INTAN DAN SISTEM CASHBACK SEPULUH KALI LIPAT

INTAN DAN SISTEM CASHBACK SEPULUH KALI LIPAT
Bab 21


__ADS_3

Bagian keuangan kantor developer di hebohkan dengan penerimaan dana sebesar 50.500.000.000.000 dari klien yang baru saja kemarin menandatangani kontrak perjanjian penyerahan dana awal.


Bukan hanya menerima kekurangan dana awal sebesar lima ratus miliar, namun ada juga penambahan dana sebesar limapuluh triliun.


Intan yang sedang survey Lantai 21 gedung Artha Mina, mendapatkan telpon dari pihak developer.


"Selamat pagi Bu Intan, mohon maaf kami dari developer perumahan kantor pusat ingin mengkonfirmasi pembayaran yang telah kami terima hari ini sebesar limapuluh triliun lima ratus miliar.


Apakah pembayaran ini termasuk gedung untuk kantor yang ibu rencanakan?"


Intan rada kesal dengan pertanyaan pihak developer, bukankah rapat kemarin sudah ia tegaskan bahwa dana pembangunan untuk gedung kantor akan ditangani Dewi, jadi jangan di sangkut paut kan dengan pembangunan mansion.


"Mohon maaf, aku berbicara dengan siapa dan dari bagian apa?"


Penelpon menjadi gugup karena dia yakin pasti ada yang salah dengan nya.


"Ma ... ma... maaf ibu Intan, aku.... aku.... Nani dari bagian keuangan pusat, apakah ada yang salah Bu?"


Intan menjawab dengan perintah yang akan memberikan pelajaran kepada pegawai tersebut untuk menghubungi pihak terkait sebelum menghubungi klien secara langsung.


Bahwa segala sesuatu ada prosedur dan tahapannya, tidak bisa memotong jalur seenak jidatnya saja.


"Baiklah Nani, silahkan cross check terlebih dahulu kepada kepala cabang di jalan x, jika belum jelas, biarkan dia yang menghubungi ku"


Mendengar jawaban Intan, penelpon menjadi tambah gugup.


"Ba....ba...baik.... i...Bu.... ....... te te terimakasih"


Intan menjawab lagi dengan singkat "Ya"


Setelah berkeliling di lantai 21 gedung Artha Mina ini Intan merasa cocok dan meminta Dewi untuk menyewa lantai 22 dan 23 juga.


Dia yakin untuk kedepannya perusahaan akan berkembang pesat, menjadikan lokasi ini sebagai kantor cabang adalah pilihan yang sangat tepat.


Oleh karena itu dia langsung ACC dokumen permohonan penyewaan kantor cabang yang telah Dewi buat.

__ADS_1


Selesai dengan urusan penyewaan gedung kantor, Intan meminta Dewi menghubungi Deni dan Alan untuk menemui nya.


Lalu mereka berjalan ke lantai bawah dan menuju parkiran, sambil tetap berjalan, Intan masih juga memberikan tugas kepada Dewi.


"Wi, perusahaan harus menyediakan transportasi antar jemput karyawan, segera bentuk divisi ini, dan kerjasama dengan pihak dealer mobil tempat aku beli mobil ya Wi.


Rekrut supir yang kompeten dan mengerti mesin, disamping sebagai supir, dia juga harus merawat mobil. Jalin juga kerjasama dengan bengkel mobil yang terpercaya apabila dibutuhkan penggantian sparepart dan lain-lainnya."


Sebagai asisten pribadi, Dewi dengan sigap mencatat seluruh perintah dan kemauan dari Intan sang pemilik dana.


Setelah Intan memasuki mobil Alpradh dengan supir baru, Dewi bergegas menuju kantor interior desain.


Meskipun Dewi bisa menyetir sendiri, dia dipaksa oleh Intan untuk menggunakan jasa supir.


Intan mengetahui jadwal Dewi yang super padat, dan tidak mau Dewi cepat lelah lalu jatuh sakit, biar bagaimanapun Dewi sudah dianggap adiknya sendiri.


Belum lagi besok harus menjemput sang kakak bersama suami dan anak nya di bandara.


Berbeda dengan Dewi, meskipun Chen juga memiliki jadwal yang sama padatnya, namun pekerjaan Chen masih bisa di lakukan dari rumah.


