
Cerita ini hanyalah sebuah karangan yang sama sekali tidak berkaitan dengan
Idol itu sendiri maupun kejadian kejadian yang terkait di dalam cerita ini.
Karangan ini juga tidak bermaksud untuk menyinggung maupun menghina pihak manapun.
....
If You...
-5-
Toilet Perempuan.
....
"Bolehkah saya pergi sekarang?" tanya Soul.
"Silahkan, tapi kau tidak boleh mengulangi perbuatanmu lagi. Jika kau mengulangi lagi, maka kau akan dikeluarkan!" tegas guru Nam.
Soul mengerjapkan matanya dengan ekspresi wajah yang tak pernah berubah, yaitu selalu datar dan dingin. Kemudian, ia pun keluar dari ruang konseling dan pergi untuk kembali ke kelasnya.
....
Saat ia masuk ke dalam kelas, semua mata murid-murid di kelasnya tertuju padanya. Ia menghela nafas dalam, untuk menenangkan dirinya, lalu segera duduk di kursinya.
Dilihatnya rekan sebangku yang sedari tadi memperhatikan nya. Ya, Miseo memperhatikan nya, entah apa yang ada di balik arti tatapan matanya itu.
Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dipikiran gadis itu, Soul. Pertanyaan, yang seharusnya ia tanyakan sejak satu tahun yang lalu.
"Miseo-ssi," panggil Soul dengan dingin nya.
"A-apa? Maaf jika aku memperhatikanmu seperti itu," ucapnya dengan kepala yang langsung tertunduk.
"Bukan itu." Miseo mendongak.
"Apa kau kenal dengan seseorang yang bernama Kim Jong In? Atau biasa dipanggil Kai."
"Apa?!! Apa yang kau maksud?! Apa kau sedang menuduhku?!!"
"Siapa yang menuduhmu?"
"Soul Ji! Miseo! Ada apa?!"
Kedua gadis yang disebutkan namanya oleh guru pun diam, lalu menggeleng.
"Ti-tidak ada apa-apa guru Lee!" ucap Miseo.
"Saya izin ke toilet, permisi!" Soul pun pergi keluar lewat pintu kelas yang berada di belakang. Ia segera pergi ke toilet dengan tergesa-gesa.
Hahhh... hahh... mengapa? Mengapa pikiranku jadi kacau..... Hahhh..... ibu.... topeng badut..... darah.... aku.... ibu.... ibu mati... ibu mati karenaku!!
BRAAKKK
....
"Baek, apa aku terlalu mengekangnya?"
Ya, itu Chanyeol. Kelasnya sedang kosong mata pelajaran karena guru yang mengajar sedang ada kepentingan lain.
Baekhyun menggeleng, lalu mengangguk.
__ADS_1
"Jadi yang benar iya atau tidak?"
Baekhyun pun terkekeh tanpa suara, lalu mengetik sebuah kalimat di ponselnya.
[Menurutku kau tidak terlalu mengekangnya, hanya saja kau sepertinya sedikit menyinggung hal yang dia sukai.]
"Hissh! Aku tidak akan seperti itu jika saja hal yang disukainya tidak membahayakan!" wajah Chanyeol sedikit memerah karena jengkel.
[Apa kau menyukainya?]
Chanyeol diam, dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Baekhyun yang melihat itu tersenyum, lalu mengangguk paham.
"Kau ini kenapa?" Baekhyun menggeleng dengan senyuman yang tetap terlukis di wajahnya.
Senyuman penuh arti.
....
Hiks.... kenapa aku? Rasa apa ini yang meyelimutiku?
"Emm Kai! Namaku Kai!"
"Hahaha.... kau kalah lagi!"
"Huwa...kenapa kau sangat manis Soul Ji!"
"Ini aku, Kim Jong In, Kai!"
"Aku ingin balas dendam!"
"Lain kali, ikat rambutmu itu agar tidak menghalangi penglihatanmu!"
"AAAAA!!"
Suara teriakan itu kini tergantikan dengan suara tangisan pilu yang sangat menyayat hati. Toilet perempuan kini hanya diisi oleh dirinya, tidak ada orang lain selain dia satu-satunya.
Kai.... siapa kau sebenarnya hiks...... Mengapa kau membunuh ibuku....
Soul tak bisa berdiri tegak, ia bersandar pada dinding toilet dengan pikiran yang sangat kacau. Ia ingin menyadarkan dirinya sehingga terus menerus menjambak rambutnya yang sudah tidak terikat lagi.
"Kai keparat!! Dimana kau?!!!"
Seseorang melihat kejadian itu, melihat sisi lemah dari seorang Soul yang selama ini ditakuti oleh orang-orang. Ia tertunduk dan merasa bersalah.
Apa aku harus tetap membisu untuk melindungi kakak?
Orang itu berbalik, lalu keluar dari toilet.
Maafkan aku Soul, aku harus pura-pura tidak tahu tentang semua, dan membuatmu membenci seseorang yang tidak bersalah, ini semua agar aku bisa melindungi kakak ku, maafkan aku kumohon....
