Indahnya Move On

Indahnya Move On
Tiga


__ADS_3

Diambilnya  Seserahan


Setelah secara sepihak Tomi memutuskan hubungan denganku, air mataku mengalir derasnya. Sunggih aku tak menyangka aku diputuskan secara sepihak seperti ini. Apa gunanya pengorbananku selama ini? Kebersamaan kami yang selama lima tahun tiada artinya baginya. Kalau begitu, mengapa dia dan keluarganya repot-repot datang ke rumahku untuk melamarku kalau hatinya saja masih goyah? Bahkan membawa seserahan dan cincin pertunangan.


Hanya karena omongan keponakannya yang masih bocah SMA itu dan belum terbukti kebenarannya, lantas semudah itu dia percaya? Bahkan aku seperti kehilangan sosok Tomi selama ini yang kukenal begitu penyayang dan berhati lembut. Sungguh aku tak paham sesungguhnya isi hati dan jalan pikiran Tomi.


Aku akhirnya tertidur tanpa sadar karena kecapekan menangis. Hampir saja aku kesiangan untuk melaksanakan sholat subuh. Untung ibu segera membangunkanku. Setelah mandi pagi dan sholat shubuh, rupanya ibu sudah menyiapkan makan pagi berupa sayur bening bayam dan ayam goreng. Juga tersedia beberapa buah-buahan seperti apel dan pepaya. Aku pun mengambil nasi, ayam, dan sayur bayam. Walau tidak terlalu nafsu makan, aku berusaha makan dengan lahap. Kasiahn ibu sudah masak pagi-pagi kalau aku tidak berselera makan.


***


Dua minggu setelah pembatalan pernikahan kami secara sepihak dari Tomi pun berlalu begitu cepat. Tak ada tanda-tanda Tomi berkirim pesan sekadar bertanya bagaimana kabar dan keadaanku apalagi meneleponku. Hari-hari kujalani begitu berat tapi aku berusaha menyembunyikan kesedihanku dari ayah dan ibu. Tapi nampaknya lama-lama ibu menjadi curiga, kenapa Tomi tidak ada menampakkan batang hidungnya ke rumah kami. Hingga suatu sore ketika duduk santai sambil memandangi bunga-bunga di halaman rumahku, ibu pun bertanya.


“Nay, kok Tomi tidak ada sama sekali datang ke rumah kita. Sudah dua minggu lebih loh ini. Sedangkan hari pernikahan kalian pun semakin dekat, apa belum ada persiapan Nay?” Tanya ibu penasaran.


Seketika aku kaget, bagaimana aku harus menjelaskan kepada ibu. Ah nanti saja aku jujur. Kalau perasaanku sudah tenang. Aku takut kalau aku jujur malah membebani perasaan ibu kalau ternyata putri sulungnya ini batal nikah.


“Emmm, mungkin Tomi masih sibuk bu, mengurus persiapan pernikahan kami.” Jawabku sebisanya, maafkan Naya bu. Naya belum bisa berkata jujur pada ibu, mungkin nanti akan tiba saatnya untuk Naya berkata sejujurnya.


“Oh begitu, jadi urusan undangan, sewa gedung, dan hiburan urusannya Tomi ya nak?” Tanya ibu makin bersemangat.


“I-iya bu, udahlah. Ibu tenang aja, pokonya ibu terima beres deh.” Jawabku sambil tersenyum. Melihat semangatnya ibuku dalam mempersiapkan pernikahanku aku semakin tidak tega kalau ibu tahu hubunganku dengan Tomi sudah berakhir. Oh Tuhan, beri aku kekuatan agar selalu tabah menghadapi cobaan ini. Kalau nanti suatu hari ibu tahu kebenarannya, berikanlah ibuku kekuatan untuk menerima takdir dan cobaan yang sedang kujalani ini.

__ADS_1


***


Sampai dua minggu ini berlalu Tomi tidak ada menghubungiku dan aku pun juga tidak ada niat untuk menghubunginya, perasaanku sudah muak menghadapi ini. Jadi kubiarkan saja hingga dua hari kemudian.


“Assalammu alaikum.” Terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumahku dan seorang wanita mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam,” jawab kami dari dalam. Karena ini siang hari jadi hanya ada ibuku dan aku yang di rumah. Sedangkan ayahku sedang di kantor dan adikku sedang kuliah.


