
Sore setelah magrib,Ijah pun keluar dan pamit sama satpam yang jaga malam di rumah pak Hadi.
Parjo pun membojengkan ijah di belakang motor bututnya,desa Parjo ada di sebelah melewati perkebunan kosong yang ada sumur tua nya itu.
"Kenapa lewat sini ,Jo.. "Tanya Ijah yang mulai meremeng bulu kudunya.
"Biar cepat sampai,kalau jalan besar lama
"Kamu tidak takut lewat sini "?
"Takut apa,"saya sering lewat sini kalau mau pulang cepat ,ini juga belum malam selesai magrib masih belum gelap banget.
"Ehhh.... kenapa berhenti Jo...
"Itu ada nenek di depan... jatuh lagi gedong ranting kering aku bantu dia dulu.
"Ngak usah jo..," ayo cepat pergi dari sini, ijah sudah gak enak atinya.
"Jangan begitu kasian..."!
Parjo turun dari motornya," membuat ijah pun ikut turun.
"Nenek," kenapa bawa kayuk banyak ,dan berat ,"tanya Parjo.
Nenek itu,hanya memandngi Parjo lalu melirik ke arah Ijah, saat di lirik jantung ijah seperti mau copot.. tatapan itu...geri sekali.
"Mari saya bantu nek ,Rumah nenek di mana "? tanya Parjo sambil mengambil kayu yang di bawa nenek itu.
Nenek itu hanya menujukan gubuk tua , tak jauh dari mereka berdiri ,sebelahnya terdapat sumur tua.
"Ini... bu...bukankah tempat ,aku dulu memberikan tumbal pada kunti, "?
Ijah membantin ketakutan ,"memegangi baju Parjo.
"Kreeeekkkkk" !!
Deritan suara pintu itu saja membuat Ijah merinding.
Nenek itu membuka pintu rumah yang sangat reot itu.
"Nenek tinggal disini "? tanya Parjo.
Nenek itu hanya mengguk saja,sedang ijah memandangnya dengan gemetaran
.
"Nenek tinggal sendirian disini "?
"iya.. nak ."terimakasih ya," kisanak.. sudah membantu nenek "! suara serak dan paru itu keluar dari mulut nenek itu .
Ijah menarik -narik baju Parjo, memberi isarat supaya cepat pergi.
"Kalau begitu saya... pulang dulu nenek, ini ijah mau cepet nonton dangdut takut kemalaman,"kata Parjo
"Tidak minum dulu nak..."??
"Tidak usah, terimakasih nek "!!
"Hati-hati di jalan...."! kata nenek itu , mengatar mereka keluar rumah.
__ADS_1
ijah mencium bau anyir darah dari dalam sumur,suara-suara teriakan anak-anak dari dalam sumur dia juga mendegar teriakan cucunya meski sayup-sayup.
Setelah agak,jauh dari rumah dan sumur tua itu,Parjo sudah mengedarai motornya, cukup jauh dari sana.
"Jo...tadi apakah kamu juga mendengar suara-suara aneh dari dalam sumur.
"Suara apa jah"!! saya tidak dengar apa-apa"!
"Masak kamu tidak dengar"??
"Tidak jah masak aku,bohong pada mu"?
"ya.. sudah... lah..nanti kalau pulang jangan lewat sini ya, lewat jalan besar saja.
"Kenapa kamu takut "?
"Iya... Jo...," mas Parjo apa dak aneh ada nenek tinggal di hutan sendirian"? tanya ijah .
"Aneh apa,"? namanya juga di desa jah ini kan pingiran kota, mungkin anaknya tinggal di kota dan nenek itu lebih suka tinggal di desa atau memeng dia tidak punya anak .
"Rumah kamu apa masih jauh,"? Jo.
"Dekat itu rumah ku, cet warna biru.
ijah dan Parjo pun turun, Parjo menyapa beberapa tetangganya yang kebetulan bersimpangan di jalan,namun mereka diam saja tak membalas sapaannya.
Ijah pun merasa aneh karena orang-orang itu tak menjawab sapaan mereka.
Parjo membuka pintu rumahnya,dan memperislahkan," Ijah masuk.
"Aku mandi dulu ya Jah.."! kamu tunggu sebentar. kata Parjo.
Sambil bersiul-siul,Parjo mandi dia senang telah mendapatkan calon istri, lumayan bisa buat teman hidupnya.
Selesai mandi dan berganti pakaian ,Parjo keluar,matanya tertuju tumpukan baju yang tadi dia pakai.
