
Keesokan harinya, aku dibangunkan oleh mama karena hari ini kami akan mulai datang ke sekolah tempat aku akan belajar. Akupun bergegas bangun dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.
Setelah selesai mandi, aku pergi keruang makan yang dimana papa dan mama sudah menunggu. Aku lihat mama sedang menyiapkan sarapannya sedangkan papa seperti biasa sedang membaca koran yang sudah tiba diantarkan oleh kurir pengantar koran.
“Ahh Moa-chan, duduklah. Sebentar lagi mama akan selesai.” Ucap mama setelah berbalik dari kompor dan melihatku yang sedang memperhatikan merka.
Kemudian papa melipat dan merapikan kembali koran yang sedang dibacanya, kemudian berkata, “Jadi Moa-chan mulai sekolahnya hari ini yahh. Baiklah, yang semangat, Ok.”
Akupun tersenyum kearah papa sambil menganggukkan kepala.
Setelah itu kamipun menyantap sarapan yang telah mama siapkan.
….
Akupun berangkat bersama mama ketempat tujuan kami, yakni sekolah Sakura Gakuin. Sebenarnya sekolah Sakura Gakuin adalah sekolah SMP yang berada di daerah Tokyo, sedangkan SD Sakura Gakuin adalah cabangnya.
Saat masih berada di jalan, mama mengajakku mengobrol agar aku tidak bosan. Sambil memegang tanganku mamapun berkata, “Moa-chan, apa kau lelah?”
“Tidak, aku masih kuat.” Timbalku sambil melirik tersenyum kearah mama.
“Mungkin sekitar 5 menit lagi kita akan sampai disana, jadi mama harap kamu bisa menahannya ya.” Ujar mama yang mungkin mengkhawatirkanku.
Mendengar perkataan mama aku hanya tersenyum dan mengangguk sambil melirik kearah mama.
Selang beberapa waktu kemudian, kamipun sampai ditujuan kami. aku berpikir apakah benar ini sekolah untuk anak sd? Bagaimanapun juga ini terlalu besar untuk sebuah sekolah SD. Gerbangnya kuperhatikan cukup besar mungkin tingginya dua kali ukuran tubuhku, sedangkan lebarnya cukup muat ukuran tiga mobil. Aku lihat disana ada seorang satpam yang sedang duduk berjaga di pos tepat sebelah gerbangnya. Saat satpam itu melirik kami dan mungkin memperhatikanku, diapun tersenyum sambil mempersilahkan kami untuk melewati gerbang.
Setelah melewati gerbang, kuputar mataku memperhatikan sekeliling depan bangunan sekolah. Mungkin gerbangnya yang besar masih bisa kutolelir, tapi kuperhatikan lagi bukankah sekolah ini memang terlalu besar. Lebar sekolah ini hampir 3 kali dari ukuran rumah kami yang juga mempunyai 3 lantai.
__ADS_1
Melihatku kebingungan, mama terheran dan lalu bertanya kepadaku, “Ada apa Moa-chan? Apa kau ragu?”
Akupun langsung melirik kearah mama dengan raut wajah yang masih kebingungan kemudian berkata,”Ti-tidak ma, hanya saja aku kebingungan, apa benar ini sekolah untuk SD? Bukankah ini terlalu besar?” ucapku melontarkan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalaku.
Mendengar ucapanku, mama menutupi mulutnya dan tertawa kecil, kemudian mamapun berjongkok dan berkata, “Moa-chan, apa kau tadi tidak melihat tulisan yang ada didepan gerbang sekolah?”
“Memangnya tulisannya bagaimana, ma?” ucapku yang menjadi tambah kebingungan.
“Disana tertulis ‘SD & SMP’ SAKURA GAKUIN’. Sekarang kau sudah tau kenapa sekolahnya tampak besar bukan?” jelas mama kepadaku sambil menatap dengan tatapan lembut.
Mendengar hal itu, akupun mengerti alasan kenapa sekolah ini sangat besar lalu mengalihkan pandangaku lagi kearah depan gedung sekolah. Setelah itu aku dan mamapun melanjutkan langkah kami menuju kantor tempat para guru berada.
Saat kami berada di lorong depan kantor, ada seorang paman yang sedang membereskan kertas yang berserakan diatas lantai. Tanpa pikir panjang aku menghampiri paman itu untuk membantunya.
