
Besok aku ada jadwal mengajar dan malam ini aku bersiap-siap untuk menyiapkan buku pelajaran dan bahan ajar.
*
Keesokan harinya, aku ke sekolah masih seperti biasa di antar oleh ayahku naik sepeda motor. Ya aku mengajar di sebuah sekolah menengah negeri di kotaku. Jam pelajaran pun tiba aku langsung memasuki kelas tiga. Hari ini jam mengajarku penuh tak terasa bel tanda berakhrinya seluruh mata pelajaran pun berbunyi. Aku segera ke kantor dan duduk sambil memeriksa tugas yang kuberikan kepada siswa- siswaku harini ini. Setelah suasana agak sepi aku pun berjalan menuju koridor tetapi tiba-tiba aku dicegat oleh seseorang.
“Eh kak Nay, ngapain sih kamu ngotot nggak mau menyerahkan uang tiga puluh juta itu.” Kata Nindi dengan suara keras. Oh iya Nindi bersekolah di tempatku mengajar dan dia kelas duduk di kelas tiga. Selama ini ketika aku mengajar di kelasnya, kami tidak saling bertegur sapa.
“Hei dengarkan ya kata-kataku Nindi yang pintar, bukannya sepupumu sudah tahu. Oh iya mereka sudah tau tapi tidak menjelaskan kepadamu! Dengar ya, aku dan om kamu itu udah sepakat untuk patungan masalah biaya resepsi pernikahan kami. Nah asal kamu tahu ya, uang tiga puluh juta di tempatku itu uangku murni hasil tabunganku selama ini. Kalau yang di tempat Tomi ya sama uang dia seutuhnya. Jadi kurasa cukup ya nggak ada urusannya kamu ikut campur masalah uang ini.” Kataku geram.
“Halah, alasanmu aja itu kak Nay, bilang aja mau kamu tilep sendiri duitnya!” Balas Nindi dengan berapi-api.
__ADS_1
“Ya silakan aja kamu mau ngatai aku apa, yang jelas aku udah jujur ke kamu. Kalo kamu nggak percaya, coba tanyain om kamu itu. Bisa nggak dia membuktikan kalau dia sudah mentransfer uang sebanyak yang kamu tanyakan itu ke aku.”
Nindi menatapku dengan sinis dan ada rasa ketidakpercayaan padaku terpancar dari kedua matanya.
“Huh, pantesan ya pantesan om aku memutuskan untuk membatalkan pernikahannya denganmu. Ya karena kamu orangnya sih suka melawan. Belum jadi keluarga kami aja kamu udah melawan apalagi nanti udah jadi istrinya om Tomi!” seru Nindi menunjukku dengan sengit.
“Ya kalo aku mempertahankan milikku, jelas dong aku melawan. Coba aja siapa yang mau menyerahkan uang yang ditabung dengan susah payah begitu saja. Pikirkan Nin! Jalan kamu itu masih panjang, jangan asal aja melabrak yang lebih tua bila kamu nggak punya bukti.” Sahutku menegaskan. “Oh iya, alasan kamu itu apa memfitnahku di depan Tomi dan keluargamu, kalau aku ada menjelekkan kalian?”
“Hahaha.” Nindi tertawa garing sebelum membalas omonganku. “Kamu tahu nggak kak Nay, jelas aja om Tomi lebih mempercayai omonganku ketimbang percaya kepadamu!Kamu ingat nggak apa yang membuatku jadi memfitnahmu?” Tanya Nindi balik menyerangku. Kamu pikir aku takut apa. Kalaupun aku tahu kebenarannya sudah tidak mungkin juga bagiku untuk balikan dengan Tomi. Bayangkan saja selama lima tahun berhubungan dia tidak percaya lagi denganku. Apalagi nanti menikah. Kalaupun kebenaran terungkap ya sudah biarkan saja, memang begitu sudah jalan takdir yang akan kuhadapi ini.
“Kamu ingetkan waktu kita berboncengan naik sepeda motor ketika pulang sekolah? Aku bertanya padamu gimana malam pertama itu? Tapi apa? Kamu malah mengadukan pertanyaanku itu pada om Tomi! Jelas aja aku malu kak Nay.” Jelas Nindi lantang.
__ADS_1
Oalah jadi itu yang membuat dia memfitnahku, gitu aja tersinggung. Teringat bayangan itu kembali ketika aku mengadukan pertanyaan Nindi ke Tomi. Kejadian itu terjadi saat aku berada di rumah Tomi dan ada Nindi juga saat itu.
[Eh tadi Nindi Tanya gimana nanti malam pertama kita.] Kataku pada Tomi, padahal niatku awalnya cuma bercanda.
[Ih anak kecil kok Tanya begituan sih.] Jawab Tomi sambil tersenyum kepadaku mengedipkan sebelah matanya padaku.
Nindi yang mendengarkan percakapan kami, sontak langsung memerah wajahnya seperti udang rebus. Mungkin karena malu. Ya Tuhan, hal kecil yang kuanggap hanya bercanda saja tak kusangka malah menjadi dibesar-besarkan dan membuat Nindi merasa malu serta tersinggung.
“Oke, jadi kamu pikir setelah kejadian itu dan Tomi tidak mempercayaiku lagi, lantas aku akan memohon-mohon balikan dengannya. Sorry! Aku bukan tipe cewek yang mengemis cinta bila sudah disakiti seperti ini! Dan ingat! Dia sudah memilih untuk mempercayai keluarganya. Ya silakan saja. Tapi bila suatu hari nanti Tomi meminta kepadaku jangan harap aku untuk memandangnya!” kataku dengan kesal.
Nindi berlalu meninggalkanku dengan masih perasaan dongkol. Ya mungkin dia akan mengadu lagi tentang pertengkaran aku dan dia hari ini. Terserah padamu Nin, aku juga sudah tidak mempermasalahkan lagi.
__ADS_1