
Sore itu, aku pulang dari mengajar kegiatan ekstrakurikuler English Club di salah satu sekolah negeri di kotaku. Ya, aku adalah seorang guru bahasa asing. Aku menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan juga Spanyol.
Dengan mengendarai sepeda motor, aku memutuskan mampir di salah satu toko buku di pinggir jalan yang aku lewat menuju rumahku.
Setelah memarkir sepeda motorku, aku langsung mencari benda-benda yang aku perlukan seperti buku catatan, memo, maupun pulpen. Tiba-tiba gawaiku berdering, gawai yang kumasukkan dalam tas ranselku. Dari tadi aku merasakan getaran gawaiku, tapi aku cuek saja. Kulihat ada empat panggilan tak terjawab. Oh, ternyata dari Reno sahabatku. Langsung saja ku jawab panggilan dari Reno, siapa tau penting.
[Nay, kamu dimana aja sih? Dari tadi aku meneleponmu kok nggak dijawab-jawab sih] kata Reno dengan nada agak kesal.
[Loh emang kenapa Ren, tumben kamu menelepon aku, biasanya kamu hanya kirim pesan aja, memang ada apa sih sampai kamu kesal gitu] sahutku penasaran.
[Ini ada yang mau menelepon kamu, nanti kalau ada panggilan yang nggak dikenal masuk, angkat aja yah, sudah dulu ya. Hehe.]
Telepon ditutup, kudengar di sana Reno sedang cengengesan. Entah perihal apa segitu pentingnya Reno jadi heboh begitu. Hari sudah menjelang magrib, kulirik arlojiku sudah hampir menujukkan pukul enam sore.
Kulihat kembali gawaiku, ya memang ada beberapa panggilan tak terjawab dengan nomor yang tak kukenal. Panggilan itu berselang beberapa menit setelah panggilan tak terjawab dari Reno tadi.
Tiba-tiba gawaiku berdering kembali.
__ADS_1
[Naya, kamu masih ingat aku kan?]
Deg, hatiku bergetar. Suara itu. Entah harus menyebutnya dengan suara yg kurindukan ataukah suara yang membuatku benci setengah mati. Suara yg tiga tahun ini sudah kulupakan. Mengapa harus muncul kembali di telingaku. Ya Tuhan, mimpi apakah aku semalam. Aku tak ada firasat apapun.
[Nay, kamu dengarkan? Kamu masih di situ kan Nay] tanya suara laki-laki itu.
[I, iya Tom. Aku masih di sini. Ada perlu apa, Tom?] tanyaku balik, kau tau perasaanku sungguh luar biasa gugup. Aku berusaha untuk menguasai kembali perasaanku. Aku juga tak mau terlalu baper. Haruskah rasa yang telah mati itu muncul kembali dalam kehidupanku yang selama ini sudah bahagia tanpanya?
[Aku sedang dengan Reno nih, bisa kah kau temui aku di Kafe Gembira sekarang juga?]
[Ayolah Nay, aku mohon. Kita kan sudah beberapa tahun nggak ketemu. Masa kamu nggak mau sih ketemu denganku?]
Hening, aku terdiam sejenak. Memikirkan kata-kata Tomi barusan. Haruskah aku ke sana menemuinya? Aku bimbang. Tapi bila aku tak ke sana aku dicap sombong. Apalagi yang kutahu, dia juga akrab dengan Reno.
Segera kubayarkan belanjaanku ke kasir. Aku tiba-tiba sudah kehilangan fokus. Ya, aku hanya penasaran apa yang ingin dibicarakan Tomi padaku setelah tiga tahun ini kami tanpa komunikasi sama sekali. Dia memblokir semua akun sosial media ku. Langsung aku bergegas memacu sepeda motorku ke kafe tersebut.
Sepuluh menit kemudian aku tiba di kafe itu. Setelah memarkir sepeda motorku, aku langsung bergegas menemui mereka. Ya itu mereka. Kulihat Tomi menatapku. Sebuah tatapan antara menyesal dan kehilangan. Langsung aku bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Hai Naya, apa kabar?" tanya Reno mesam mesem.
"Baik, Ren. " sahutku berusaha menguasai diri agar tak terlalu gugup.
"Masih ingat kan kamu dengan cowok di sampingku ini, nggak mungkin kan kamu lupa. Hehe. "
"Ya. "
"Nay, sudah lama ya kita tak bertemu. Kamu sekarang terlihat langsing dan menarik."
Cih, sudah jadi mantan pacar sekarang dia baru memujiku. Teringat dulu aku diejek ibu-ibu anak dua. Aku hanya senyum saja menanggapi basa-basi Tomi.
"Gini Nay, Tomi kan mau ikut seleksi tes pengajar bahasa Inggris di lembaga kursus kita." kata Reno langsung pada poin.
"Iya Nay, aku mau minta maaf ya atas sikapku selama ini yang nggak dewasa dan mendiamkanmu selama ini. Aku pikir-pikir doaku selama ini terhalang karena aku belum meminta maaf padamu. Contohnya seleksi penerimaan ASN kemarin pun aku gagal. Karena aku punya salah terhadapmu." jelas Tomi panjang lebar.
Aku tersenyum tipis dan hanya diam. Aku tidak mau terlalu bereuforia. Aku dulu memang pernah berkata kalau suatu saat pasti Tomi akan meminta maaf kepadaku.
__ADS_1