“Apa paman tidak apa-apa?” tanyaku sambil membereskan kertas-kertas itu.
Setelah selesai, paman itu kemudian melirik kearahku seraya mengatakan, “Terima kasih nona muda. Oh iya, apa mungkin nona muda ini murid pindahan?” tanyanya sambil menebak-nebak siapa diriku.
“Ahh, pak guru Mori, lama tidak berjumpa.” Ujar mama sambil menghampiri kami berdua.
“Ternyata nyonya Kikuchi, berarti nona ini adalah putri anda, bukan?” timbal paman ini sembari mengalihkan pandangannya kearah mama.
“Iya benar, kenalkan ini putri saya, namanya Kikuchi Moa.” Ujar mama memperkenalku kepada paman yang bernama pak guru Mori ini.
“Salam kenal, nama saya Kikuchi Moa.” Ucapku memperkenalkan diri sambil sedikit membungkukkan badan.
“Ya, salam kenal Moa-chan, nama paman Mori Hayashi, Moa-chan bisa memanggil paman dengan sebutan pak guru Mori, ok?” jelas pak guru Mori yang juga langsung memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita lanjutkan mengobrolnya saja di kantor, mengobrol disini rasanya sedikit tidak mengenakkan.” Ucap Pak Mori sambil mempersilahkan kami untuk memsuki kantor yang jaraknya sudah dekat dari tempat kami mengobrol.
“Baiklah. Ayo, Moa-chan.” Ajak mama kepadaku. Aku hanya menganggukkan kepala untuk membalas ajakan mama.
Saat mama dan pak Mori memasuki pintu ruangan kantor, aku mendengar dari belakang ada suara ketukan sepatu seperti orang yang sedang lari terburu-buru. Sebelum aku sempat membalikkan badan kearah suara itu, tiba-tiba… BAAMM!! Orang itu kemudian menabrakku yang membuatku kehilangan keseimbangan dan membuat kami berdua terjatuh. Aww, sakit sekali. Ujarku dalam hati.
Setelah itu, aku mencoba untuk melihat siapa yang sudah menabrakku yang masih berada diposisi tetap terduduk. Saat aku melihatnya, dia mungkin anak yang seumuran dengaku, kulitnya putih, pipinya sedikit tembem, dan ujung rambut yang sedikit ikal.
“Maafkan aku.” Ucap anak itu tiba-tiba yang membuatku sedikit terkaget.
Mendengar suara kami, mama dan pak Mori kembali keluar untuk melihat apa yang terjadi.
“Apa kau tidak apa-apa, Moa-chan?” Tanya mama sambil menghampiriku dan mecoba membangunkanku. Sedang pak Mori mendekati anak yang sudah menabrakku secara tidak sengaja itu sambil mengatakan sesuatu yang tidak terlalu terdengar olehku.
“Maaf Moa-chan, Yui-chan tidak sengaja menabrakmu.” Jelas pak Mori seraya menundukkan kepalanya. Aku menyimpulkan dari perkataan pak Mori tersebut, anak itu bernama Yui.
“Maaf, aku sudah tidak sengaja menabrakmu.” Ucap anak bernama Yui itu sambil menundukkan badannya tepat kearahku.
“T-tidak apa-apa koq, lagipula tidak ada luka yang serius. Jadi aku harap kamu bisa berhenti membungkuk.” Jawabku sambil merasa sedikit malu dengan yang dilakukan Yui.
Kemudian Yui membalikkan badan kearah pak Mori dan menyerahkan selembar kertas kepadanya sambil berkata, “oh iya pak, ini lembar tugas yang sudah bapak berikan kepadaku.”
“Baiklah, terima kasih Yui-chan.” Timbal pak Mori seraya mengambil kertas yang diacungkan oleh Yui.
“Kalau begitu, saya langsung menuju kelas yahh, pak Mori. Permisi.” Ucap anak itu sambil berlari meninggalkan tempat kami berada.
"Yui-chan, jangan berlarian dilorong sekolah, itu berbahaya!" teriak pak Mori kepada Yui yang sosoknya sudah hilang dari pandangan kami.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, aku, pak Mori dan mama langsung memasuki kantor untuk menyelesaikan dan melengkapi administrasi yang masih belum terpenuhi.