If You....

If You....
Episode 3


__ADS_3

Cerita ini hanyalah sebuah karangan yang sama sekali tidak berkaitan dengan


Idol itu sendiri maupun kejadian kejadian yang terkait di dalam cerita ini. 


Karangan ini juga tidak bermaksud untuk menyinggung maupun menghina pihak manapun.


.**...**


If You....


-3-


Ini adalah aku!


....


"Ck! Apa kau harus menulis atau mengetik untuk bicara?!"


 


Baekhyun tersentak.


 


"Gunakanlah mulutmu dan bicaralah yang benar!! Apa kau tidak bisa bicara?!"


 


Baekhyun tersenyum getir, kemudian kembali mengetik dan menunjukkan nya kepada Soul.


 


[Iya, aku tidak bisa.]


 


Setelah membaca itu, pandangan mata Soul langsung jatuh kebawah. Sepertinya ia bersalah. Tapi juga ia merasa aneh, kenapa ia peduli dengan pria di hadapan nya ini? Padahal sebelumnya rasa empati nya seperti sudah mati dari dalam dirinya.


 


 


....


 


 


Istirahat sudah dimulai. Seperti biasa, Chanyeol akan selalu datang ke kelas Soul untuk menemui dan mengajaknya ke kantin.


 


"Soul! Apa kau me- eoh? Kak?" Chanyeol terlihat sedikit terkejut ketika melihat Suho yang duduk di sebelah Soul.


 


"Chanyeol-ssi ! Aku juga ada di sini!" seru Irene, yang berdiri di samping Suho.


 


"Oh iya, kau juga! Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Chanyeol dengan langkah kaki yang terus mendekat ke mereka.


 


"Bicarakan saja di kantin! Yeol, ayo ke kantin!" Soul pun langsung pergi bersama dengan Chanyeol meninggalkan Suho dan Irene.


 


"Kalau begitu ayo kita ikut mereka!" ajak Suho.


 


"Tentu, aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi seperti tadi pagi!" desis Irene.


 


 


....


 


 


Chanyeol menghentikan langkahnya, membuat Soul ikut berhenti dan bingung.


 


"Kenapa?"


 


"Kau tahu dimana Baekhyun? Bukankah tadi saat jam pelajaran dia bersamamu? Jika kau sudah ke kelas kenapa dia juga tidak ke kelas lagi tadi?"


 


"Ck, kalian berdua itu seperti kekasih yang saling mencintai," cibir Soul.


 


"Hey, aku itu masih normal. Aku menyukai perempuan, sangat menyukainya." Chanyeol terkekeh.


 


"Ya ya ya, kau kan perayu, jadi menyukai semua perempuan cantik," gumam Soul, yang dapat didengar Chanyeol.


 


"Tidak, aku hanya pernah merayumu saja. Karena kau perempuan yang kusuka."


 


Soul menautkan alisnya, dan menelisik setiap inci wajah Chanyeol. "Sudahlah! Baekhyun mu ada di unit kesehatan."


 


"Eoh? Apa dia sakit? Hey! Soul! Kau tidak mau menemaniku?!" Chanyeol berseru kepada Soul yang sudah melangkah jauh.


 


"Pergilah periksa Baekhyun, jika sudah selesai baru menyusul," ujar Suho.


 


"Baiklah. Kalau begitu jaga anak kecil itu ya." Chanyeol pun pergi ke ruang unit kesehatan.


 


"Apa aku tidak terlihat?!" jengkel Irene.

__ADS_1


 


Suho terkekeh, lalu merangkul Irene. "Tidak tuh! Sudahlah, lebih baik kita segera menyusulnya! Aku takut dia hilang diantara banyaknya manusia."


 


"Hey! Dia itu lebih kuat dari dugaan mu!" seru Irene.


 


Suho hanya mengangguk-agguk, menyetujui ucapan Irene.


 


 


....


 


 


Soul sudah berdiri, mengantri untuk mendapatkan makan siangnya. Menu makanan hari ini sama seperti kemarin, tapi tak apa, Soul tetap menerimanya, asal rasanya tetap lezat.


 


"Bu, tolong lebihkan wortel nya," ucapnya.


 


Setelah selesai mengambil makan siangnya, Soul berjalan ke ujung, untuk mendapatkan meja kosong disana. Ia tidak suka jika terlalu padat.


 


Gadis itu pun duduk dan menyantap makanan nya dengan tenang, sambil mendengarkan musik lewat headshet nya.


 


Tiba-tiba, seseorang datang dengan makan siangnya dan duduk di  hadapan Soul.


 


"Soul?"


 


Soul mendongak, menatap orang yang memanggilnya itu, lantas langsung tersenyum tipis ketika mengetahui siapa yang memanggilnya.


 


"Kau sendiri saja?" tanya orang itu lagi.


 


"Jangan bicara padaku, aku masih marah padamu!" Soul kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


 


"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin di sidang olehmu, hehe..." ucap pria itu dengan wajah polosnya.


 


"Jadi maksudmu, hanya karena kau pergi ke China tanpa memberitahuku, kau akan aku sidang? Tidak," Soul pun selesai menyantap makanan nya.


 


 


"Karena aku takut kau akan kembali ke kampung halamanmu tanpa mengucapkan salam perpisahan kepadaku."


 


"Tidak akan, kau harus berpikir positif, Soul."


 


Soul mengangguk paham. Jauh di dalam hatinya ia merasakan hal tidak mengenakkan yang akan terjadi, tapi entahlah, ia harus berpikir positif.


 


"Apa lehermu terluka?" Soul mengangguk. "Luka baru?" Soul mengangguk lagi.


