
Kulihat ibu pun masuk kembali ke dalam rumah tanpa melihatku ibu langsung masuk ke kamarnya dan langsung cepat-cepat mengunci pintu.
“Bu, dengar dulu penjelasan Nay, Nay mohon bu.” Kataku memohon dan sambil mengetuk pintu kamar ibu.
“Cukup Nay, ke kamarmu sana. Intropeksi dirimu. Apa salahmu! Ibu nggak butuh penjelasanmu!” Teriak ibu.
Aku langsung bergegas menuju kamar dan menangis lagi sambil memeluk guling. Ya aku menyesal kenapa aku tidak mengatakan yang sejujurnya pada ibu. Harusnya ibu tahu dariku bukan tahu kabar buruk ini dari orang lain. Sekarang ibu lebih mempercayai kata-kata kak Atik dan Lita daripada mendengar penjelasanku. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sekarang yang harus kulakukan aku harus membiarkan ibu dulu sementara waktu agar keadaan kembali tenang dan ibu tidak marah lagi denganku.
---
Dua hari ibu dan aku tidak saling bertegur sapa bukan karena aku tidak mau duluan menegur ibu. Tapi aku diam karena aku merasa bersalah tidak memberitahu keadaan yang sebenarnya kepada ibu. Ayah pun mengajakku bicara.
“Nay, maklumi ya keadaan ibu. Ibu mungkin hanya perlu waktu untuk menenangkan diri. Ibumu sangat syok atas semua yang telah terjadi. Ayah dan Yuli, adikmu sudah tahu ceritanya dari ibu. Tapi ayah yakin bukan Nay yang salah.” Kata-kata ayah begitu lembut terdengar.
“Kenapa ayah tahu kalau Nay tidak bersalah,” kataku pelan.
“Karena ayah tahu sifat anak ayah. Anak-anak ayah tidak mungkin merendahkan orang lain. Ayah tahu, Atik dan Lita hanya mencari-cari kesalahanmu agar kamu dan Tomi putus.” Kalimat ayah mampu menentramkan hatimu.
__ADS_1
Aku hanya menggangguk mendengar penjelasan ayah.
“Sudahlah kak Nay, nggak usah dipikirkan lagi. Kalau kak Nay nggak jadi menikah dengan Tomi. Berarti Tomi bukan laki-laki yang tepat untuk kak Nay,” tiba-tiba Yuli muncul dan langsung memelukku.
Kami berdua menangis berpelukan dan ayahpun merangkul kami berdua. Aroma tubuh ayah mampu menenangkanku dari hatiku yang gundah ini.
***
Ibu dan ayah sedang pergi ke Supermarket untuk belanja kebutuhan rumah tangga. Sedangkan di rumah hanya ada aku dan Yuli. Tiba-tiba Lita dan adiknya, Budi datang ke rumahku. Tanpa kupersilakan masuk, mereka langsung masuk dan duduk di kursi ruang tamuku.
"Jadi ya nggak perlu berbasa-basi lagi. Kami ke sini adalah untuk menagih kembali uang yang diberikan Tomi padamu sebesar tiga puluh juta rupiah. Jadi kamu harus hari ini juga mengembalikannya!" Kata Lita dengan ketus.
"Eh kamu jangan mengelak yah Naya, siniin kasih ke kami nggak uangnya! Atau kami laporkan kepada polisi atas dasar penipuan karena kamu telah menggelapkan uang om Tomi!" Kata Budi menimpali.
"Oh silakan saja kalian melaporkanku, kalau Tomi memang memberikan uang itu kepadaku mana buktinya! Ada nggak bukti transferan dari rekening Toni ke rekeningku. Aku butuh bukti, bukan omonganmu yang kasar itu bocah!" Kataku geram.
Mereka berdua bingung dan saling berpadangan. Memang mereka tidak membawa bukti apapun ataupun perjanjian hitam di atas putih kalau Tomi benar menyerahkan uang itu kepadaku karena tidak ada bukti apapun. Yes, skakmat!
__ADS_1
“Nah kalau begitu sudah tidak ada urusan lagi, sebaiknya kalian pergi daripada kalian cuma bikin keributan di rumah kami. Harusnya kalian malu, sudah bentak-bentak kak Naya tapi nggak ada buktinya. Cuih. Kalian bisanya ngomong doang tanpa pembuktian! Lagian buat apa kalian buang-buang energi kemari untuk membela om kalian yang pengecut itu!” Usir Yuli dengan sinis.
Mereka pergi sambil berkacak pinggang dan menghentakkan kaki, tanda kekalahan dan tanpa pamit pula! Dasar bocah, nggak tahu di adab. Aku dan Yuli langsung tos dan tertawa bersama.
Tak lama setelah dua bocah sial*n itu pulang, ibu dan ayah pulang dari Supermarket membawa banyak belanjaan dan tak lupa membawa sekotak besar donat kesukaanku dan empat buah es kopi susu yang segar. Hmm, ibu dan ayah tahu aja nih perut kami keroncongan habis dilabrak bocah-bocah itu.
“Ini buat Nay dan Yul, ibu bawakan oleh-oleh buat kalian, dihabiskan ya nak.” Ujar ibu lembut. Tampaknya kemarahan ibu sudah hilang.
“Yeee, ibu tahu aja nih apa kesukaan kita,” sahut Yuli dengan girang sambil mencomot donat.
Akupun terharu, ibu sudah memaafkanku. Aku langsung menghambur ke pelukan ibu.
“Bu, maafin Nay ya. Maafin Nay.” Tak terasa air mataku luruh. Ibu balas memelukku dan tersenyum.
“Sudah ya, Nay nggak perlu nangis lagi. Ibu sudah tahu yang mana yang benar dan yang salah. Ibu tahu kalau Nay tidak bersalah.” Jawab ibu tersenyum. “Sudah, yuk dimakan donatnya.
Akupun langsung memakan donat dan menyedot es kopi susu. Uh, nikmat dan segarnya di siang hari yang panas seperti sini. Kupandangi wajah ibu, ayah, dan Yuli satu persatu, mereka tersenyum lega.
__ADS_1
Ibu, terimakasih sudah memaafkan Nay. Nay janji tidak akan mengulangi kesalahan Nay lagi, janjiku pada diri sendiri.
(bersambung)