
Kalau tidak salah mungkin sudah tengah hari, kami bertiga duduk di balkon depan rumah kami. Mataharinya sangat terik sekali kala itu, dan yang menyejukkan suasananya adalah potongan semangka yang baru saja dikeluarkan oleh mama dari dalam kulkas dan juga jus lemon yang sering dibuatnya.
Papa tiba-tiba menepukkan tangannya, yang membuat mama dan aku sedikit terkejut. Serasa déjà vu, pikirku dalam hati.
Lalu papa melihat kearah mama dengan tatapan serius. Setelah menerima tatapan dari papa, mama mengangguk dan tersenyum seperti sudah tau apa yang akan papa lakukan. Melihat tingkah mereka, aku hanya bisa memperhatikan sambil sedikit kebingungan.
“Moa-chan, apa kamu sudah bersiap untuk pergi ke sekolah?” Tanya papa sambil melirik kearahku dengan tatapan yang serius.
Ah, ternyata hal itu. Aku kira ada apa. Pikirku sambil tersenyum.
Kemudian aku pun menepukkan tanganku kedada seraya berkata, “Tentu saja. Soalnya, bila Moa terus ada dirumah, bisa-bisa Moa kena jamuran.” Sambil tersenyum lebar.
Mendengar jawabanku barusan, kami bertigapun langsung tertawa terbahak-bahak.
“Syukurlah, ternyata kekhawatiran papa benar-benar tidak beralasan. Kalau begitu, semangat, ok?!” ucap papa kepadaku sambil mengelus kepalaku.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lebar atas ucapannya itu.
Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara pak pos yang berteriak kearah kami.
“Permisi!” Sahut petugas pos itu.
“Iya, tunggu sebentar.” Jawab papa sambil berlari kearah tukang pos.
Ahh, baru saja seminggu kami tinggal dirumah ini, sudah ada surat yang dikirim kemari. Mungkin itu untuk papa dari bosnya. Pikirku dalam hati.
“Terima kasih banyak.” Ucap papa yang terdengar dari kejauhan.
“Moa-chan, Moa-chan. Akhirnya, tiba juga.” Ucap papa kegirangan sambil berlari kearahku lalu duduk disampingku kembali.
“Ada apa, pa?” Tanyaku yang kebingungan melihat tingkah papa tersebut.
“Sebelumnya, papa sudah bertanya kepada mama tentang keputusan Moa-chan untuk kembali sekolah, lalu papa langsung mendaftar ke sekolah yang akan kamu tuju nanti. Jadi, papa tadi bertanya hanya untuk memastikan lagi, apa Moa-chan memang sudah siap atau belum. Tapi syukurlah, itu memang keinginan Moa-chan langsung.” Jelas papa kepadaku yang terlihat kebingungan.
“Dan, Ta~Da~. Ini adalah seragam yang akan kamu pakai disekolah nanti.” Ujar papa sambil menunjukan paket yang belum terbuka sama sekali.
__ADS_1
“Kalau begitu, coba saja sekarang Moa-chan. Mungkin akan terlihat sangat cocok kalau dipakai Moa-chan.” Ujar mama sambil tersenyum.
“B-baiklah.” Jawabku yang masih kebingungan.
…
Setelah makan malam, aku pun membuka paket yang diberikan papa tadi dikamar.
Apa aku memang sudah siap untuk berangkat ke sekolah lagi? pikirku dalam hati karena masih bimbang.
Apa yang kupikirkan? Bukankah aku sudah membulatkan tekadku? Lalu, kenapa sekarang aku bimbang lagi? Dasar bodoh. Ujarku meyakinkan kembali diriku.
Saat paketnya terbuka, aku melihat didalamnya ada seragam olahraga dan seragam biasa masing-masing 2 pasang. Kalau dilihat-lihat kembali, untuk seragam olahraga mungkin masih sama seperti seragam dari sekolah yang sebelumnya, jadi mungkin aku tidak perlu mencobanya.
Yang lebih membuatku penasaran adalah seragam sehari-harinya.
Ketika aku mencobanya, aku perhatikan seragamnya berupa jas berwarna hitam, dengan kemeja warna putih dengan tambahan kaos yang kerahnya bermotif garis berwarna hitam dan merah. Untuk dasinya yaitu dasi pita. Mungkin karena aku masih tingkat dasar. Ujarku dalam hati.
Sedangkan untuk bawahannya, rok pendek dengan motif garis-garis perpaduan antara warna merah dengan putih.
Kemudian aku pun berjalan kearah ruang keluarga kami sambil menahan rasa gugup. Ah, mungkin saja seragam ini sangat tidak cocok untukku. Pikirku karena kurang percaya diri dengan penampilanku ini.
Ketika aku tiba di ruang keluarga, aku melihat papa dan mama sedang asik menonton tv berdua. Ahh, mungkin besok saja aku perlihatkan lagi kepada mereka. Pikirku dalam hati seraya berniat kembali kekamarku.