Soul yang masih berada di dalam toilet menghapus air matanya. Ia rasa ia sudah terlalu lama berada di toilet.
Lihatlah penampilannya yang begitu berantakan. Wajah merah, mata sembab, dan rambut yang berantakan. Ia bercermin, kemudian membasuh wajah nya, setidaknya itu bisa menghilangkan sedikit jejak kalau ia habis menangis. Lalu, ia mengikat rambutnya dengan benar agar tidak menghalangi pandangan nya.
Setelah selesai, ia pun pergi untuk kembali ke kelasnya.
....
"Hey Suho!" panggil Irene.
__ADS_1
Suho menengok dengan ekspresi wajah yang mengatakan 'apa?'
"Bisakah kita menyelesaikan nya sebelum bel pulang berbunyi?"
"Tentu saja, ini tinggal sedikit lagi. Berkas-berkas tentang data diri murid-murid yang ingin pindah kesini tidak banyak," jawab Suho dengan senyuman nya.
Deg
Degup jantung Irene berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Senyuman itu mengakibatkan semburat merah di pipi Irene muncul. Wajah cantiknya itu seperti badut sekarang.
"Irene, kau baik-baik saja?"
Irene menggeleng keras, lalu menatap Suho yang sedang menatapnya khawatir.
"A-aku baik-baik saja. Kalau begitu ayo selesaikan ini! Lebih cepat lebih baik!" alih Irene agar ia dapat menutupi rasa malu nya.
Suho tersenyum lalu mengangguk.
Lembar demi lembar mereka periksa, mereka rapihkan, dan mereka urutkan. Mencatat sana-sini dengan rapih dan cepat, lalu membereskan nya lagi. Ya, akhirnya tinggal dua berkas tentang data diri murid baru yang belum mereka selesaikan.
"Rin! Lihatlah ini!"
Irene menengok dan memperhatikan apa yang ditunjuk oleh Suho.
"Siswa ini 1 tahun lebih muda dari umur siswa biasa kelas 1 SMA, bukankah itu terlalu muda?" tanya Suho.
"Memang sih, tapi disitu juga dituliskan kalau dia masuk sekolah lebih cepat dari anak-anak lain yang seusianya. Jadi, tidak perlu ada yang dipermasalahkan bukan?" Suho mengangguk.
"Eoh? Dia pandai dalam menari dan ballet?" Irene sedikit terkejut dan cukup kagum.
"Kau benar. Sepertinya kita harus mendekati pria ini, dan memasukkan nya ke dalam geng kita."
"Ahh, bicara tentang itu, lihatlah ini juga!" seru Irene. Suho pun melihat lembaran yang ditunjuk oleh gadis itu.
"Waah dia kelas 2?" tanya Suho.
"Benar. Dia pindah ke sekolah ini karena tidak nyaman di sekolah sebelumnya. Yang membuatku tertarik adalah, dia pandai bernyanyi, suaranya sangat indah, nada yang bisa dicapainya juga sangat tinggi," jelas Irene.
"Kau pernah mendengarnya?"
"Tentu saja! Dia pernah datang ke sekolah beberapa hari yang lalu, dan kepala sekolah memintanya untuk bernyanyi karena penasaran. Aku juga ada disana."
"Baguslah, dua orang itu sepertinya harus kita miliki. Dengan begitu geng kita akan semakin besar dengan anggota yang terkenal. Jika seperti itu, kita bisa semakin memperluas lingkungan dan semakin banyak orang-orang yang mengenal kita, dan bisa saja itu menjadi peluang kita untuk membantu Soul."
Irene terkekeh melihat Suho yang begitu senang dan bersemangat. Ia juga senang, tapi sebuah ingatan langsung membuat wajahnya serius.
"Suho! Kau tau Baekhyun?"
"Pria yang dekat dengan Chanyeol?" Irene mengangguk. "Kenapa?"
"Dia memiliki adik."
"Lalu?"
"Adiknya adalah orang yang sekarang masih koma karena salah satu dari anggota kita."
Suho terbelalak. "B-bagaimana bisa?!"
"Ya, yang aku tahu dia bukanlah adik kandungnya. Lebih tepatnya, Baekhyun lah yang bukan anak kandung. Baekhyun merupakan anak angkat dari sebuah keluarga polisi yang terpandang. Tuan Oh adalah polisi ternama di kota ini, sedangkan istrinya adalah seorang detektif. Mereka berdua sedang menyelidiki siapa yang telah membuat anak kandungnya koma. Sedangkan peran Baekhyun, membantu mereka."
Suho mengacak-acak rambutnya frustasi. Penjelasan dari Irene membuatnya harus memutar otak untuk mengatasi permasalahan ini.
Jangan lupa untuk Like dan Comment yaa^^
Mulai sekarang dan seterusnya, If You.... akan di update setiap hari Rabu saja...
Terima kasih..
__ADS_1