Istana Pasir II

Istana Pasir II
Pilu


__ADS_3

Menelan racun yang di berikan Darma setiap hari. Bilqis pasrah akan jalannya, kini alasannya masih bisa bernafas adalah demi anak-anaknya.


Buku harian penyambung jeritan hati ku yang terkoyak.


Langit mendung tidak pernah memberikan lagi secercah sinar penghangat jiwa. Perjalanan waktu menyulitkan langkah berjalan melewati musibah. Ada kalanya fase manusia terasa lelah, luka baru bertumpukan di atas luka yang belum sembuh. Dunia di singgahi segala seluk beluk kejadian hidup.


Setengah sadar diri ini menjalani kehidupan bersama pria yang perlahan mau membunuh lahiriah dan batiniah.


Puncak bahtera rumah tangga yang di pertaruhkan memasuki tahun ke empat, kisah cinta suami yang tidak pernah berhenti berpetualang melalang buana mencari wanita-wanita pilihan yang ingin dia nikmati.


...❄❄❄...


“Aku ini gadis bodoh atau buta? Aku hanya bisa memberontak, menangis lalu ketika dia pergi aku menunggunya pulang di depan pintu” gumam Bilqis mengeringkan air matanya.


Bilqis terkejut mendengar suara berisik dari dapur. Dia yakin ada yang tidak beres, tangan meraih gagang sapu melangkah melirik terkejut melihat suaminya seperti maling yang menerobos rumahnya sendiri.


“Kamu kok pulangnya dari belakang mas? Mobil kamu mana? Seharian aku di kejar-kejar para penagih hutang. Kamu udah puas buat anak istri menderita? Aku lagi mengandung dan kamu tetap main gila? Hah?”


Kedua anaknya menangis, Lysa berjalan tertatih memeluk ibunya. Darma yang akan mengulurkan tangan menggendong di tolak gerakan meraung tidak mau di gendong ayahnya. Bilqis mengangkat Lysa ke kamar, dia mengusap punggung lalu menggendong Anyelir. Mengganti popok, memberikan botol dot susu formula hangat, perlahan bayi-bayinya kembali tenang.


Dia adalah wanita pengangguran yang hanya menunggu uluran tangan suami. Berpikir minta bercerai I tengah masa hamil melibatkan beban ke orang tua membuat dia akan menjadi anak yang durhaka. Orag tuanya sudah terlalu banyak memikirkan permasalahan anak, cucu dan menantu.


Tapi rasa panas yang membakar di hatinya terlalu membara. Dia yakin di luar sana pasti ada pekerjaan halal yang siap menampung ibu dua anak. Air mata menetes, dia tidak sanggup lagi menanggung penderitaan yang berlarut-larut. Tapi tetap saja hatinya masih berat sebelah, antara meninggalkan Darma atau tetap menjadi istri pelengkap yang harus patuh menunggunya di rumah.

__ADS_1


“Malam-malam begini kau mau kemana? Ma buat malu gitu biar jadi tontonan orang-orang kalau istri si Darma keluar rumah bawa anak-anaknya?”


“Jadi aku yang salah? Atas semua tindak tanduk kelakuan bejat mu dan di tengah masa kehamilan anak ketiga aku harus menanggung aib baru. Di hina para penagih hutang. Jelaskan pada ku mas, untuk apa semua uang-uang itu?”


“Aku banyak pengeluaran, kau tidak tau kan aku di turunkan ke bagian pengolahan. Pekerjaan ku sangat berat. Kau jadi istri hanya tau aku pulang bawa gaji"


“kalau kau merasa terbebani, tidak mau bertanggung jawab. Biar aku yang pergi, gaji mu juga kurang untuk biaya makan dan keperluan sehari-hari. Hutang di kedai menumpuk, untung ibu sering mengirim makanan.”


Bilqis meneruskan memasukkan perlengkapan bayinya ke dalam tas.Tangan kasar Darma merampas tas, isinya tumpah berserakan di atas lantai. Bilqis yang tidak tahan melihat Darma memilih diam memungutinya.


