakakmu kau selingkuhi. Daripada melihat kalian begini bikin sakit hati dan malu lebih baik aku mati!"
"Istigfar, Bu." Tanti begitu kaget dan berusaha menhampiri sang ibu untuk mengambil pisaunya. Ibunya berlari ke dapur. Sialnya, kaki Tanti terkilir membuatnya jauh ayahnya membenarkan pakaian sbelum menyusul sang ibu.
Emosi marah yang memuncak lebih kuat dibanding sakit tubuh dan hati yang ibu alami saat itu. Sampai mereka terlambat menghentikannya, darah mengalir hebat. Ibunya sudah tergeletak. Tanti menangis sejadi-jadinya hingga tetangga silih berdatangan untuk mengetahui apa yang terjadi.
Lemas, membuat Tanti smtak sadarkan diri saat itu.
Perlu waktu untuk mengobati trauma dan depresi yang ia alami. Tanti pun memutuskan untuk berhenti bekerja sementara, paman dan bibi adik kedua ibunya menyuruhnya tinggal bersama. Mengajaknya untuk ikut pengajian tiap sore di majlis-majlis berbeda, membuatnya sedikit tenang dan perlahan rasa sakitnya terobati.
"Sama seperti apa yang dialami ibu mertuaku dulu, Tan. Tapi, ibu memaafkan semua. Mungkin bedanya ibu hanya mengetahui saat mereka sudah menikah saja. Tapi pasti rasa sakitnya itu sama. Ya, kita berdoa saja untuk orangtua terutama ibu. Hanya itu yang dapat kita lakuin. Maaf aku kesini malah jadi bikin suasana hatimu kembali terisis."
"Tak apa, Sa. Aku hanya ingin bercerita saja. Toh aku sudah menerima dan selalu mendoakan ibu. Masalah ayah aku sudah tak memikirkannya. Oh iya, kamu udah ngisi belum?"
"Belum, Tan. Doain saja ya."
"Pasti."
"Semoga kamu segera mendapat jodoh juga yang setia dan istimewa."
__ADS_1
"Aamiin ...."
(Bersambung ...)