Ada selendang nenek itu ,yang ke bawa olehnya, dia memungutnya kembali, dan
melipatnya memasukan dalam tas nya.
pikirnya nanti bisa di balikin kalau ngater Ijah pulang.
"Ayo jah kita nonton,jalan kaki saja ya.. dekat kok dari rumah ini .
"Kamu juga dengarkan suara bisa kedegaran dari sini.
"Iya ...Ayo ...Jo "! Ijah bangkit dari duduk.
Parjo mengadeng tangan ijah mereka tidak malu-malu lagi,seperti layaknya anak muda yang sedang di mabuk asmara.
Sepanjang perjalanan , Parjo menyapa beberapa tetangganya namun mereka diam dan tak menjawab .
"Apa ada yang salah dengan dirinya "? kenapa para tetangganya seolah acuh padanya, Parjo ngedumel sendiri tapi dia juga tidak begitu perduli.
"Mungkin mereka sibuk dan tergesa-gesa. jadi engan membalas sapaan ku, pikir Parjo.
Acara itu sampai jauh malam,Parjo masuk ke warung makan dengan mbok Ijah.
Hal yang sama pun terjadi , pemilik warung pun engan untuk meladeni nya
__ADS_1
seolah-olah dia tak ada dan tak di agap membuat Parjo sangat kesal.
"Sudah lah," jah ayo kita pulang saja masak mie goreng di rumah.
"Heran saya," kenapa se isi desa cuwek pada saya padahal ,penduduk sini ramah semua.
"Iya... dari tadi saya juga perhatikan , mereka seolah tak agap kita ada."?? ayo kita pulang ini juga sudah malam ,saut ijah.
Mereka pun berjalan ke rumah, Parjo pun jadi senang setelah mendapat Whatsapp dari anaknya dia tak pulang ada lemburan, jadi bisa beruda'an dengan ijah.
Parjo kembali membuka pintu ,rumahnya Ijah memasak mie Isntan di rumah.
Setelah makan Parjo duduk di sofa dengan Ijah, Parjo menatap ijah dengan tatapan mesum.
"Jah... kamu menginap saja di sini, ini sudah terlau malam dan jauh perjalanan dari sini ke rumah pak Hadi.
"Walau setengah jam perjalanan kalau lewat hutan ,tapi kalau lewat jalan besar bisa satu jam.sedang jam menujukan jam 11 malam,tuh. bujuk Parjo.
Ijah setuju saja dengan ,idenya Parjo . dua orang setengah baya itu pun sudah mulai di mabuk asamra.
Malam ,itu... entah siapa yang memulai mereka melakukan hubungan layaknya suami istri.
Parjo terengah-engah merasakan ke ganasan ijah, apakah karena ijah sudah lama tidak melakukannya.
Jeritan dan erangan ijah itu ,seperti sura nenek-nenek ,namun Parjo tidak perduli.
Dia Menikmati setiap sentuhan serta belaian Ijah .entah sudah berapa kali melakukanya namun ijah seperti tak terpuaskan,membuat Parjo terkapar tak bisa mengimbangi ijah.
Parjo tertidur sampai ,suara azan subuh membangunkannya. segera dia mandi dan ganti baju dinas'nya.
Ijah pun di bangunkan juga oleh Parjo.
dan mereka berangkat lewat perkebunan lagi.
Parjo berhenti pada rumah yang dekat sumur tua dan turun.
"Nekk..."!! ... Asalamualaikum ,"Nek..."!!
Tak ada jawaban,karena takut telat ,Parjo membuka pintu, mungkin nenek belum bangun,pikirnya.
Pintu itu sudah terbukan sedikit, mungkin juga nenek lgi di dapur tak mendegarnya.
Parjo... masih mencari nenek yang tinggal di situ, sampai ke dapur pun ,tak ada nenek itu.
Rumah itu sudah kusam dan banyak sarang laba-laba seperti tak berpenghuni.
Bulu kudu Parjo merinding seketika, dia segera mengeluarkan selendang yang ada di tasnya, bau sekali kumal apek dan kusam buruk rupa pdahal semalam terlihat baru dan wangi.
Baru saja ,di letakakan tiba-tiba..., slendang itu hilang ,membuat Parjo segera keluar ,takut dan merinding.
Dan menyetater Motornya ,ngebut ingin secepatnya pergi dari situ.
Ijah yang ke bingungan tak tau apa yang terjadi memeluk pinggang Parjo erat-erat karena kencang sekali Parjo naik motornya.
Hawa dingin pagi dan seram seperti meyelimuti dan mengikuti mereka
------------Bersambung-----------
Like me and Vote Me.....
__ADS_1
jangan menoleh ke belakang saat melewati sumur tua di sekitar anda.