
Membuka mata melihat jarum infus yang menempel di tangannya. Langit-langit ruangan Rumah Sakit memperlihatkan sarang laba-laba hitam tepat di atas kepalanya. Antara sadar dan tidak, dia melihat bayangan hitam besar mendekati menutup wajahnya. Telapak tangan besar menekan kuat, dia tidak bisa bernafas. Gerakan perlawanan, tubuhnya jatuh terbanting. Suara panggilan Marina menyadarkannya.
“Minum ini..” wajah Marina melingak-linguk memastikan tidak ada suster yang melihatnya.
Di ruangan intensif, perawatan pada pasien sangat terjaga. Marina mendorong gelas supaya Risa cepat menghabiskan air berwarna merah di dalam gelas. “Huek, apa ini bu?”
“Ini obat untuk mu, yang penting kamu sembuh.”
Marina membantunya naik ke atas kasur. Tubuhnya yang semula terasa lemas menjadi bertenaga. Keinginannya hanya satu, segera pulang untuk memberi ganjaran pada si pelakor. Dia meminta ibu mertuanya agar tidak mengijinkannya pulang. Dia memohon agar membantu mengatakan pada suaminya untuk menyetujui keinginannya.
Hati dan pikirannya tenang bisa kembali pulang dan berkumpul bersama anak-anaknya. Walau belum sepenuhnya stabil, Risa mulai melakukan aktivitas pekerjaan rumah. Pekerja rumah tangga tidak bisa memahami hal-hal terperinci urusan rumah. Kebanyakan hanya menjalankan tugas garis besarnya saja.
“Nek Jumik, tolong bilang ke Yuni jangan lupa memberi makan anak-anak. Saya ada urusan penting besok.”
“Baik nyonya..”
Ibu Mertuanya pulang ke rumah di antar supir pribadi. Suaminya beralasan ada rapat mendadak, tidak menutup peluang besar dalam pikiran Risa adalah rapat pertemuan dengan selingkuhan suaminya. Kira-kira pukul 22:00 WIB, dia mencari bungkusan yang dia simpan di sakunya. Berpikir benda itu telah hilang menyerah mencari setelah membongkar lemari pakaiannya.
Menuruni tangga, bertanya pada para pekerja apakah menemukan benda yang tersimpan di dalam selipan bajunya. Nek Jumik tangannya bergetar memberikan bungkusan itu kepada Risa.
“Benda mematikan ini, nyonya dapat dari mana?” tanya si nenek ketakutan.
“Saya menemukannya di suatu tempat nek, saya penasaran apa isi di dalamnya..”
__ADS_1
Di halaman belakang rumah, Risa di temani pekerjanya membuka menggunakan pisau yang sangat tajam. Di dalam ada beberapa paku, silet, serpihan kaca dan boneka kecil yang menyerupai orang-orangan. Risa terkejut tidak mengira suaminya berani menggunakan benda-benda ritual.
“Tapi kalau memang suami ku menyimpan benda ini. Untuk siapa dia menggunakannya?” gumam Risa.
“Astagfirullah al’adzim, ayo kita bakar saja benda santet ini nyonya. Bibi yakin ini untuk mengguna-guna seseorang”
Api yang menyala membakar kain dan isinya membentuk asap aneh. Bau kemenyan menyengat, nek Jumik menarik Risa menjauh. Sosok hitam mengintai, pintu terbuka tutup tanpa ada angin yang membantingnya. Menurut kepercayaan orang jaman dahulu, pintu rumah di pasangi sapu lidi yang di berdiri kan. Nek Jumi membacakan bismillah menegakkan sapu lidi berukuran pendek di pintu. Meski lampu masih menyala, dia menghidupkan lilin dan meletakkan di kamar yang di tempati setiap penghuni rumah.
Malam di guyur hujan lebat, Risa terlelap sambil memeluk kedua anaknya.
Pagi-pagi sekali dapur tersaji bubur, susu hangat dan roti bakar. Risa tidak ada di kamarnya, tangisan Raka dan Riki membangunkan kedua pekerja yang semalam terjaga. Yuni melihat kamar Risa terbuka, kedua anaknya menangis. Wanita itu menggendong kedua nya, menahan berat sampai mendudukkan ke kursi makan.
