
Semua persyaratan di siapkan, Marina mulai menjalankan ritual. Untuk sementara warung di tutup Hani, tetap saja pada pesanan catering wajib di siapkan. Semakin hari dia semakin sibuk, ada saja cobaan datang silih berganti. Bilqis menggendong bayinya sedangkan Darma beralasan lembur kerja yang mengharuskan dia berangkat lebih awal. Semua anggota keluarga ikut menyaksikan ritual bayi kedua Bilqis yang mulai di letakkan di atas kain mori putih.
Marina memotong pucuk rambut sang bayi, dia menabur bunga di atasnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara aneh. Petir yang menyambar meski langi tidak menurunkan hujan.
“Letakkan ini di bawah kolong tempat tidur anak mu” ucap Marina.
“Baik bu..” Bilqis beranjak mengambil benda yang di penuhi genangan air bunga itu.
Dia juga di beri beberapa penangkal, ini adalah ritual kedua untuk melepaskan bayinya dari gangguan makhluk yang mengincar tubuh bayinya. Di dalam pertemuan rapat, seperti biasa Darma selalu tidak hadir. Para staf dan anggota lainnya mulai berpikir kuris kosong yang tidak beralasan itu sumber ketidak seriusan kewajibannya dalam bekerja.
Penurunan, perpindahan tugas yang tidak lagi di bagian perkantoran. Darma terkejut dia di pindah ke bagian pengolahan di pabrik kelapa sawit. “Memangnya salah ku apa sampai di buang seperti ini?”
“Sudah terima saja Dar, kamu sih malas masuk kantor. Ketepatan pula rapat semalam semua tamu penting hadir. Udah ya aku sibuk, selamat menikmati tempat baru. Ahahah” sindir Usup.
Masuk ke wilayah daerah perebusan, pengolahan minyak. Mesin-mesin raksasa tersusun di dalamnya, suasana sangat panas. Di mulai proses tahap awal menerima brondolan kelapa sawit kemudian di rebus di dalam mesin. Buah di pisahkan dari tandan dan di masukkan kembali pada mesin dengan suhu tertentu. Tahap penghasilan minyak yang di ekstrak dari serat dengan langkah terakhir pada pemurnian.
Limbah atau tandan kosong banyak di ambil oleh para pekerja yang bekerja di dalam sana. Banyak yang memanfaatkan limbah padat untuk pupuk, makan ternak, bahan bakar dan lainnya.
“Hei orang baru penghuni lama, kamu nggak mau bawa pulang Limbah padat? Atau cangkang kosong?” tanya Dayat melirik kunci mobil yang di putar di tangannya.
“Nggak, udah kalian aja yang ambil.”
“Kamu nggak mau ikut kami ke warung mbak Centini. Pekerjanya bohai banget, kamu pasti betah. Banyak juga cewek-cewek dari luar yang masuk ke dalam.”
__ADS_1
“Ikutan deh, ahahah..”
Mata-mata pria liar melirik baju ketak membungkus tubuh wanita yang tersenyum menyuguhkan segelas teh manis panas. Parasnya menggoda, keahlian menundukkan para pria agar betah berama-lama di warungnya. Dia wanita yang sudah memiliki suami dan anak, tapi kebiasaannya mengganggu suami-suami orang seolah sudah mendarah daging.
Berpacaran pada para pekerja pabrik, uang masuk yang dia terima cukup bahkan lebih untuk modal berjualan. Hari ini dia ingin menjebak salah satu pria, di mulai setelah warungnya akan di tutup. Centini sengaja memanggil suaminya untuk menjemputnya.
Tawa canda, belaian dan rayuan berhasil membuat pria itu tidak tahan untuk mendekati Centini. Suaminya sangat terkejut melihat istrinya di goda pria lain. “Kurang ajar! Argh!”
Tanda bukti mengganggu istri orang, Centini tersenyum melihat suaminya meminta uang ganti rugi sebesar sepuluh juta rupiah.
Mengancam Kiman di laporkan ke polisi jika tiga hari lagi tidak membawakan uang yang dia minta. Pria itu ketakutan berjanji akan segera membayar karena tidak mau berurusan dengan pihak berwajib hingga merambat ke perkerjaannya.
