Indahnya Move On

Indahnya Move On
Dua


__ADS_3

Dua tahun lalu, kisah cintaku dan Tomi harus berakhir. Padahal hanya menjelang 3 bulan pernikahan kami. Tomi dan keluarganya sudah datang ke rumahku dan menghadap orang tuaku untuk menjadikanku istrinya. Teringat hari itu keluarganya membawakanku beberapa seserahan. Walaupun sederhana, tapi rasa hati ini berbunga-bunga karena penantian lima tahun akan terbayar lunas. Isi seserahannya hanya ada beberapa perlengkapan make up dan mandi, baju gamis beserta hijab, tas dan sepatu, alat sholat dan kitab Al-qur'an, serta tak lupa buah-buahan. Tak lupa mamanya Tomi menyelipkan di jari manisku cincin emas 3 gram sebagai tanda pengikat pertunangan. Tak dapat dijabarkan dengan kata-kata suasana mengharu biru atas pertunangan kami. Kulihat ibu dan ayahku dengan cepat mengusap air mata haru karena akhirnya anak pertama mereka di lamar oleh seseorang. Begitupun dengan keluarga Tomi, yang dihadiri oleh mamanya karena papanya sudah lama meninggal dunia sejak dia duduk di bangku SMP, kakak perempuannya yang paling tua dan suaminya, serta kakak laki-lakinya yang nomor dua. Maklum Tomi merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Berbanding terbalik denganku yang anak pertama dari dua bersaudara. Adikku pun juga perempuan.


Seminggu setelah acara lamaran pun aku dan Tomi ditemani ibuku pergi ke Rumah Rias Pengantin. Rencananya kami akan membooking dan menyewa baju pengantin, rias wajah, serta dekorasi. Karena keterbatasan biaya kami lebih baik memilih menyewa daripada membuat gaun sendiri. Selain lebih mahal apabila membuat gaun dan juga acara pernikahan kami yang hanya tiga bulan dari sekarang. Jadi kami memilih yang praktis saja dengan menyewa busana pernikahan. Tema acara resepsi pernikahan kami, kami memilih untuk memakai adat Banjar, karena kami memang asli suku Banjar yang mendiami provinsi Kalimantan Selatan. Aku dan Tomi memilih busana berwarna hijau agar terlihat segar. Baju kedua untuk resepsi kami memilih setelan jas dan gaun modern. Untuk jas, Tomi akan memakai warna silver dan aku memakai gaun pink kombinasi warna silver hiasan bunga-bunga di bagian dada sampai perut. Untuk akad nikah rencananya kami memakai busana sederhana ala pernikahan Malaysia dengan hijab dan mahkota kecil yang sederhana pula. Dekorasi pun tidak terlalu mewah yang penting simpel ala rustic seperti yang banyak dipakai oleh pasangan muda-mudi kekinian. Ketika fitting busana pengantin, alhamdulillah semua busana begitu pas di tubuh kami. Kulihat ibuku tampak tersenyum bahagia. Sekali-kali kami selingi dengan canda tawa agar suasana tidak membosankan.


