Idola Idaman Seluruh Dunia

Idola Idaman Seluruh Dunia
Langkah Awal Dengan Keberanian


__ADS_3

Setelah beberapa saat, dadaku mulai sedikit lega dan air yang keluar dari mataku sudah berhenti. Akupun mendudukkan badanku dan bersandar ke tubuh mama.


“Mama minta maaf ya sayang, sebenarnya mama tidak mau kita pindah ke tempat yang tidak kita kenali. Lagipula mama juga tahu kamu sudah sangat akrab dengan teman-temanmu.” Ucap mama kepadaku.


“L-lalu, k-kenapa mama menyetujuinya?” ujarku sambil masih tersedu-sedu.


Mendengar perkataanku barusan, mama tiba-tiba memelukku dengan lembut seraya menjawab, “Soal itu, mama lebih tahu diri Moa-chan daripada papa. Mama percaya, bahwa Moa-chan pasti akan bahagia dimanapun Moa-chan berada. Karena mama juga tahu, bahwa Moa-chan adalah anak yang sangat baik dan ceria yang mama miliki.” Ucap mama sambil mencubit hidungku.


Entah apa yang terjadi, setelah mendengar perkataan mama, secara spontan semangatku serasa terisi penuh kembali, rasa sakit didadaku yang tadi kurasakan sudah tidak terasa lagi.


“Maaf mama, Moa tidak jujur kepada mama, sebenarnya Moa tidak ingin kita pindah, tapi mau bagaimana lagi, papa ‘kan dipromosikan oleh bosnya, jadi mau tidak mau Moa harus nurut kepada papa.” Ucapku kepada mama.


“Tidak apa-apa koq, mama juga mengerti, justru mama yang ingin minta maaf atas keputusan papa dan mama.” Jawab mama mendengar perkataanku barusan.


Setelah beberapa lama, mama tiba-tiba menjauhkanku dari badannya.


“Jadi, bagaimana kalau sekarang kita membuat makan siang bersama-sama, ok?” ucap mama seraya tersenyum lembut kearahku.


Aku pun menganggukkan kepala sambil tersenyum ceria kearah mama.



Sesampainya didapur, aku melihat papa sedang duduk sendirian di meja makan ditemani segelas air putih yang sedang dipegangnya.


Saat papa melihat kearah kami, papa kelihatan kaget. Sontak, aku dan mama pun menjadi kaget atas perilaku papa barusan.


“Ah, mama, Moa-chan, papa kira kalian sedang pergi keluar.” Ucap papa seperti sedang kebingungan.


“Tidak juga, mama dan Moa-chan hanya sedikit mengobrol tadi dikamar, iya ‘kan, Moa-chan?” ucap mama sambil tersenyum kearahku seraya mengedipkan sebelah matanya yang kemudian kami duduk di depan papa.


“Ah, begitu ya.” Ucap papa kembali duduk rileks di kursi meja makan.


“Ngomong-ngomong, papa ingin membicarakan sesuatu dengan kalian, apa boleh?”


Sepertinya papa sedang dalam mode serius sekarang, ujarku dalam hati.


“Membicarakan soal apa, pa?” jawab mama yang terlihat penasaran dengan ucapan papa barusan.


Tiba-tiba papa bangun dari kursi dan membungkuk kearah kami. Aku kebingungan dengan perilaku papa, sebenarnya ada apa ini?


“Papa minta maaf.” Ucap papa sambil tetap membungkuk.


Aku tambah kebingungan dengan ucapan papa barusan.


“Papa sudah memaksakan kehendak papa kepada kalian, jadi papa minta maaf.” Lanjut papa.


“Sudahlah papa, papa tidak perlu membungkuk.” Ucap mama merasa canggung atas apa yang papa lakukan.


Lalu papa mengangkat kembali badannya seraya mengambil kembali posisi duduk di kursi.

__ADS_1


“Sejujurnya, papa juga merasa mungkin kalian akan membenci papa atas keputusan papa, tiba-tiba papa pulang ke rumah lalu mengatakan bahwa kita akan pindah rumah. Jadi, papa berpikir mungkin papa harus minta maaf pada kalian setelah tiba di rumah yang baru nanti, karna itulah, papa minta maaf.” Jelas papa atas apa yang dilakukannya tadi.


Setelah mendengar penjelasan papa, mama melirik kearahku seraya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Ah, mungkin aku mengerti apa yang mama maksud.


“Emm, papa, soal itu, Moa juga mau minta maaf.” Ucapku.


“Eh, kenapa?” tanya papa yang kaget dengan ucapanku.


“Moa juga sudah bertindak egois, dan sudah tidak jujur kepada mama dan papa. Sebenarnya Moa merasa gelisah saat mendengar bahwa kita akan pindah rumah. Moa berpikir bagaimana dengan teman-teman Moa yang ada disana. Tapi, sekarang Moa sudah tidak apa-apa koq, lagipula papa melakukan hal ini demi mama dan Moa ‘kan? Jadi Moa tidak pantas protes kepada papa.” Jawabku kepada papa menjelaskan.


“Ehh, ternyata anak mama sudah besar.” Ucap mama tersenyum sambil memelukku.


“Jadi begitulah, papa, papa tidak perlu menyalahkan diri papa lagi. Papa sudah mengerti sekarang ‘kan situasinya? Jadi papa focus saja ke pekerjaan papa, tidak usah cemaskan kami. Iya ‘kan, Moa-chan?” ucap mama yang masih memelukku.