“Uhuk apa? Si Kiman kena apes?” ucap Dayat terbatuk menyemburkan minumannya.
“Ya, bayangin kita harus bayar binik orang sepuluh juta cuy. Seperti harga perawan yang di ganggu saja” kata Haranja.
Pria yang tidak memikirkan anak dan istri, kerjaannya di rumah hanya bermalas-malasan. Dia tidak menanyakan kabar bayinya yang baru saja di obati pihak keluarga besannya. Melepaskan sepatu di sembarang tempat, sepulang bekerja dia mencari bantal merebahkan tubuhnya. Bilqis menggelengkan kepala, dia meletakkan sepatu di atas rak. Mengangkat kaki Darma yang tergantung dan menutup jendela.
Bilqis sedikit menjauhkan Lysa, dia memberi pembatas guling karena posisi tidur suaminya yang tidak beraturan. Kata lasak ingin dia sematkan, ya dia berpikir membuka dan menutup mata sama-sama tidak betah dalam satu titik.
“Aku harus lebih bersabar lagi menghadapinya, semua demi anak-anak ku” gumamnya.
Bayi keduanya baru berumur tujuh bulan, tapi dia akan mempunyai adik lagi. Kegiatan keseharian Bilqis lebih padat dalam mengurus anak-anaknya. Terlebih lagi keduanya masih balita, dia tidak pernah mengeluhkan kebiasaan buruk suaminya. Semua kesakitan dia telan, hingga di sore hari yang dingin. Suara ketukan pintu orang yang tidak di kenal adalah awal kesulitan hidup selanjutnya.
__ADS_1
“Darma! Bayar hutang mu! mana sih, kok lama kali buka pintunya.”
Seorang wanita membawa tas besar, kipas merah mengipasi arah wajahnya. Wanita itu sangat kasar mendorong pintu ketika Bilqis baru saja membukanya. Mengulur telapak tangan kiri yang terbuka lebar, berkali-kali dia menjerit meminta hutannya di bayar.
“Mana suami mu? bayar hutang! Bunganya terhitung dua kali lipat selama dua bulan!”
“Maaf anda ini siapa? Hutang apa saya tidak tau menahu.
“Jangan banyak alasan, kalian suami dan istri sama saja. Bilang sama suami mu besok di bayar hutangnya, atau aku akan menagih ke tempat kerjanya!”
Ketukan pintu berikutnya, seorang pria yang memakai yang tidak kalah mencolok dan aneh. Topi besar seperti orang mau membajak sawah, asap rokok mengepul berhembus ke wajah Bilqis yang menoleh dari jendela. Hari mulai petang, ada tamu laki-laki asing membuatnya tidak berani membuka pintu.
“Bapak cari siapa?” tanyanya dari jendela.
“Mana si Darma, aku mau dia membayar hutangnya yang sudah jatuh tempo.”
“Mas Darma belum pulang pak.”
“Kalau gitu aku akan menunggunya disini..”
Bilqis mengusap perutnya, dia tidak mau bertambah stress dengan masalah baru yang di ciptakan suaminya. Berhutang di luar sepengetahuan istri sudah kelewatan batas, dua penagih hutang dalam satu hari. “Siapa lagi yang berhutang pada mas Darma di luar sana?” gumamnya.
Kira-kira tiga jam pria itu menunggu sampai pergi sendiri sambil memecahkan sebuah pot di depan rumah. Ingin dia keluar memarahi, mengusir atau para tamu yang sewenang-wenang di rumahnya. Dari balik tirai dia memperhatikan banyak tetangga melihat bahkan mendengar para penangih hutang.
__ADS_1
Malam yang larut, gangguan makhluk halus mulai mengintai, Bilqis di atas kasur melihat bayi keduanya mulai gelisah. Di atas meja yang dia sediakan khusus keperluan anaknya agar tidak mondar-mandir ke dapur. Termos panas, botol susu, ember kecil dan keranjang popok. Dia mengayun menenangkan sambil melirik jam dinding.
“Mas Darma lama sekali pulangnya! Aku harus menelepon sekarang”