
Perjalanan pulang sedikit melelahkan, mega memekat sementara kami masih jauh menuju pulang. Gerimis mulai mengetuk kelopak mata.
"Berhenti dulu A, hujan."
"Nanti aja, Neng. Masih gerimis."
"Keburu lebat! Pake dulu jas hujannya."
"Yaudah Neng aja. Aa kan pake jaket lagian cuma satu jasnya."
"Ya udah Sa pake atasannya Aa bawahnya biar adil."
Suamiku menuruti tanpa ingin berdebat, dia sudah menyuruhkuh mengenakan jaket sebelum kami berangkat. Akan tetapi aku tetap keukeuh tanpa jaket. Benar saja, hujan semakin deras dan tak ada tempat berteduh sepanjang jalan, hanya kebun teh membentang sepanjang mata memandang sisi kiri dan kanan.
"Gak apa ya, lanjut. Kita neduh di warung ujung jalan habis kebun teh ini."
Aku mengangguk, dia pun terlihat mengggigil. Kupeluk tubuh basahnya, dia menoleh ke belakang.
"Nanti Sa sisihin uang pemberian Aa buat beli jas hujan. Biar kita sama-sama pake lengkap"
"Maafin Aa belum bisa memberi uang lebih."
"Kata siapa? Ya cukuplah, buat keperluan makan sama bayar motor."
--
__ADS_1
Aku berusaha untuk tidak mengeluh perihal dirinya, ini adalah pilihanku untuk bersamanya. Meski sebelumnya kami tak direstui orangtuaku, sebelum menikah dengan A'Dika aku sempat hendak dijodohkan oleh seorang duda pemilik kolam lele. Saat itu aku sudah menjalani hubungan dengan A'Dika, hingga aku menolak dan berakhir dengan kekesalan bapak. Bapak pernah berkata bahwa A'Dika adalah pria dari keluarga tak jelas dan aku mungkin akan selalu sakit hati karenanya, tapi aku berusaha meyakinkan hingga akhirnya orangtuaku mengalah. Dari sana selalu ingin kubuktikan bahwa A'Dika adalah pria yang bertanggung jawab dan selalu menyayangiku, meski dengan segela keterbatasan keluarganya.
Hampir dua jam lebih dengan mengendarai motor, kami akhirnya sampai. Rasa haru yang tentang perjuangan ibu mertuaku akan suami yang menikahi adiknya hingga ia nisa kuat dan sesabar itu masih terngiang di kepalaku.
Rasa lelah terlihat di raut A'Dika. Setelah membersihkan diri segera ua menjatuhkan diri ke peraduan. Cepat sekali ia tertidur. Hingga aku baru menyadari bahwa di rumah tidak ada orang, tapi pintu tidak terkunci. Sepi. Tetangga yang biasanya nongkrong depan rumah pun tak ada.
"Sa ... udah pulang?" Terdengan suara dari arah luar menuju dapur.
"Ia, Mah." Rupanya ibuku, aku bergegas menghampiri. "Dari mana, Mah? Kok sepi yang lain ke mana?" sambungku.
"Adikmu Linda ikut Kakakmu ke rumah suaminya tadi. Vina main sama temennya. Ya kalau mamah tadi liat orang yang memenggal kepalanya sendiri. Hii ya Allah ngeri." Dengan bergidik Ibu mengambil minum.
"Lha, yang bener? Siapa di mana? Kok bisa? Astagfirullah."
Dengan membenarkan duduknya ibuku mulai bercerita.
"Pantas jalanan di sini sepi tadi. Orang-orang pada ke kampung itu kali ya."
"Huum."
"Ih, mamah belum jawab kenapa bisa memenggal kepalanya sendiri." Saat itu jiwa kepo dan penasaran kumeronta. Masih ada orang yang senekad itu.
"Itu, Bu Karsih temen mamah dulu yang anaknya temen esempe kamu. Dia memenggal kepalanya sendiri di dalam kamar, karena memergoki suaminya selingkuh dengan adiknya sendiri."
"Bu Denok?" tanyaku serius.
__ADS_1
"Iya, Gusti. Tega bener adik sendiri main ama suami kakak, katanya bukan sekali ini kepergok tapi berkali-kali. Sampai yang terakhir parah banget main begituan. Ya mungkin Bu Karaih sakit hati banget sampai kehilangan akal. Makanya nekad begitu. Ya Allah ngeri mamah, Sa. Orang orang pun pada kaget dan ada yang nangis juga."
"Lalu bagaimana dengan anaknya? Pasti Tanti shok dan terluka sekali. Sejak dulu dia sangat cengeng."
"Kagak tahu, ibu hanya denger ada yang teriak nangis histeris. Gak keliatan saking banyaknya orang. Eh suami kamu udah makan belum?" Ibu mengalihkan pembicaraan.
"Udah tadi di jalan, Mah."
"Ya udah Mamah mau cari adikmu si Vina. Dari tadi belum pulang takut ikut liat ke kampung sebelah." Aku mengangguk.
Sekilas terbersit diingatanku. Nasib Bu Karsih mirip dengan ibu mertuaku. Akan tetapi, Ibu mertuaku tidak separah itu melihat bagaimana suaminya berselingkuh dengan sang adik. Kenapa masih ada hati yang begitu sangat egois dan tega perihal hati, tidak memikirkan kondisi yang mereka khianati. Hingga mereka tak memikirkan risikonya, sampai membuat orang lain stres, bahkan membunuh dirinya sendiri. Masih banyak orang yang alemah iman. Meski begitu orang yang dikhianati menerima atau tidak tetap saja hatinya begitu terluka.
--
Senja telah memberikan takhtanya pada malam, suara jangkrik menguasai pekatnya hari ini. Aku tengah membereskan pakaian A'Dika yang besok hendak bekerja ke luar kota. Selama lima bulan aku akan ia tinggalkan, aku sudah terbiasa akan hal itu sebab sebelum menikah pun kami acapkali LDR. Saling percaya dan selalu berkomunikasi itu dua hal yang dibutuhkan saat kami berjauhan.
Tiba-tiba saja dia mencium kening dan memegang perutku.
"Semoga tahun ini kita memiliki baby," ucapnya dengan tersenyum.
"Aamiin. Hemmm ditinggal lama terus sih," timpalku merajuk.
"Demi masa depan dan kelangsungan hidup kita, dan ya siapa tahu saat Aa sudah sampai di sana ada kabar bahagia."
Pernikahan yang memasuki sayu tahun lebih membuat kami ingin segeraemiliki momongan, terlebih lagi ibu mertuaku sangat ingin segera memiliki cucu. Ini adalah jabwalku datang bulan, tapi kuharap ia tidak datang dan garis dua yang nanti bertengger.
__ADS_1
Semua pakaian sudah disiapkan ke dalam tas, dia mengajakmu untuk salat isya berjamaah. Masih terdengar obrolan ibu dan bapak perihal kasus Bu Karsih, tak ketinggalan adikku yang masih belum tidur ikut menimpali. Kejadian itu hampir sampai ke telinga penduduk bahkan masuk tv. Semoga, semoga ini yang terakhir kali. A'Dika kaget saat mendengar berita itu meski hanya sekilas, dia hanya berkata untuk aku selalu ingat akan asma-Nya dan tak lupa akan Allah. Tiap kejadian dan masalah ambil pelajarannya dan selalu berdoa agar hati, jiwa dan pikiran kita untuk selalu meminta kebaikan-Nya.
(Bersambung ...)