
Dika berlari dengan ketakutan, bapak dan Bi Asri pun terkejut melihatnya.
"Ada apa, Dika?" tanya Pak Didi terkejut.
"Tadi ada seorang ibu teriak-teriak bilang aku anaknya, Pak. Dia pun tahu namaku."
Pak Didi diam sejenak, menoleh ke arah Bi Asri.
"Dia di sini, Sri."
"Ya sudah kita temui saja, mungkin kita udah tahu yang sebenarnya. Bawa Dika juga," timpalnya.
Pak Didi dan Bi Asri pun membawa Dika untuk menemui perempuan tadi yang masih menangis duduk di pinggir jalan, sendirian. Hingga ia terkejut melihat mereka.
"Dika ... sini, Nak. Ini ibu." Dika hanya bersembunyi di balik punggung bapaknya.
"Kata bapak dan Bi Asri, ibuku sudah meninggal," ucapnya dengan nada lirih.
Kemudian perempuan itu menatap Pak Didi dan Bi Asri. Ia langsung berdiri dan memegang pundak Bi Asri dengan keras.
"Tega kamu, Asri. Kamu adik kandungku kenapa kamu lakukan ini pada kakakmu sendiri?!" Bi Asri hanya tertunduk. "Aku sudah tahu semuanya, kenapa kalian begitu gampangnya mengkhianati? Salah apa aku sama kalian, bilang aku sudah mati jelas-jelas aku masih hidup, hah. Kenapa tidak kalian bunuh saja aku!"
"Maafkan aku, Tika."
"Kupikir setelah aku bekerja di luar negeri kamu akan berubah, ternyata malah semakin gila! Kenapa harus adikku yang kau nikahi? Kenapa harus Asri? Kau juga kenapa mau dinikahi? Aku tidak mengerti dengan kalian. Mana uang yang selama ini aku kirimkan buat biaya sekolah Dika, dan memenuhi kebutuhannya. Mana? Kenapa Dika jadi seperti itu? Kalian habiskan untuk apa uangnya? Ya Allah, kenapa mereka begitu menyiksaku."
Seorang ibu yang bernama Tika dan tak lain adalah ibu kandung Dika itu terus menangis, orang di sekeliling hanya bisa melihat. Bi Asri tertunduk dan ikut menangis. Ada sedikit penyesalan di hatinya. Sedangkan Pak Didi hanya memalingkan wajah. Dika, menatap nanar ibunya.
"Ingin rasanya memenggal leherku sendiri!"
__ADS_1
"Istigfar, Teh. Aku minta maaf, saat itu aku butuh orang yang menafkahiku dan aku melihat Kang Didi begitu menyukai. Aku tidak mau terjadi fitnah. Sungguh maafkan aku.
"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Surat perceraian telah diproses, aku tidak bisa berbuat apa-apa kau adikku. Aku mengerti kau perlu biaya untuk anakmu yang masih kecil, tapi kenapa kau begitu egois. Aku juga memiliki anak yang harus dibiayai. Kang Didi, berikan Dika padaku," tukas Bu Tika dengan mengusap air mata.
"Nanti saja, jika suasana sudah lebih baik. Biarkan Dika mencerna semuanya dia masih shok," timpal Pak Didi.
"Kau sudah menghancurkan hatiku, setidaknya tolong obati dengan kehadiran Dika di sisiku."
Dika menangis. Dia tak percaya jika selama ini telah dibohongi tentang ibunya, Bapak yang menikahi bibinya. Pikiran begitu kacau hingga ia tak berkata apa-apa dan berlari meninggalkan mereka. Ibunya pun pergi dengan merelakan anak semata wayang tak bersamanya. Ia pergi dengan hati seakan dihunus pedang, ia berjalan namun seakan tak berpijak, hampa. Tega, adik yang ia sayangi sedari kecil menghancurkan hidupnya. Keterlaluan, suami yang ia berusaha percayai mengkhianayi dengan begitu rendahan.
Bu Tika berdoa sepanjang jalan, semoga anaknya bisa berada dipelukan. Berharap ia tak memiliki dendam dan hatinya seluas lautan memaafkan.
---
Keesokan harinya Pak Didi mengajak Dika untuk merantau ke Kalimantan. Pak Didi berharap agar anaknya sedikit melupakan kejadian kemarin.
"Tidak, kamu belajar mencari uang di sana temenin bapak. Kita terbak ayam di suatu pulau."
Wajahnya meredup, dalam hati kecil Dika betapa ia ingin melanjytkan sekolah. Dirinya telah lelah terus berpindah. Hingga ia berpikir, kenapa tidak mencoba ikut bersama ibunya kemarin.
Hanya Pak Didi dan Dika yang berangkat, untuk pertama kalinya Dika keluar kota dan bekerja. Di usianya yang masih terbilang sangat muda ia harus merelakan pendidikan dan mengalami pengalaman hidup yang menggetarkan hati. Namun, Dika menerima segala yang terjadi dalam hidupnya. Anak itu mengerti kondisi keluarganya, ia berusaha menutupi kesedihan dan berkerja untuk menyenangkan hatinya.
Hanya dalam kurun waktu satu tahun mereka berkerja dan kembali. Sesampainya di rumah, Pak Didi membelikan segala kebutuhan anaknya Bi Asri adik tiri Dika yang sekaligus keponakannya. Baju mewah uang diberikan kepada Bi Asri yang Dika enggan menyebutnya 'ibu'.
"Pak, uangku mana? Aku kan juga ikut bekerja."
"Bukannya uangmu sudah habis buat makan di sana," timpal Bi Asri Pak Didi hanya diam.
"Ini ada 20.000, jangan kamu habiskan sehari ya." Pak Didi memberinya uang yang saat itu terbilang lumayan banyak.
__ADS_1
Dika berlari, ke salah satu toko. Lalu ia memberi sebuah kopiah yang berukuran dewasa. Ia bergegas pergi dengan senyum semringah.
"Assalamualaikum ...," ucapnya dengan nada terengah.
"Waalaikum salam, eh Dika!" seru seorang paruhbaya mengenakan sampinh dan baju koko berwarna putih bersih. "Lama tidak bertemu Dika, bapak dengar ikut bapknya ke Kalimantan?"
"Iya, Pak Kyai"
"Bekerjakah? Pantas saja, meski disayangkan kamu tidak lanjut ngaji dan sekolah."
"Maaf, Pak Kyai. Tapi ini saya berikan kopiah sebagai tanda maaf karna tidak mengaji. Namun, Dika selalu usahakan untuk belajar kok." Dika tersenyum lebar.
Pak Kyai begitu terharu, terlebih beliau mengetahui kondisi keluarganya saat ini.
---
Untuk kesekian kalinya, Pak Didi mengajak Dika dan Bi Asri beserta anaknya pergi. Memutuskan untuk ngontrak di kota Cililin, lumayan agak jauh perjalanannya.
"Kuharap ini yang terakhir kalinya kita berpindah, Pak."
"Iya," jawab bapaknya singkat.
"Aku mau ke rumah Wawa dan Nenek dulu tapi ya, sudah lama tidak ke sana."
Sebagai anak Dika tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa mengikuti ke mana keluarganya pergi.
Di sisi lain, terdengar kabar bahwa ibunya, Tika. Akan menikah dengan seorang pria perjaka yang terpaut 4 tahun lebih muda darinya. Dika tak mengetahui hal tersebut. Kini, bapak dan ibunya telah memiliki keluarga masing-masing. Dika merasa terasing namun ia berusaha untuk berpikir kritis bahwa ini sudah jalan hidupnya.
....
__ADS_1