“Jangan halangi aku mas, kau boleh menikah lagi dengan wanita pilihan mu. Orang tua dan saudara mu pasti mendukung.”


“Kau sebagai istri bukannya menenangkan aku malah cari ribut! Hah!”


“Bu Hani, saya mau ngomong..”


“Ada apa bu Dila, kok serius sekali raut wajahnya? Sebentar lagi ya bu, saya bungkus pesanan pelanggan dulu.”


Selesai menutup warung, mereka berdua berbincang-bincang mengenai rumah tangga Bilqis. Jawaban tergambar dari kerutan dahi Hani, dia sudah lama mengetahui semua kejahatan menantunya itu. Hani berterimakasih pada Dila yang memperhatikan Bilqis. Dia minta agar memberi kabar jika terjadi hal yang tidak di inginkan.


Dalam panggilan suara, Vera meluapkan dendam yang tidak tersampaikan itu pada Titin. Rencananya menghancurkan Biqis tidak boleh gagal, dia mengancam berhenti memberikannya uang kalau kesempatan terakhirnya tidak terlaksana dengan baik.


Titin tidak mau kehilangan kesempatan menikmati uang gratis, dia pergi ke dukun mencari pengasihan dan kecantikan yang membuat Darma tidak mau kehilangannya. Dia menemui pria itu di tempat kerjanya, kedatangannya membuat mata para pria yang ada di dalam pabrik pengolahan melihat tubuhnya dari atas sampai bawah sambil bersiul.

__ADS_1


”Gila! Pemandangan langkah nih ada cewek cantik masuk kesini. Cewek siapa sih?” tanya Dayat menghentikan pekerjaannya.


“Bukan, selingkuhan aku si hitam manis mbak jamu gendong yang biasa mangkal. Sekalipun iya, mana mungkin dia mau memijakkan kaki ke sini. Tuh lihat sepatu mahalnya kena minyak” jawab Koko.


Keduanya mendekati wanita yang melingak-linguk itu, tatapan tidak mau lepas melihat belahan bagian depan bajunya yang sangat seksi. “Uhuk, ehem. Permisi mbak cari siapa?” tanya Dayat berdiri sedikit lebih mendekat.


“Cari mas Darma, kok nggak kelihatan ya?”


“Logatnya anak kota cuy. Dia kesasar kali ya?” bisik Koko di telinga Dayat yang terus tersenyum tanpa henti.


“Eh Darma belum datang, ini udah lewat jam masuk. Mbak coba cari di rumahnya..”


Kedatangan Tata menjadi perbincangan hangat di warung, para karyawan lain tidak menyangka Darma doyan berselingkuh. Pak Tumin menggelengkan kepala, dia tidak mau menambah bumbu cerita baru. Sebagai tetangga jarak sejengkal dari rumah, dia yang paling tau semua berita mengenai tetangga yang tidak pernah menyapanya itu.


Mobil habis di jual, dia menjemput Tata mengendarai sepeda motor yang baru saja dia beli. Tata melotot melihat penampilan suami orang yang dia goda itu turun level dan kalah banting dengan semua barang-barang branded senilai puluhan juta yang dia kenakan.


“Mobil kamu kemana mas?”


“Lagi di show room. Yuk sayang..”


Dering ponsel berdering, dia mengabaikan semua panggilan masuk dari istrinya. Di dalam merajut cinta terlarang, Tata mendesak Darma menikahinya. Dia mengiming-iming memberikan anak padanya. Anak laki-laki yang di dambakan Darma.


“Nanti setelah istri ku melahirkan anak ketiga kami. Aku tau pasti yang keluar perempuan lagi. Disitu aku punya alasan untuk menceraikannya di depan keluarganya. Jadi nama ku tetap bersih begitu juga dengan kamu sayang..”

__ADS_1


“Ah mas Darma bisa aja, habis ini kita shopping ya mas. Jangan pelit-pelit dong sama Tata. Jauh banget perjalanan buat ketemu kamu mas..”


__ADS_2