“Terima kasih, papa bersyukur kalian menjadi bagian dari keluarga papa. Papa sangat senang.” Ucap papa sambil meneteskan air mata.


“Ara, apa papa menangis?” ujar mama yang kaget atas perilaku papa.


“T-tidak, tidak, ini hanya keringat. Ya, hanya keringat.” Ucap papa seraya mengelap air matanya.


“Ara, tidak kuduga, ternyata papa orang yang cengeng.” Ujar mama menjahili papa.


“Papa bilang papa tidak menangis!” teriak papa kearah kami.


Syukurlah, kecanggungan keluarga kami sudah menghilang, aku harap keluarga kami tetap seperti ini selamanya. Harapku dalam hati.



Keesokan harinya, aku bangun pagi seperti biasa. Saat aku sampai di ruang keluarga, aku lihat mama sedang duduk sendiri sambil menonton televisi.


“Ma, papa kemana?” Tanyaku kepada mama yang sedikit membuatnya kaget.


“Oh, Moa-chan ternyata. Papa sudah berangkat kerja dari tadi. Apa Moa-chan mau sarapan dulu? Sebentar yah, mama siapkan dulu.”


“Tidak ma, nanti saja. Moa masih belum lapar koq.” Jawabku karena melihat mama yang sedang santai.


“Oh begitu ya, kalau begitu bilang saja kalau mau sarapan, ok?” ucap mama kepadaku seraya mengusap kepalaku.


Aku lihat kearah televisi yang saat ini sedang menyiarkan keadaan cuaca.


Penyiar acara tersebut mengatakan bahwa hari ini akan turun hujan rintik.


Apakah aku harus menunggu papa pulang di terminal sambil membawa payung? Pikirku sambil tersenyum seorang diri.


“Ada apa Moa-chan?” Tanya mama yang melihatku sedang asik senyum-senyum sendiri.


“Ah, tidak ada apa-apa koq ma. Moa hanya berfikir, mungkin penyiarnya berbohong kepada kita. Hehehe.” Jawabku sambil tertawa kecil kepada mama.

__ADS_1


“Ahahaha, kamu itu ada-ada saja. Kalau penyiarnya berbohong kepada kita, mungkin banyak orang yang akan marah karena dia sudah berbohong. Nanti dihukum loh. Hahaha.” Ujar mama membalas candaanku.


“Iya juga ya ma.” Jawabku meng-iya-kan perkataan mama barusan sambil tersenyum.


Setelah beberapa saat, mama tiba-tiba menepukkan tangannya yang membuatku sedikit terkejut. Sambil menengok kearahku, mama lalu berkata, “oh iya Moa-chan, mama ingin membicarakan sesuatu.”


“Soal apa ma?” Tanyaku penasaran dengan perkataan mama barusan.


“Apa kau sudah siap untuk bersekolah?” Tanya mama sambil memasang muka serius.


Mendengar hal itu, aku pun langsung terdiam termenung. Aku berpikir, mungkin memang sudah waktunya aku bersekolah lagi, karena kalau saja tahun ini aku tidak berangkat sekolah, aku akan tertinggal satu tahun oleh teman-temanku yang dulu. Mungkin aku akan ditertawakan oleh mereka karena tinggal kelas.


“Ah maaf, mungkin Moa-chan masih belum siap. Tidak apa-apa koq, mama juga menger…”


“Tidak ma! Moa sudah siap koq. Moa tidak ingin sampai tinggal kelas. Nanti Moa bisa ditertawakan sama teman-teman Moa yang dulu.” Jawabku memotong perkataan mama yang belum selelai.


Mendengar perkataanku barusan, mama hanya melihat kearahku sambil tercengang. Aku berkata dalam hati, ahh, mungkin saja mama berpikir aku ini anak yang aneh.


Lalu tiba-tiba mama mengusap kepalaku sambil tersenyum lembut seraya berkata, “Ternyata anak mama sudah besar.”


Mendengar hal tersebut, hatiku terasa hangat dan nyaman.


“Baiklah, kalau begitu, kita berangkat saja besok ketempat Moa-chan sekolah, ok?” ucap mama kepadaku.


Yosh, mulai sekarang aku harus lebih giat lagi belajar, agar aku tidak menyia-nyiakan perjuangan mama dan papa. ucapku dalam hati.


“Papa pulang.”


Mendengar teriakan barusan, secara spontan membuat aku dan mama sedikit terkejut.


“Selamat datang, pa.” ucap mama seraya menghampiri papa yang sudah ada didepan pintu ruang keluarga.


“Kenapa pulang cepat pa? apa ada yang tertinggal?” Tanya mama yang bingung karena melihat papa sudah pulang.


“Ah tidak, papa disuruh oleh bos papa untuk libur dulu saja, mungkin bos papa berpikir papa masih harus istirahat karna baru saja pindah.” Jawab papa sambil memberikan tas dan jas kerja papa kepada mama.


“Ah, Moa-chan sudah bangun. Selamat pagi Moa-chan.” Ucap papa yang melihatku sedang memperhatikannya.


“Selamat pagi papa.”


Papa pun kemudian duduk disampingku seraya membuka kaus kaki yang masih dipakainya.


“Oh iya, apa Moa-chan sudah sarapan?”


“mmh, belum.” Jawabku sambil melirik kearah papa.


“Kalau begitu kebetulan, papa juga belum sarapan. Bagaimana kalau kita sarapan bersama?” ujar papa sambil mengusap kepalaku.


Aku mengangguk menyetujui ajakan papa tersebut.

__ADS_1


__ADS_2