Karena saking gugupnya, aku tidak menyadari didepanku ada sapu saat aku membalikkan badan. Aku pun menjatuhkan sapu itu dan membuat papa dan mama melihat kearahku.
“Oh, ternyata Moa-ch-“ ucap papa terpotong saat melihatku. Aku lihat mama hanya diam saja sambil memperhatikanku.
Tiba-tiba mama tersenyum kearahku seraya berkata, “Ara, ternyata Moa-chan sangat imut dengan seragam itu. Benar ‘kan, pa?”
“M-m-m-mama, apakah papa sedang bermimpi?” ucap papa terbata-bata yang masih melihatku.
“Memangnya kenapa, papa?” Tanya mama kepada papa.
“Mungkin papa sekarang sedang ada dikayangan, karena papa melihat ada seorang bidadari dihadapan papa.” timbal papa yang tetap melihat kearahku.
__ADS_1
Mendengar kedua orangtuaku berkata seperti itu, membuat mukaku memerah dan menambah rasa gugupku.
“Ara, papa bisa saja.” Balas mama sambil menutup senyumannya dengan tangannya.
“Kesini, Moa-chan.” Sahut papa memanggilku untuk bergabung dengan mereka duduk di sofa ruang tengah.
Akupun menghampiri mereka berdua dengan sedikit perasaan malu karena perkataan mereka tadi.
Saat aku sampai dihadapan mereka, mama langsung menghampiriku seraya merapikan sedikit dasi kupu-kupu yang kupakai untuk seragam ini.
Setelah selesai, kemudian mama berkata, “Moa-chan, dengar perkataan mama yah. Mungkin Moa-chan masih belum bisa bergaul dengan banyak teman disekolah nanti, tapi Moa-chan harus tetap semangat, karena mama tau Moa-chan adalah anak yang sangat hebat. Ok?” ucap mama menyemangatiku sambil mengusap kepalaku.
Papapun menghampiri kami yang kemudian berjongkok didepanku. “Itu benar, Moa-chan. Papa dan mama sangat yakin kau akan mendapat banyak teman yang sangat menyenangkan untuk bisa bermain denganmu. Maka dari itu, selagi Moa-chan berusaha keras disekolah, papa dan mama akan terus menyemangatimu, Ok?” Ujar papa yang kemudian mengikuti apa yang mama lakukan, yakni mengusap kepalaku.
Mendengar perkataan mereka, aku merasa bahwa Tuhan telah memberkahiku dengan dilahirkannya aku di keluarga ini.
Hatiku merasa hangat dan nyaman, dan tiba-tiba saja air mataku keluar lagi. Air mataku ini sangat berbeda dengan air mataku yang sebelumnya, karena saat air mata ini keluar aku tidak merasakan sesak didadaku.
Mama dan papa sedikit terkejut dengan apa yang terjadi, kemudian mama berkata, “ara, ada apa Moa-chan? Apa kau mengingat teman-temanmu yang dulu lagi?”
Papa yang sedang gugup dan tidak tau harus berbuat apa kemudian berkata, “ma-maafin papa, Moa-chan, a-apa papa yang sudah mebuatmu menangis? Papa memang seorang papa yang jahat.”
Mendengar perkataan mereka, akupun hanya tersenyum kearah mereka seraya berkata, “Tidak, pa, ma, Moa hanya berpikir Moa sangat bersyukur terlahir dengan papa dan mama sebagai orang tua Moa. Ternyata Moa sangat Diberkati oleh Tuhan.” Jawabku kepada papa dan mama yang masih kebingungan.
Mendengar perkataanku barusan, mama tiba-tiba menutupi mukanya dengan kedua tangannya dan juga papa yang menutupi matanya dengan tangannya, dan selang beberapa detik, mereka langsung memelukku dengan sedikit erat.
Aku yang tampak kebingungan, mendengar suara tersedu-sedu yang berasal dari mereka. Apa papa dan mama sedang menangis? Apa itu karena ulahku? Tanyaku dalam hati.
Lalu papa dan mama melepaskan pelukan mereka sambil berkata, “Syukurlah, Moa-chan yang menjadi anak papa dan mama. Mungkin benar perkataan Moa-chan, mama dan papa juga diberkati oleh Tuhan karena telah diberi Moa-chan sebagai anak papa dan mama.”
Setelah itu kamipun terdiam mematung tak melakukan apa-apa untuk beberapa saat. Tiba-tiba papa menghancurkan keheningan itu. “Jadi, bagaimana kalau sekarang kita tidur bersama?”
Mendengar perkataan papa, mama dan aku saling bertatapan kemudian menganggukkan kepala kami sambil melihata kearah papa.
Setelah itu kami bertigapun tidur di kamar papa dan mama.
__ADS_1