Apalagi dengan penerapan bagi hasil dari penjualan online dan offline konsumen yang di pantau oleh Chen dalam aplikasi yang sama namun di menu bar yang berbeda.


Pada aplikasi Intan Finance ditambahkan menu bar Laporan Keuangan dan Kasir yang wajib digunakan setiap penjual yang meminjam modal usaha di Intan Finance.


Pada aplikasi Intan Finance juga terdapat fitur tersembunyi yang dapat memantau pergerakan dana, apabila di ketahui pemakaian dana tidak pada jalur nya, maka tidak akan ada penambahan modal selanjutnya.


Pada saat pinjaman mereka lunas, maka langsung di blacklist, semua sudah ada payung hukum yang dibuat oleh Anita.


Jadi konsumen pun tidak bisa bermain jari lagi, jika ada orang yang seperti itu, yah di blokir aja, gak usah pakai preman.


Mereka yang di blacklist pasti akan kelimpungan sendiri mencari-cari dana untuk menambah modal usaha selanjutnya, di cari sampai ujung dunia pun tak kan menemukan platform pinjaman seperti Intan Finance.


Intan yakin jika platform yang dibuat nya sudah sesuai dengan kenyamanan dan keinginan para pelaku UMKM di semesta alam ini.


Tak mungkin ada platform yang berani rugi menerapkan sistem peminjaman seperti yang Intan gunakan.

__ADS_1


Kepuasan konsumen biasanya akan mengalirkan cerita tentang manfaat dan kenyamanan penggunaan aplikasi Intan Finance dari mulut ke mulut, dari jari ke jari, apalagi dibantu dengan iklan sosial media yang masif.


Tak pakai bunga, tak pakai jaminan, di pantau oleh badan otorita setempat, jumlah pinjaman di sesuaikan dengan jenis usaha, survey di lakukan secara diam diam oleh tim ahli IT yang di ketuai oleh Chen.


Entah itu di retas ponsel nya atau menggunakan CCTV di sekitarnya, entahlah, Intan tak mau ambil pusing dengan hal-hal yang tidak dipahami nya.


Dia menyerahkan 100% kepada Chen dan tim nya.


Jika konsumen ingin mengajukan pinjaman diatas jumlah yang telah di tetapkan oleh Chen dan tim, maka peminjam wajib datang ke kantor untuk mengajukan kenaikan batas pinjaman melalui proposal pengajuan.


Hal tersebut akan masuk ke ranah pengembangan usaha, Bani sebagai CEO telah membentuk tim dibawah nya yang akan menangani hal-hal tersebut, karena pengembangan usaha memerlukan pendampingan usaha agar modal yang di keluarkan tidak akan sia-sia.


Peminjam modal pun akan dipaksa melakukan pengembangan diri dan wawasan dalam mengembangkan usaha nya melalui training dan workshop.


Mereka akan dipaksa untuk belajar dan belajar lagi dari kegagalan dan kegagalan harus bangkit lagi dan bangkit lagi, sampai akhirnya benar-benar sukses dan berkembang dengan sendirinya.


Mindset hidup nya akan dirubah dari yang arah konsumtif ke arah produktif.


Jangankan konsumen, Intan sebagai pemilik juga di paksa untuk belajar lagi dengan bertemu janji dan mengikuti berbagai workshop untuk pengusaha, semuanya sudah di atur Dewi untuk Intan.


Padahal Intan hanya ingin hidup santai di rumah bersama anak-anak mengantarkan dan menjemputnya sekolah.


Meskipun begitu, Dewi selalu membuat waktu sela, agar Intan bisa melakukan hal yang di inginkan nya tersebut.


Kedepan nya, bukan hanya Intan; Bani, Chen, Dewi, Ratna, bahkan Anita berkomitmen akan bergantian untuk mengantar maupun menjemput anak-anak.


Hari ini yang memiliki waktu luang menjemput anak-anak adalah Intan dan Bani, mereka berdua berangkat dari rumah menuju sekolah.


Begitu anak-anak menaiki mobil, Intan melihat anak-anak seperti tertekan dan tidak bersemangat menceritakan pengalaman sekolah nya di hari pertama.


"Adit..., Adel...., di sekolah tidak nyaman kah?


Kenapa tampang kalian seperti orang bete gitu?


Muka nya di tekuk, pakai acara cemberut dan manyun, bisa ceritakan sama ibu, ada apa?

__ADS_1


__ADS_2