“Nyonya tadi berpesan sama bibi kalau den Raka dan Riki harus menghabiskan sarapan yang di buat khusus untuk aden berdua..”
Risa mencari alamat wanita yang bernama Mora. Di sebuah apartemen mewah kamar lima kosong tiga, dia membayar mahal petugas untuk mendobrak kamar si wanita perebut suaminya. Di dalam, wanita yang berpakaian seksi itu terkejut kamarnya di dobrak paksa dua pria berpakaian petugas.
“Kurang ajar! Kalian tau siapa aku? Akan ku laporkan kalian pada mas Adit!” bentak Mora.
Risa berdiri di depan menampar, merobek bajunya lalu mencakar wajahnya dengan kukunya yang tajam. Dia mengancam akan membunuh bahkan menghantuinya seumur hidup kalau berani mengganggu suaminya lagi.
“Kau adalah wanita murahan, sampah yang harus di berantas. Memaafkan pelakor seperti mu sama saja membunuh diri sendiri. Kau menghancurkan rumah tangga ku Mora! Wajah cacat mu tidak akan membuat suami terpikat lagi! Ahahah!”
Di kehamilan anak ketiga, Bilqis harus menjalani operasi cesar. Bayi tujuh bulan telah lahir ke dunia berjenis kelamin laki-laki. Wajah bahagia Darma mendengar kabar itu. Di luar kamar bayi, dia tersenyum melihat dari kaca pembatas.
__ADS_1
Perlahan wajahnya murung, dia sudah terlanjur janji dengan Mawar, Titin dan wanita lain akan menikahi mereka semua.
“Aku sudah terlanjur cinta dengan keduanya sedang yang lainnya masih bisa aku pertimbangkan. Mawar tidak bisa jauh dari ku, dia rela menjadi yang kedua. Besok pernikahan sirih kami akan di gelar di kota C. Aku harus menanggung konsekuensi atas tindakan ku ini” gumam Darma.
Perbedaan melahirkan normal, masa pemulihan yang cepat sembuh dan tubuh leluasa bergerak tanpa harus lebih intensif terlebih lagi ekstra hati-hati dalam merawat luka jahitan.
Satu kali dua puluh empat jam, suster yang berjaga membantu mengangkat bayinya agar di beri ASI Bilqis. Wanita itu sulit memiringkan tubuh ke kanan, dia tetap berusaha sekuat tenaga di dalam menahan rasa perih. Berdua di dalam ruangan bersalin terkadang di ganggu penampakan sosok pocong dan makhluk halus yang keluar masuk dari pintu. Kasur-kasur kosong, tirai besar, suara air keran yang menetes nyaring menerbangkan suara cekikikan kuntilanak yang mulai mendekatinya.
“Aku harus kuat demi anak-anak ku” gumam Bilqis.
Suara dorongan pintu, ada Hani membawa kedua anaknya. Kepalanya terasa sangat pusing sampai nafasnya sangat sesat. Hani memperhatikan perubahan pada anaknya, dia berlari memanggil suster sambil menggendong cucunya yang mulai gelisah.
Lysa memanggil Bilqis yang tidak sadarkan diri, dia menangis ibunya tidak menjawab sahutnya. Setengah sadar dia bertanya dimana ayahnya, kegilaan Darma menggandeng wanita lain tersenyum melihatnya.
“Halo mbak Bilqis, kamu kapan matinya?” bisik wanita itu.
Dia menggendong Lysa, menyenderkan kepalanya di dada Darma. Hani yang datang bersama suster terkejut melihat tingkah menantunya. Dia menarik telinga menantunya itu sampai bunyi daun tulang yang retak.
“Kurang ajar kau Darma! Teganya kau berbuat seperti ini pada anak ku! pergi kau! kau bukan menantuku lagi! Bawa wanita murahan ini atau aku akan menghajarnya!” bentak Hani menjerit bernada tinggi.
“Ayo kita pergi mas! Aku takut sekali.”
“Jangan sentuh cucu ku! berikan pada ku!”
__ADS_1
Hani gelap mata melemparkan gelas ke kepala Titin. Wanita itu menjerit kesakitan, kulitnya yang halus terluka. Wajah membasuh darah yang mengalir deras. “Tidak! Wajah ku yang cantik!” Titin histeris berlari mencari cermin.