“Silakan masuk, maaf anda siapa ya?” Tanya ibuku.


Yang datang itu adalah kak Atik dan anaknya Lita, mereka adalah kakak perempuan Tomi yang nomor empat dan keponakan Tomi. Ada apa ya mereka datang kemari? Kok bukan Tomi dan Nindi yang datang? Padahal kan yang ada masalah denganku si Tomi dan Nindi. Kenapa malah kakaknya yang tidak ikut acara dalam lamaranku yang datang? Apa mereka sengaja ya? Atau Tomi dan Nindi sebenarnya mau menghindar dari masalah ini?


Kulihat ibu kaget sambil memegang dadanya. Terlihat ibu sangat syok mendengar penjelasan dari kak Atik. Maafkan Naya bu.


“A-apa maksudnya ya mbak? Kan sebentar lagi mereka akan menikah? Kenapa seserahan dan cincinnya di ambil kembali? Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya ibu dengan nada gemetar.


“Loh kok Naya belum cerita sama ibu? Oh ya, kamu sengaja ya menutupi semua ini dari ibumu? Huh kasian sekali kamu Nay? Kamu belum siap ya putus dari Tomi?” Jawab kak Atik sinis.


Hening sejenak, ibu berusaha mencerna apa yang telah terjadi.


“Jadi Naya sudah putus dengan Tomi dan pernikahan mereka dibatalkan?” Tanya ibu balik dengan nada menahan marah.

__ADS_1


“ Ya iyalah bu, asal ibu tahu ya. Keputusan Tomi untuk membatalkan pernikahan dengan Naya adalah keputusan yang tepat. Ibu mau tau alasannya? Naya sudah menjelek-jelekan keluarga kami? Oh ya Nay, kalau kamu nggak suka dengan keluarga kami, harusnya kamu ngomong dong di awal jadi hubungan kalian nggak perlu lanjut. Nggak perlu sampai kamu menjelekkan kami lewat Nindi! Kata kak Atik dengan tatapan mengejek.


“Iya bener, kalau nggak suka nggak usah aja. Ngapain sih kamu menjelekkan keluarga kami? Sukanya sama om Tomi aja, sama kami nggak suka. Lebih baik kalian nggak usah nikah aja. Daripada nanti jadi masalah besar di keluarga kami.” Ejek Lita. Padahal Lita masih kelas tiga SMP tapi kemampuan nyinyirnya sudah luar biasa.


“Be-benar itu Nay? Kamu menjelek-jelekan mereka?” Tanya ibu sambil menahan air mata.


Aku yang tak mampu lagi menahan isak tangis berusaha menjelaskan pada ibu yang sebenarnya. “Bu, dengar dulu penjelasan Nay.”


“Sudahlah Nay, semua sudah jelas. Buat mbak Atik dan Lita, tunggu sebentar. Saya akan mengambil seserahan dan cincinnya. Saya akan mengembalikannya kepada kalian.” Kata ibu berusaha tegar.


Ibu langsung ke dalam menuju ruang keluarga tempat seserahan dan cincinku diletakkan. Ibu mengangkatnya dan langsung menyerahkan pada kak Atik dan Lita. Aku ingin membantu ibu membawakan tapi ibu langsung menepis tanganku. Jadinya aku hanya duduk sambil menangis tergugu.


“Ini mbak Atik dan Lita, barang-barang yang kalian minta kembali. Kami tidak membutuhkannya lagi dan kami tidak mau melihatnya lagi.” Kata ibu.


“Good job. Dengan pengambilan kembali seserahan dan cincin ini artinya sudah tidak ada hubungan lagi antara Tomi dengan Naya. Kalau begitu kami permisi dulu!” Jawab kak Atik dengan ketus.


Kulihat terburu-buru mereka memasukkan barang-barang seserahan dan cincin ke dalam mobil mereka. Aku yang mengintip lewat jendela ruang tamu hanya bisa pasrah meratapi. Sedangkan tanpa kata-kata lagi, kak Atik dan Lita masuk mobil dan mobil mereka pun berlalu dari halaman rumahku meninggalkan ibu yang masih berdiri di teras.


***


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2