* * *


Setelah fitting busana pengantin, beberapa hari kulihat Tomi mulai jarang menghubungiku. Biasanya kami selalu aktif via pesan Whatsapp. Ketika aku tanya, jawaban Tomi selalu berkata tidak apa-apa. Akupun mulai bertanya-tanya kenapa dia perlahan-lahan berubah. Ada apakah gerangan? Ada sesuatu yang salahkah di diriku? Ingin aku menemui dia di rumahnya, tetapi saat ini aku sedang menjalani pemulihan cedera patah tulang tangan kiriku. Ya aku mengalami kecelakaan patah tulang dua bulan lalu. Aku yang mengendarai sepeda motor, tak sengaja bertabrakan dengan pengendara lain hingga menyebabkan salah satu tulang panjang antara telapak tangan dan sikuku patah. Untung cuma satu tulang. Aku langsung di bawa ke rumah sakit di kotaku. Karena keluargaku tidak memiliki banyak biaya jadinya aku hanya di operasi dengan jaminan kartu pemerintah yang biasa kita bayar setiap bulan itu karena aku hanya kelas tiga, jadinya aku menunggu daftar pasien yang akan di operasi patah tulang sekitar seminggu lebih. Ya Allah, ternyata banyak juga yang mengalami nasib yang sama denganku bahkan ada yang lebih parah daripada aku. Aku yg meringis menahan sakit hanya bisa pasrah setelah kami konsultasi dengan dokter ortopedi. Alhamdulillah operasi pemasangan flat pen di tulangku berjalan lancar. Aku menjalani bius total. Walau aku takut tak akan bisa bangun lagi. Tapi Tuhan maha baik, aku dibangunkan setelah kadar suntikan obat bius habis setelah dua belas jam paska operasi. Ngilu-ngilu sedap rasanya tanganku dan masih agak berat rasanya. Selang berjalan waktu aku mulai terbiasa dan pulih. Namun ibu dan ayahku tidak membolehkan naik sepeda motor dulu. Alasannya takut terjadi apa-apa denganku.


* * *


Setelah aku tunggu-tunggu selama hampir dua minggu tidak ada kabar dari Tomi. Hingga aku memutuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu.


[Sayang, apa kabarmu? Rencananya beberapa hari lagi aku ingin mengajakmu untuk pergi ke percetakan undangan pernikahan kita dan membeli souvenir pernikahan] ketik pesanku kepada Tomi.

__ADS_1


[Hmmm, gimana ya memulainya?] Tomi membalas pesanku, agak lama memang. Sekitar sepuluh menit.


[Memangnya kenapa?] balasku tak sabar.


[Kamu inget nggak bilang apa waktu kamu ngobrol dengan Nindi, keponakanku. Ketika kamu sedang di rumahku sebulan yang lalu?] balas Tomi dengan emot marah.


Tunggu, aku terheran-heran. Memangnya aku berkata apa dengan Nindi? Ya memang waktu itu aku ada ke rumah Tomi. Tomi menjemputku di rumah karena kami jalan-jalan di mall. Setelah dari mall kami singgah di rumahnya.


Aku pun terhenyak, kenapa segitu cepatnya Tomi berubah. Ada apa sih?


[Nay, sadar nggak sih kamu kalo gak suka dengan keluargaku, nggak usah deh menjelek-jelekkan keluargaku lewat Nindi.]


[Loh memang Nindi bilang apa sih? Aku beneran nggak tahu apa-apa Tom] balasku dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.

__ADS_1


[Halah, kamu. Mana ada maling mau ngaku. Kalo ngaku semua penuh penjara. Kalo nggak suka dengan keluargaku seharusnya kamu bilang dari awal. Nggak usah mengadu ke Nindi. Jadi aku nggak repot-repot datang ke rumahmu pake acara melamarmu segala!]


[Tapi Tom, sumpah demi Tuhan. Aku tidak ada bilang begitu dengan Nindi. Mungkin ini hanya salah paham.]


[Sudahlah Nay, aku capek menjelaskan panjang lebar ke kamu. Biar bagaimanapun, kamu pakai bawa-bawa nama Tuhan. Aku akan lebih mempercayai keluargaku di banding kamu.]


[Oke, kalo gitu, kita bertiga bertemu. Pertemukan aku dengan Nindi. Supaya jelas duduk permasalahannya apa. Kalo emang salahku. Ya nggak apa-apa, aku akui. Kalo hanya berbalas pesan seperti ini kan susah dan kurang jelas.] Air mataku tumpah. Ya Tuhan segitu marahnya dan fatalkah salahku kepada Tomi. Sedangkan aku merasa tidak pernah berkata seperti itu.


[Nggak ada yang namanya ketemuan Nay. Mulai hari ini kita putus dan pernikahan kita pun batal!] balasan Tomi membuat hatiku luluh lantak. Kucoba untuk meneleponnya tapi hasilnya nihil. Gawainya di nonaktifkan.


Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Sakit sekali hatiku diputuskan sepihak seperti ini dan tanpa diberikan kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2