 


"Lay? Kau sudah kembali? Kenapa tidak mengabariku?" Suho datang, dan langsung mencecar Lay dengan pertanyaan nya.


 


"Suho! Duduklah dulu!" titah Irene yang langsung duduk di kursi sebelah Soul.


 


Suho pun ikut duduk di sebelah Lay, dan berhadapan dengan Irene. Ia masih menunggu jawaban dari Lay.


 


"Apa kabar?" tanya Lay, yang sepertinya tidak akan menjawab pertanyaan Suho.


 


"Kami baik," jawab Irene mewakili semua.


 


"Tidak, ada satu orang yang sepertinya tidak baik."


 


Lay langsung menatap Suho dengan raut wajah yang bingung.


 


"Soul kita bukan Soul yang sebenarnya."


 


"Hm? Tidak kok. Dia itu Soul, lihatlah wajahnya!" ucap Lay, menolak perkataan Suho.


 


"Lay, kau terlalu lamban untuk menyadari perubahan Soul!" jengkel Irene.


 


"Tidak, Soul yang dahululah yang bukan Soul. Itu hanya sebuah topeng yang sekarang sudah hancur. Kalian harus bisa menerimanya, bahwa Soul yang dahulu kalian kenal hanyalah ilusi semata untuk menutupi keburukan dirinya. Jadi siapa aku? Kau sudah melihat jawaban nya ketua. Ini adalah aku, Soul yang sebenarnya."


 


Mereka bertiga terdiam. Jika saja Soul sudah bicara sepanjang itu, artinya ia serius dengan kata-katanya.

__ADS_1


 


Soul segera melangkahkan kakinya untuk pergi, namun Lay langsung berdiri dan menghalangi pandangan Soul dengan tangan kanan nya.


 


"Asshhh!" Lay meringis.


 


Soul terlihat bingung, tapi ia langsung mengetahui apa yang terjadi dengan Lay setelah melihat darah yang keluar dari telapak tangan kanan pria itu.


 


"Kau bodoh Kak! Biarkan saja belati itu menancap di wajahku!! Kenapa kau harus menerima serangan itu?!!"


 


Lay tersenyum, meski terlihat kesakitan ia tidak ingin terlihat lemah.


 


"Hanya penampilanmu saja yang berubah, tapi hatimu tidak." ucapnya dengan senyuman manis.


 


Soul tersentak, sampai akhirnya seorang wanita dengan kedua teman nya datang membawa kehebohan sehingga membuat Soul tersadar kembali.


 


"Lay! Kau tidak apa-apa kan?! Ini tidak terlalu dalam kan?!" panik nya.


 


Lalu, wanita itu menatap garang Soul. Yang ditatap hanya diam tak menghiraukan.


 


"Ini semua karenamu!! Dasar wanita tidak waras!! Kau J*l*ng!! Seharusnya wajah buruk mu itu yang tertusuk!! Seharusnya kau yang terluka!! Seharusnya kau bukan Lay ku!!" wanita itu mengamuk di hadapan Soul.


 


"Chorong-ssi, ternyata anda? Saya tak menyangka anda melukai pria yang anda sukai. Sepertinya saya akan semakin membuat anda tidak akan bisa mendapatkan Lay." tajam Soul.


 


"Dasar tidak waras!!!"


 


"Ketua! Kak Irene! Bawa dia ke rumah sakit! Aku takut ia akan kehabisan darah," ucap Soul dengan tenang.


 


Lay, Irene, dan Suho pun pergi meninggalkan Soul dengan terpaksa. Mereka harus menyembuhkan Lay terlebih dahulu.


 


 


....


 


 


Soul dan Chorong sekarang menjadi pusat perhatian di kantin. Chorong menatap Soul dengan penuh amarah, sedangkan Soul menatap Chorong dengan wajah datarnya.


 


"Saya akan melawan tiga orang ternyata." Soul memasang wajah meremehkan, memancing emosi dari Chorong dan kedua teman nya itu.


 


"Tidak perlu, aku bisa menghabisimu sendiri. Akan kubuktikan bahwa Gadis Tanpa Ekspresi dari SMA Jeonyong bukanlah apa-apa!!"


 


BUG


 


Tinju dari Chorong mengenai wajah Soul dengan sempurna, tapi Chorong  tidak senang, karena Soul hanya menoleh dari dampak pukulan tersebut. Ia ingin Soul itu terhuyung dan jatuh, bukan sekedar menoleh.


 


Gegabah. Pukulannya tidak sekeras yang kubayangkan.


 


"Kau salah karena telah meremehkanku Nona Ahn!!" seru Chorong dengan penuh amarah.


 


Tepis.


 


Soul menepis pukulan Chorong dari arah kanan dengan tangan kanan nya. Soul lalu menggeleng - geleng, kemudian menghela nafas.


 


"Mari kita bermain. Akan kutunjukan caraku bermain denganmu terlebih dahulu."


 


Tep!


 


Soul mencekal pergelangan tangan kiri Chorong, sehingga ia tidak akan  bisa melepaskan cekalan itu. Tenaga Soul semakin menguat, ia semakin mengencangkan cekalan nya.


 


"Akkhhh!! Tulangku!! Tulangku seperti ingin remuk!!"


 


Kedua teman nya yang berdiri tak jauh di belakang Chorong, bergidik ngeri. Soul langsung menatap mereka berdua dengan tajam, yang membuat mereka langsung berlari menjauh.


 


"Saya tidak gila Chorong-ssi. Hanya saja, jika anda selalu bilang bahwa saya gila ataupun tidak waras, maka anda akan benar-benar membuat saya gila, dan yang pertama kali merasakan kegilaan saya adalah anda!"


 


To be continue....


Mohon dukungan dan saran nya...

__ADS_1


__ADS_2